Seputar Kirab Obor Asian Games, ternyata bahan bakarnya …

Torch Relay Kirab obor Asian games ke-18, saat tiba di Solo dimeriahkan oleh Dian Sastro Wardoyo (sport.detik.com)

Kamis(19/7) pagi kemarin sempat melihat beberapa ruas jalan kota Jogja ditutup, dan beberapa anak-anak sekolah berada dipinggir jalan membawa bendera merah putih kecil, seakan menyambut sesuatu.

Ternyata ada rangkaian acara untuk kirab obor atau Torch Relay Asian Games. Dan Yogyakarta menjadi kota pertama sebagai titik awal dalam kirab obor yang akan di kirab mengelilingi kota ke kota se Nusantara, secara estafet menuju Gelora bung Karno sebagai tempat ajang simbolis pembukaan event olahraga se-Asia tenggara ini. Dimulai dari pagelaran Keraton Yogyakarta menuju beberapa titik di kota Jogja, di tugu Jogja dan melintas di beberapa ruas jalan dan menuju kota Solo.

Sempat terbesit, apinya yang diambil dari gabungan api dari New Dehli-India & api abadi Mrapen-Grobogan Jawa Tengah ini, koq gak mati-mati ya?

Dan uniknya api di obor ini dipertahankan/ tanpa mati( ada cadangan) hingga tempat tujuan perhelatan. Dan disetiap kota(53kota) yang dilalui, api obor dipertahankan hidup pafa suatu tempat ‘mini cauldron’ dengan menggunakan bahan bakar gas elpiji Pertamina.

Ini nih berita selengkapnya yang saya kutip dari website Pertamina.com

PT Pertamina (Persero) terus menunjukkan komitmennya menyukseskan perhelatan akbar Asian Games yang akan digelar pada Agustus mendatang. Pesta olahraga terbesar di benua Asia ini, ditandai dengan rangkaian Torch Relay atau Kirab Obor Asian Games 2018 yang dimulai pada 19 Juli 2018 di Kota Yogyakarta.

Dalam rangkaian Kirab Obor Asian Games 2018, Pertamina turut berkontribusi dengan memberikan 81 tabung Elpiji 50 kg untuk mendukung Torch Relay dan Mini Cauldron sebagai tempat untuk menyalakan obor di sepanjang jalur yang dilalui. Elpiji Pertamina akan disediakan di 43 titik yang tersebar di 53 kota pada 18 Provinsi.

Vice President Corporate Communication, Adiatma Sardjito, menyatakan untuk membangun awareness publik dan meningkatkan antusiasme masyarakat agar ikut menyemarakkan event tersebut, Kirab Obor Asian Games 2018 sangat penting.

Sebagai perusahaan negara dan menjadi salah satu sponsor Asian Games 2018, Pertamina senantiasa terlibat pada tahapan perhelatan olahraga akbar regional tersebut, termasuk saat Kirab Obor.

Sumbangsi Pertamina diwujudkan dengan menyediakan bahan bakar LPG di sejumlah titik yang akan dilewati obor. Kami akan memastikan bahan bakar yang dibutuhkan untuk menyalakan obor tersedia dengan baik,” kata Adiatma.

Sebagaimana diketahui, rencananya Kirab Obor Asian Games 2018 tersebut akan dibawa mengelilingi kota-kota di Indonesia dari Aceh sampai Papua dengan menempuh 18 ribu km.

Api Obor Asian Games 2018 mulai diarak dari Kota Yogyakarta pada Kamis, 19 Juli 2018 dan akan berakhir di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Torch Relay ini diselenggarakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak 19 Juli 2018 dan akan sampai di Gelora Bung Karno pada tanggal 18 Agustus 2018 sebagai rangkaian menuju opening ceremony Asian Games 2018.

Menurut Adiatma, dukungan yang diberikan Pertamina tak hanya berupa support elpiji untuk kirab obor. Pertamina juga membangun gedung Bowling Center di Jakabaring Sport City, Palembang dan memberikan bantuan dengan nilai total sebesar Rp 117 Miliar, termasuk bentuk support berupa barang dan jasa.

Advertisements

Bright Gas Kini hadir dalam kemasan tabung 3Kg

Launching Bright Gas 3 kg

Ibu-ibu khususnya yang berada di Jakarta dan Surabaya, Jangan heran yach jika saat ini anda akan melihat atau akan ada tabung gas 3 kg berwarna pink  (merah muda). Biasanya atau lazimnya khan tabung gas elpiji 3 kilogram berwarna hijau. Lalu kenapa ada yang berwarna pink?

