Dekat : Tempat Alternatif Urus Pensiun(Taspen) di Bantul

Suasana kantor Taspen Yogyakarta

Bagi bapak-bapak, ibu-ibu, warga Bantul khususnya bagian Tengah, Selatan,  Barat-daya, maupun Tenggara, yang ingin mengurus pensiunan atau istilah mudahnya Taspen, kini Anda tak perlu lagi jauh-jauh lagi menembus ribet nya jalan perkotaan Jogja guna mengurus pensiunan anda.

Kini (dah beberapa waktu lalu sih) anda bisa mengurusnya di Bantul, yakni di Parasamya atau kompleks kantor Bupati Bantul, lokasi tepat dibelakang pendapa. Namun, tidak setiap hari melayani,  hanya pada hari Kamis saja, satu hari disetiap minggunya.

Kantor Taspen yang berada di Timoho Yogyakarta sepertinya memahami akan kendala para bapak-bapak dan ibu-ibu yang notabene pastinya sudah sepuh / purnatugas usia 55 tahun keatas pasti awang-awang_en untuk menuju ke kota Jogja. Padatnya lalu lintas tentu membuat mereka takut, dan sebaiknya sih diantar oleh anak-anak mereka.

Menurut yang dijelaskan oleh petugas di kantor Taspen, di gerai pembantu ini (yang berada di Parasamya) sama halnya di kantor pusat , melayani apa saja mencakup semua tentang Taspen. Sepertinya peralihan Askes ke KIS, pengajuan Uang Duka Wafat (UDW), Surat Permintaan Pembayaran Pensiunan Janda/ Duda Yatim Piatu (SP4B), dan lainnya.

Jadi, Monggo bagi yang berkepentingan masalah pensiun atau Taspen bisa tindak ke Parasamya Bantul.

Oiya jika yang ingin mengajukan Uang Duka Wafat(UDW) yakni bagi ahli waris dari pensiunan, baik istri atau  suami atau anak-anak yang  ditinggal wafat oleh seorang pensiunan. berikut syarat-syaratnya.

Dan berikut lampiran-lampiran atau persyaratan yang harus dipersiapkan untuk mengajukan UDW :

  1. Fotocopy Surat Kematian dari kelurahan dan dilegalisir oleh Lurah kepala Desa atau Surat kematian dari Rumah Sakit dilegalisir oleh Rumah Sakit
  2. Fotocopy surat nikah dilegalisir oleh kantor KUA
  3. Fotocopy SK pensiun
  4. Fotocopy KARIP
  5. Fotocopy KTP/SIM pemohon yang masih berlaku
  6. Pas foto terbaru pemohon kondisi maksimal 1 bulan terakhir ukuran 3×4 3 lembar
  7. Fotocopy bintang jasa yang dimiliki bagi pensiunan ABRI (bintang jasa : Sewindu, Bhayangkara, Eka Paksi, …. , Gerilya)
  8. Fotocopy rekening bank atas nama pemohon.

 

Formulir UDW (Uang Duka Wafat) untuk ahli waris pensiunan

Dan berikut persyaratannya atau lampiran untuk pengajuan SP4B :

Bisa di baca dalam foto dibawah ini :

Formulir SP4B Pensiunan

 

Demikian, semoga bermanfaat…!!!

Advertisements

Mudahnya Mencari SKCK di Polres Bantul

Contoh Surat Keterangan Catatan Kepolisian SKCK 2017

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) menjadi syarat wajib pagi warga untuk berbagai keperluan, semisal mencari atau melamar pekerjaan. Iya karena basicly SKCK diperlukan untuk berbagai macam urusan administrasi maupun sebagai prasyarat untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai syarat untuk mengikuti Penerimaan Pegawai Negeri Sipil (CPNS), melamar pekerjaan, dan lain sebagainya.

Definisinya, Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK ) adalah surat keterangan resmi yang diberikan oleh Polri kepada seseorang warga masyarakat untuk memenuhi permohonan dari yang bersangkutan atau suatu keperluan karena adanya ketentuan yang mempersyaratkan, berdasarkan hasil penelitian biodata anteseden orang tersebut.

Dan untuk memperoleh SKCK di Polres Bantul ternyata sangat mudah dan cepat, kurang dai 30 menit SKCK bisa kita dapatkan.

Bagaimana langkah dan prosedurnya?