Hal ini dikarenakan pihak PT Pertamina (Persero) kembali memberikan pilihan varian baru produk LPG Bright Gas, untuk kemasan 3 kg.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa tabung gas elpiji warna pink atau ungu (yang awalnya ada dalam kemasan tabung 5 kg dan 12 kg, juga ada yang kemasan mini 250 gram) dinamakan Bright Gas dan ditujukan untuk konsumen kelas menengah ke atas, atau bisa dikatakan gas elpiji  non-subsidi.

Mulai hari Selasa (3/7/3018) kemarin, produk LPG non subsidi berwarna pink fuschia tersebut diujipasarkan secara terbuka di dua kota besar, Jakarta dan Surabaya, dengan total 5.000 tabung.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Pemasaran Retail Mas’ud Khamid di hadapan insan pers, di SPBU Coco Kuningan Jakarta. Turut hadir mendampingi, Vice President Gas Domestik (Gasdom) Pertamina Kusnendar, GM MOR III Pertamina Erry Widiastono dan Direktur Utama PT Pertamina Retail Sofyan Yusuf.

Menurut Mas’ud, produk Bright Gas 3 Kg ini diluncurkan sebagai wujud komitmen Pertamina untuk memberikan layanan terbaik bagi konsumen kelas menengah yang mampu secara ekonomi dan bukan penerima LPG subsidi.

“Seperti keluarga muda yang tinggal di kawasan apartemen membutuhkan tabung gas yang aman, ringan dengan ukuran tidak terlalu besar serta mudah dipindahkan,” ujar Mas’ud memberikan contoh.

Produk LPG Bright Gas 3 Kg ini akan didistribusikan secara bertahap dan bisa didapatkan oleh konsumen di SPBU hingga apartemen tertentu.

“Khusus wilayah Jakarta, kami menyediakan 3.500 tabung Bright Gas 3 Kg yang akan didistribusikan dengan kisaran harga Rp 39.000- Rp 40.000 rupiah per tabung,” ujarnya.

Mas’ud menegaskan, dengan hadirnya Bright Gas 3 Kg, pengguna LPG subsidi 3 Kg tak perlu khawatir karena stok tak akan dikurangi dan distribusi dipastikan lancar. “Yang berhak mendapat subsidi dipastikan aman ketercukupannya. Kami tak ada rencana mengurangi LPG subsidi dan benar-benar hanya akan disalurkan kepada penerima yang berhak,”imbuhnya.

Uji pasar Bright Gas 3 kg akan dilakukan selama 6 bulan dengan strategi marketing dan distribusi untuk melihat sejauhmana produk ini diterima masyarakat.

Semantara itu, Vice President Gas Domestic Pertamina Kusnendar menyampaikan, Bright Gas 3 Kg memiliki isi sama dengan LPG 3 Kg subsidi. Perbedaannya, produk dijual dengan harga pasar, memiliki warna tabung menarik dengan sticker hologram dan double spindle valve system sehingga lebih aman dan praktis.•RINA/ft. ADITYO (sumber : Pertamina.com)

BBM Satu Harga, maksud nya apa ya?

BBM satu harga _ source : Tirto.id

Bila ada yang masih atau belum tau tentang maksud dan tujuan BBM(Bahan Bakar Minyak) satu harga, yuuuk mari kita simak beberapa kutipan yang berhasil penulis kumpulkan berikut ini…

Teori hukum Satu harga menjelaskan tentang hubungan antara nilai tukar atau kurs dengan barang atau komoditi. Menurut hukum ini, komoditas yang sama akan memiliki harga yang sama, meskipun dijual ditempat yang berbeda.(ardra.biz)

Menurut gambar di atas, sejarah  BBM Satu Harga dimulai pada tahun 2016, yang diresmikan oleh bapak Presiden Joko Widodo di Papua. Landasan hukum dari BBM Satu Harga adalah Perpres No. 191/2014, serta Permen ESDM No. 39/2016. Di tahun 2017 lalu, Pertamina merealisasikan program ini di 30 titik ( masih kurang 16 titik dari target). Di 2019 mendatang, Pertamina harus merealisasikan program BBM Satu Harga ini di 150 titik.