Pertama persiapkan dulu persyaratannya :

  • Foto copy KTP, KK, dan akta kelahiran
  • Pas foto ukuran 4×6 sebanyak 6 lembar background warna merah
  • Uang 30.000

Setelah semua persyaratam diatas sudah siap silahkan datang ke kantor Polres Bantul, menuju loket SKCK yang berada di sebelah Selatan dari pintu masuk Utama. Silahkan ambil formulir dari petugas di loket tersebut, lalu mengisinya, oiya sebelumnya perlu dicatat dulu dari rumah riwayat pendidikan kita, nama TK hingga pendidkan terakhir beserta tahun kelulusannnya. Karena itu ada dikolom formulir.

Setelah selesai mengisi formulir, kita diminta umtuk rekam sidik jari yang berada disamping kanan atau sebelah selatan dari loket SKCK tadi. Dengan syarat foto copy KTP dan pas foto ukuran 4×6 background warna merah sebanyak 2 lembar. Disitu kita akan di rekam atau cap diselembar kertas untuk seluruh jemari kita tangan dan kiri.

Setelah selesai rekam sidik jari, kita kembali lagi ke loket SKCK dengan menyerahkan hasil rekam sidik jari yang tertera di foto copy KTP kita (sewaktu menyerahkan kebagian rekam sidik jari tadi) beserta formulir SKCK, juga foto copy KK & akta kelahiran, juga pas foto 4×6 sebanyak 4 lembar backgeound warna merah dan uang sebesar 30ribu.

Setelah itu kita diberi nomor antrian dan menunggu beberapa saat, tidak sampai 10 menit * (tergantung banyaknya pemohon juga sih), jadi lah SKCK  kita.

Sekarang tampilan SKCK juga berbeda dari yang dulu,  sekarang seperti halnya akta kelahiran maupun akta kematian, dengan kertas agak tebal warna coklat dan bi-lingual atau dua bahasa, yakni bahasa Indonesia & Inggris.

Dengan masa berlaku SKCK selama 6 bulan.

Demikianlah semoga bermanfaat…!!!!

 

 

Ibu Melahirkan di Bantul (Tidak Punya Jaminaan Kesehatan Apa-Apa) Bisa Gunakan Jampersal

 

Ilustrasi Jampersal (bengkuluekspress.com)

Jangan berkecil hati bagi warga Bantul yang kurang dan tidak mampu, bilamana si ibu akan melahirkan namun tidak mempunyai jaminan kesehatan apapun, maka ada Jampersal.

Menurut keterangan dari Dr.  Rr Anugrah Wiendyasari, M.Sc Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Kabupaten Bantul, beliau menjelaskan sesuai dengan peraturan Bupati Nomor 60 tahun 2017, bahwa semua Ibu hamil, bersalin, ibu nifas dan bayi lahir berhak mendapatkan layanan transportasi rujukan ke fasilitas kesehatan yang kompeten dan khusus Ibu hami, ibu melahirkan dan ibu bersalin yang berasal dari keluarga miskin dan tidak memiliki jaminan, maka dapat mengakses layanan pertolongan persalinan beresiko tinggi.

“Jampersal adalah jaminan pembiayaan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan resiko tinggi, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir di fasilitas kesehatan yang kompeten dan sebelumnya telah ditentukan oleh Dinkes,” terang Dr. Wiendyasari.

Lalu syarat apa saja yang mesti dipersiapkan?

Dokumen Pelayanan transportasi rujukan dan/atau pelayanan RTK(Rumah Tunggu Kelahiran) : pasien harus membawa Buku KIA disertai bukti rujukan dan fotocopy identitas diri (KTP dan atau C1). Dokumen untuk pelayanan persalinan pasien harus membawa :  Buku KIA disertai bukti rujukan, fotocopy identitas diri (KTP dan atau C1), membawa Surat Keterangan Miskin (SKM) atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan membawa surat pernyataan tidak mempunyai jaminan kesehatan bermaterai.

 

Well, demikianlah sekilas mengenai Jampersal di Bantul, semoga bermanfaat….!!!

 

Sumber : dinkes.bantulkab.go.id (21/08/2017)

Sensasi Rafting di Sungai Serayu Banjarnegara Jawa Tengah

Serayu Adventure Indonesia, Singomerto, Sigaluh, Banjarnegara

Hari Minggu 6 Agustus lalu, admin  bersama rekan-rekan blogger & vlogger Jogja dan sekitarnya (diajak Astra Motor Yogyakarta) berkesempatan merasakan sensasi rafting atau arung jeram di sungai Serayu Banjarnegara Jawa Tengah. Sungai yang berhulu dari pegunungan Dieng-Wonosobo, dan bermuara ke pantai Cilacap ini mempunyai cukup debit air/ rapid yang deras. Dengan begitu sangat cocok untuk rafting trip atau jalur arung jeram.

“Ini saja untuk musim kering atau kemarau, jika musim penghujan debit air bisa lebih banyak dan meninggi sekitar 150cm lagi.” ujar salah seorang pemandu sebut saja mas Ndobleh (maaf ketua team SAI menyebut begitu loh..🙏).

Sertifikat rafting dari Serayu Adventure Indonesia – Banjarnegara

Sepertinya memang begitu, menurut Sertifikat yang telah saya terima (gambar diatas) menyebutkan bahwa klasifikasi sungai Serayu merupakan ; Class III + Rapids at water level : 50 cm. Yang mana class III seperti yang sudah saya baca di blog jaddah-adventure.blogspot.co.id , bahwa

Class III : Sungai dengan tingkat kesulitan menengah, memiliki jeram yang mulai tidak beraturan dan cukup sulit serta dapat menenggelamkan perahu. Manuver-manuver pada arus yang deras serta kontrol perahu pada lintasan sempit sering diperlukan. Jeram-jeram besar dan “strainers” mungkin ada namun dapat dengan mudah dihindari. Pusaran arus yang kuat dan deras sering ditemukan, terutama pada sungai-sungai besar.Cidera saat terlempar keluar perahu dan terhanyut masih sangat jarang; self-rescue biasanya masih mudah dilakukan namun pertolongan bantuan sudah mulai diperlukan untuk menghindari resiko yang mungkin terjadi. Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat cocok untuk kegiatan wisata keluarga atau sebagai rekreasi alternatif.

Ya memang begitu yang saya lihat di sungai Serayu, ada beberapa keluarga yang datang untuk rafting,  Kabarnya sekitar wilayah Banjarnegara ada 3 pengelola wisata rafting. Salah satunya adalah Serayu Adventure Indonesia (SAI), yang berada di sebelah barat jembatan Serayu, dan tepat berada di intake Sigaluh berada di desa Singomerto. Disini merupakan ‘finish point’ atau dermaga Arung jeram yang dilengkapi dengan pondokan, restaurant, dan arena yang luas untuk camping, out bond, paint ball bahkan mereka melayani Dieng Tour.

Motor motor yang dipakai fun Riding di jejer di depan intake Sigaluh

Finish Point atau Dermaga Arung Jeram Serayu Adventure Indonesia

Cottage di Serayu Adventure Indonesia Banjarnegara

Sedangkan start point beradi di lain desa sebelah timur nya.

Rafting trip di wilayah Sigaluh sepanjang 14 km, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Lalu apa saja yang dipersiapkan?

Siap untuk menaklukkan sungai Serayu

Setelah perkenalan dengan leader team pemandu SAI, kami diberikan sedikit penjelasan serta di bagi kelompok-kelompok yang terdiri dari 5 orang, (maksimal 6 orang). Kami(peserta rafting), dan ada satu pemandu untuk satu perahu. Tapi sebelumnya kami diminta mengenakan pelampung helm dan membawa dayung yang sudah disedikan oleh pengelola (SAI).

Selanjutnya kami menuju start point atau kearah hulu sejauh 14 km dari basecamp SAI tadi, kami diangkut dengan angkot yang mana diatasnya ditaruh perahu karet yang akan kami naiki nanti.

Setelah sekitar 20 menit melewati jalan Banjarnegara-Wonosobo yang sedang diperbaiki,  kami tiba di titik start, dibawah sebuah jembatan gantung kecil.

Sebelum mulai rafting kami diberi penjelasan akan kode-kode atau istarat-isyarat saat rafting nanti. Buanyak sekali yang meski diperhatikan, karena saya termasuk newbie, yang jelas ada 3 hal yang saya tangkap, saat ada perintah maju dari pemandu kami disuruh mendayung maju, disaat perintah mundur kami disuruh mendayung mundur, ada juga istilah ‘boom’ yang mana perahu akan  melewati jeram,(Boom :Suatu instruksi yang diberikan pemandu saat melewati rintangan atau jeram berbahaya.) kita diminta untuk merapat ke sisi dalam perahu.