Kendala BBM Satu Harga :

  • Lokasi titik berada di daerah Terpencil, Terluar dan Terdepan (3T) yang sulit dicapai
  • Ada pengecer yang memborong BBM di penyalur BBM Satu Harga untuk dijual kembali

 

Wilayah Indonesia terdiri lebih dari 1.700 pulau, dipisahkan atau dipersatukan laut. Dengan demikian membuat banyak daerah terpencil, terutama perbatasan dengan negara lain, seperti Kalimantan Utara dan Maluku bagian Utara. Belum lagi wilayah timur Indonesia yang berupa pegunungan lembah seperti di Papua.

Bukan rahasia, selama ini harga berbagai komoditas di wilayah Timur Indonesia, terutama Papua tidak masuk akal. Di kota Yahukimo, bensin bisa dibeli dengan harga normal, paling lama hanya sepekan. Ketika persediaan di APMS (Agen Penyalur Minyak dan Solar) ada.

Bila persediaan habis, harga di pengecer bisa gila-gilaan. Harga bensin di Wamena misalnya bisa mencapai Rp70 ribu ter liter, bahkan di pelosok Kabupaten Puncak sampai Rp100 ribu. Begitu pun dengan harga komoditas lain. Harga per sak semen misalnya, bisa mencapai Rp800 ribu, bahkan lebih dari Rp1 juta di Puncak Jaya. (Beritagar.id)

Betapa pun, katanya, ia masih bisa memaklumi kenaikan harga BBM di tingkat pengecer selama masih berada dalam batas kewajaran.

“Di luar pom bensin harganya naik sedikit wajar karena ada yang mengambil keuntungan. Tapi kalau harganya (premium) kemudian menjadi Rp25.000 per liter, itu tidak wajar. Harganya ada yang Rp40.000 itu juga tidak wajar karena belinya hanya Rp6.450 per liter. Itu yang menjadi catatan saya,” ujar Presiden sekaligus menutup sambutan saat meresmikan kebijakan BBM satu harga.(bbc.com)

 

BBM Satu Harga, Upaya Pertamina Wujudkan Ekonomi Pancasila

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina menerapkan ekonomi Pancasila dalam program kerjanya. Salah satunya melalui program BBM Satu Harga yang merupakan implementasi dari sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Utama Pertamina Massa Manik saat menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional bertajuk ‘Ekonomi Pancasila di Era Jokowi : Konsep, Tantangan dan Implementasi’ di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Sebagai salah satu unsur dalam pilar perekonomian Indonesia yang berpedoman pada Pancasila, Massa mengakui, Pertamina tidak hanya sebatas mengejar keuntungan bisnis, namun juga berorientasi pada pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat secara keseluruhan berdasar pada nilai moral kemanusiaan.

“Pertamina itu akta perusahaan adalah korporasi dan penugasan. Jadi kalau ditugaskan, harus dijalankan. Memang kami harus menjalankan penugasan. Salah satu programnya, tahun lalu kami bisa mencapai target BBM satu harga 54 titik dan tahun ini 67 titik. Total targetnya 150 titik,” terang Massa Manik.

Dalam kesempatan itu, Massa juga menjelaskan tentang berbagai tantangan yang harus dihadapi Pertamina. Karena itu, ia mengharapkan dukungan dari seluruh pihak agar Pertamina dapat mewujudkan ekonomi Pancasila sehingga mampu mencapai ketahanan energi di tahun 2030. “Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam melaksanakan penugasan demi keadilan sosial, demi mencapai ketahanan energi, sesuai dengan kebijakan pembangunan pemerintahan Presiden Joko Widodo,” pungkas Massa.

Sementara itu, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latief menyatakan di masa Pemerintahan Presiden Jowo Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), ekonnomi Pancasila tercerminkan dalam salah satu butir Nawa Cita sebagai program utama pemerintah. Yaitu, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Sejatinya, ekonomi Pancasila sendiri telah lama digagas oleh Prof. Emil Salim dan Prof. Mubyarto.*SEPTIAN (pertamina.com)

Ini nih bukti dari BBM Satu Harga yang penulis kutip dari pertamina.com :

BBM Satu Harga

Di dalam foto diatas, yang merupakan Daftar harga terbaru BBK TMT 1 Juli 2018, dari Sabang (Nangroe Aceh Darussalam) 7.800 hingga Merauke (Papua Barat) 8.000. Harga Pertalite hampir sama, tidak jauh berbeda, selisih dibawah seribu rupiah.