Well saatnya nyemplung, baru saja nyemplung…eeee sudah pada mainan air, saling siram, saking serang menyiram air dengan dayung,  baik satu rombongan maupun lain rombongan,  ga peduli dengan siapa saja, bahkan dari beda pengelola sekalipun. Pkoknya perahu lain jadi musuh deh……🚣… Kami benar-benar ‘have fun’,  …bersenang-senang….

Setelah dirasa semua siap perahu telah siap , ada satu team perahu yang dinamai team ‘rescue’ yang kesemuanya merupakan pemandu(skipper) melaju duluan, yang mana sepertinya sebagai penunjuk jalan, sebagai penentu arus mana yang harus dilalui. Dan sepertinya para skipper dari masing-masing perahu taat dan patuh  menunggu instruksi dari perahu team rescue tadi.

Saatnya arung jeram….. menyusuri sungai Serayu….

Saat itu rapids pada ketinggian 50cm, jadi arus tidak begitu deras dan banyak jalur yang dangkal, yang bisa membuat perahu nyangkut dan terhenti, jadi para skipper kudu pandai-oandai memilih jalur dan selalui menuruti perintah dari team rescue tadi.

Belum lama berlalu, saat melewati eram ada kapal yang terbalik, fuh ngeri juga tapi itulah sensasi dari rafting…. ada juga yang terjatuh dari perahu (swimmer), itu juga hal yang lumrah dalam rafting….

Untung perahu yang aku naiki tidak terbalik, bukannnya takut air, tapi karena tidak bisa berenang… Kalo dipikir memang nekad juga gue, ga bisa berenang kq ikut rafting, hadewwwww…. Ya hanya bermodal pada pelampung dan ngikuti instruksi dari skipper, dan pastinya berdoa dan meminta perlindungan ma Yang di Atas, jadi deh….

Perahu melaju mengikuto arus terkadang ada instruksi untuk maju, maka kami mwndayung dengan sekuat tenaga, dan kami masih saja saling usil dengan saling serang-menyerag dengan air, saling menyiram dengan dayung bilamana perahu berdekatan.

7 kilometer sudah kami mengarungi sungai, saatnya break sebentar, perahu merapat ke pinggir , disana sudah ada pihak pengelola yang menyediakan degan atau kelaa muda dan makanan, mendoan dan bakwan…hmmm nyumi dan segernya ….bisa untuk pengganjal perut dan menyuplai tenaga untuk mendayung.

Setengah jam break dan dirasa cukup, kami lanjut mendayung perahu karet, melewati jeram, membentur batu, tersangkut batu, dan diisengi oleh skipper kami, dijatuhkan ke air. Denfan cara yang asyik, kami disuruh bareng-bareng berdiri di atas bagian pinggir perahu dengan bergandengan tangan,  lalu perahu didayung memutar oleh skipper, dan terjatuh deh semuanya, mana dalam lagi, minum air pula,…ini pertama kali saya berada di air dalam dan tidak bisa berenang….🏊.

Dan akhirnya sampailah sudah dijembatan Serayu, dan berakhir pula trip rafting nya….begitu tiba di seberang jembatan dimana disi kanan merupakan finish point atau demaga arung jeram milik SAI…. Alhamdulillah selamat dan tidak mengalami hal buruk.

Rafting di sungai Serayu Banjarnegara

.sayangnya ga ada yang mengabadikan moment rafting kami, sebenarnya ada sih dari team pengelola yang mengambil foto,

Sensasi Diatas Awan : Pengalaman Pertama Naik Pesawat Terbang

This plane for my first flight

Hmmmm….Ndeso…katrok ….boleh jadi naik pesawat terbang menjadi hal yang biasa saja bagi sebagian orang terlebih horang kayah.  Bahkan bagi sebagian orang terkenal(selebriti) ada yang bilang naik pesawat Jakarta-Singapura ibarat naik angkot saja…..

Tapi bagi saya administrator blog ini(minmin), yang memang wong ndeso dan bukan horang kayah….naik pesawat, menjadi satu hal yang luar biasa dan mungkin tidak akan terjadi sepanjang hidup.

Terbang/ naik pesawat, yang tidak pernah minmin angankan sebelumnya, ternyata benar terjadi, patut bersyukur Alhamdulillah dan berterimakasih sebesar-besarnya kepada pihak Astra Honda Motor(AHM) Yogyakarta(pusat penjualan, suku cadang &bengkel motor Honda di Jogja) yang telah memberi kontribusi untuk bisa naik pesawat terbang.