Ini yang dimaksud dengan BBM Satu Harga, begitu pula dengan harga BBM lainnya, mulai dari Premium hingga Minyak Tanah, baik subsidi maupun non-subsidi, harga hampir sama.

 

Well, demikian sedikit mengenai BBM Satu Harga, semoga bermanfaat

Berikut Penjelasan Pertamina mengenai Penyesuaian Harga BBK TMT 1 Juli 2018

ilustrasi- Pertamax

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya bahwa mulai hari Minggu tanggal 1 Juli 2018 kemarin, harga Bahan Bakar khusus yakni bahan bakar bukan premium. Bahan Bakar Khusus (BBK) meliputi Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Racing, Dexlite, Pertamina Dex, Solar Non-subsidi & Minyak Tanah Non-subsidi.

Lalu apa penjelasan dari PT. Pertamina mengenai Penyesuaian Harga ini? Dikatakan penyesuaian dikarenakan dibeberapa daerah di wilayah timur Indonesia mengalami penurunan harga.

Berikut penjelasan yang saya kutip dari laman resmi nya…

PT. Pertamina (Persero) menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya Pertamax Series dan Dex Series mulai hari ini dan berlaku di SPBU seluruh Indonesia. Harga Premium, Solar dan Pertalite tidak naik.

Untuk daerah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Gorontalo harga Pertamax diturunkan. Hal ini dimaksudkan utk mendorong penggunaan BBM berkualitas dan disesuaikan dengan daya beli Masyarakat. Sebagai contoh di Maluku dan Papua, harga Pertamax diturunkan menjadi Rp 9.700/liter.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito mengemukakan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex, merupakan dampak dari harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik dimana saat ini harga minyak dunia rata-rata mencapai 75 dolar per barel.

“Bahan baku BBM adalah minyak mentah, tentunya ketika harga minyak dunia naik akan diikuti dengan kenakan harga BBM,” ungkap Adiatma.

Adiatma menambahkan penyesuaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex tersebut, dilakukan Pertamina sebagai badan usaha, dengan mengacu pada Permen ESDM No. 34 tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014, Tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.

Atas ketentuan tersebut, maka Pertamina menetapkan harga Pertamax untuk wilayah DKI Jakarta Rp 9.500/liter, sementara Pertamax Turbo Rp 10.700/ liter. Sedangkan untuk Dex Series, ditetapkan harga Pertamina Dex Rp 10.500/liter, dan Dexlite Rp 9.000/liter.

“Penyesuaian harga ini juga dalam rangka Pertamina tetap bisa bertahan untuk menyediaakan BBM dengan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan secara terus menerus sehingga tidak mengganggu konsumen dalam beraktifitas sehari-hari dimanapun,” tambahnya.

Pertamina juga mengapresiasi masyarakat yang setia menggunakan BBM berkualitas, ramah lingkungan dan sesuai dengan spesifikasi kendaraannya. Karena itu perubahan harga BBM Pertamax Series dan Dex Series, menurut Adiatma masih lebih kompetitif. “Kami senantiasa memberikan BBM dengan kualitas dan harga terbaik bagi konsumen setia Pertamina,”imbuhnya.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya bahwa mulai hari Minggu tanggal 1 Juli 2018 kemarin, harga Bahan Bakar khusus yakni bahan bakar bukan premium. Bahan Bakar Khusus (BBK) meliputi Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Racing, Dexlite, Pertamina Dex, Solar Non-subsidi & Minyak Tanah Non-subsidi.

Lalu apa penjelasan dari PT. Pertamina mengenai Penyesuaian Harga ini? Saya katakan penyesuaian dikarenakan dibeberapa daerah di wilayah timur Indonesia.

 

Pertalite, Solar & Minyak Tanah Naik Harga, Berikut Daftar Harga BBK tmt 24 Maret 2018

Premium, Pertalite, Pertamax

Terhitung mulai hari ini Sabtu, (24/03), bahan bakar non subsidi atau bisa kita sebut bahan bakar khusus (BBK), mengalami perubahan atau kenaikan harga dibanding dengan harga (tepat) satu bulan lalu (24/02), namun tidak semua BBK mengalami kenaikan harga, hanya Pertalite, Solar dan Minyak Tanah saja. Pertalite & Solar  naik harga 200 rupiah perliternya, sedangkan Minyak Tanah mengalami.kenaikan harga yang cukup signifikan yakni naik sebesar 800 rupiah perliternya.

Untuk baha bakar yang lainnya harga masih stabil atau sama dengan harga bulan lalu.

Berikut Daftar Harga BBK Tmt 24 Maret 2018 untuk seluruh wilayah di Indonesia

 

WILAYAH PERTALITE PERTAMAX PERTAMAX
TURBO PERTAMAX
RACING DEXLITE PERTAMINA
DEX SOLAR
NON-SUBSIDI MINYAK TANAH
NON-SUBSIDI*
Prov. Nanggroe Aceh Darussalam 7,800 9,000 10,200 44,500 8,100 10,500 8,000 10,450
Prov. Sumatera Utara 7,800 8,900 10,200 44,500 8,100 10,000 8,000 10,450
Prov. Sumatera Barat 7,800 9,000 10,200 44,500 8,100 10,200 8,000 10,450
Prov. Riau 8,150 9,000 10,200 – 8,400 10,550 8,550 10,450
Prov. Kepulauan Riau 8,150 – 10,350 – 8,400 10,100 8,600 10,450
Kodya Batam (FTZ) 8,150 – 10,200 – 8,400 9,400 7,550 10,450
Prov. Jambi 8,000 9,000 10,200 – 8,250 10,550 8,250 10,450
Prov. Bengkulu 7,800 8,900 – – 8,100 10,250 7,950 10,450
Prov. Sumatera Selatan 8,000 9,000 10,200 – 8,250 10,100 8,250 10,450
Prov. Bangka-Belitung 8,000 9,000 – – 8,250 11,600 8,250 10,450
Prov. Lampung 8,000 9,000 10,200 – 8,250 10,100 8,250 10,450
Prov. DKI Jakarta 7,800 8,900 10,100 42,000 8,100 10,000 7,700 10,450
Prov. Banten 7,800 8,900 10,100 42,000 8,100 10,000 7,700 10,450
Prov. Jawa Barat 7,800 8,900 10,100 42,000 8,100 10,000 7,700 10,450
Prov. Jawa Tengah 7,800 8,900 10,150 – 8,100 10,100 7,800 10,450
Prov. DI Yogyakarta 7,800 8,900 10,150 – 8,100 10,100 7,800 10,450
Prov. Jawa Timur 7,800 8,900 10,150 43,500 8,100 10,100 7,800 10,450
Prov. Bali 7,800 8,900 10,150 43,500 8,100 10,200 7,900 10,450
Prov. Nusa Tenggara Barat 7,800 9,000 10,200 – 8,100 10,250 7,900 10,780
Prov. Nusa Tenggara Timur 7,800 9,600 11,650 – 8,100 10,250 8,000 11,000
Prov. Kalimantan Barat 8,000 9,100 10,300 – 8,250 10,900 8,150 10,560
Prov. Kalimantan Tengah 8,000 8,900 – – 8,250 10,900 8,150 10,560
Prov. Kalimantan Selatan 8,000 8,900 10,300 – 8,250 10,900 8,150 10,560
Prov. Kalimantan Timur 8,000 8,900 – – 8,250 10,900 8,150 10,560
Prov. Kalimantan Utara 8,000 8,900 – – 8,250 10,900 8,250 10,560
Prov. Sulawesi Utara 8,000 9,400 11,300 – 8,250 – 8,100 10,780
Prov. Gorontalo 8,000 9,800 11,300 – 8,250 – 8,100 10,780
Prov. Sulawesi Tengah 8,000 9,300 11,300 – 8,250 11,550 8,100 10,780
Prov. Sulawesi Tenggara 8,000 9,400 11,300 – 8,250 11,550 8,100 10,780
Prov. Sulawesi Selatan 8,000 9,100 11,300 – 8,250 11,550 8,100 10,780
Prov. Sulawesi Barat 8,000 9,650 11,300 – 8,250 11,550 8,100 10,780
Prov. Maluku 8,000 10,250 – – 8,550 19,200 9,100 11,000
Prov. Maluku Utara 8,000 11,750 – – 8,550 – 9,100 11,000
Prov. Papua 8,000 11,050 17,100 – 8,550 17,000 9,300 11,000
Prov. Papua Barat 8,000 11,550 – – 8,550 – 9,100 11,000

 

*) Harga jual Minyak Tanah Non-Subsidi sudah termasuk PPN 10%

 

Sumber : http://www.pertamina.com