Namun bukan agenda utama aktifitas ‘terbang’ (naik pesawat) yang melatar belakangi AHM Jogja mengajak saya, ada agenda besar di kota Karawang nun jauh di Jawa Barat sana. Jadi naik pesawat ini hanya sebagai perantara penyingkat waktu, dan akomodasi yang lebihlebih dari mereka. Adisutjipto – Halim Perdana Kusuma(HPK) menjadi destinasi minmin kali pertama naik pesawat, pergi-pulang.

Karena satu hal yang diluar kebiasaan, maka rencana hingga seminggu sebelum hari H, menjadikan bayang-bayang semu,  bagaimana sensasi naik pesawat terbang selalu mengiringi hari demi hari, meskipun itu tidaklah terlalu besar, karena ada agenda lain tadi yang dirasa begitu penting, dan begitu menarik (bagi minmin) dengan AHM Jogja tadi.

***

Dan tibalah waktu yang telah ditentukan, Sabtu pagi (15 Juli 2017), minmin berangakat dari rumah pukul 04.00 WIB(dwngan dalil mengejar sholat shubuh du bandara), dan tiba di bandara Adisutjipto Yogyakarta 04.30 WIB, untuk boarding-pass take-off first flight.

Pendamping dari pihak AHM Jogja sudah mewanti-wanti untuk tidak melupakan membawa bukti jadi diri yakni KTP. Tiba di area bandara 1 jam sebelum jam terbang(take-off). Berhubung waktu sholat shubuh Setengah lima, saya pun tiba disana 5 menit sebelumnya. Pendamping terlihat juga baru saja datang, setelah cap-cus sebentar, saya ijin untuk sholat shubuh terlebih dulu di mushola area bandara Adisutjipto, kebetulan masih kebagian jamaah, meski hanya separo, Alhamdulillah.

Selepas sholat, ketemu rekan rombongan, yang juga selesai dari sholat shubuh. Well jam 5 pagi kurang beberapa menit, rekan-rekan lain yang berjumlah 8 orang mulai berdatangan, hingga jam lima lebih sedikit komplit lah rombongan termasuk 1 pendamping. Sedikit ‘breafing’ dan kata pengantar dari petinggi AHM Jogja , kami mulai masuk area  ‘boarding pass’, yang telah ada petugas check-in untuk meneliti calon penumpang pesawat. Yang mana calon penumpang meski menunjukkan tiket (baik sudah di print maupun masih di dalam gadget)/dan bukti identitas diri(KTP) [sempat terbesit tanya, bagaimana ya jika tidak punya KTP?]

Setelah itu masuk ke pemeriksaan, baik barang bawaan maupun orang(badan penumpang), semua barang masuk mesin pemindai/scan, termasuk barang elektronik, gadget, aksesoris dari logam. Dan dua kali pemeriksaan ini dilakukan, wow berlapis yaa..

Setelah semua clear saat nya ‘boarding-pass’,  mendata penumpang dan mencetak/ print tiket. Setelah-nya menuju ruang tunggu. Yang mana diminta berada di ruang tunggu 40/menit sebelum jadwal keberangkatan.

Ruang tunggu bandara Adisutjipto Yogyakarta

***

Waktu terbang sudah tiba, ada panggilan suara dari petugas bandara untuk menuju pesawat, melalui pintu gerbang/gate yang telah di tentukan di e-tiket, para penumpang berbaris menuju gate kembali ada petugas dari maskapai melihat dan menyobek sebagian dari tiket juga KTP. Para penumpang antri melalui gate yang telah ditentukan, begitu keluar dari ruang tunggu suara bising pesawat yang sedang ‘stasioner’ begitu memekakkan telinga.  semua penumpang termasuk rombongan kami menuju pesawat yang telah ditentukan.

My first ticket aeroplane

Langit  masih belum terang betul, masih remang-remang karena seperti belum waktu nya matahari terbit. Beriring-iringan para penumpang menaiki 2 tangga depan dan belakang pesawat, untuk masuk ke badan pesawat, disambut dua pramugari. Kebetulan saya dapat kursi no 31D,  jadi masuk dari pintu belakang. Dan ternyata benar-benar paling belakang sendiri.

Tempat duduk penumpang pesawat, mirip dengan tempat duduk saat naik bus. Kursi berderet & berjejer, berderet kebelakang, 31 dan berjejer 3 – 3 dalam setiap barisnya. Jika dikalkulasi seluruh penumpang ada 6 x31=186. Ditengah sebagai akses untuk berlalu lalang/berjalan. Jarak antar kursi pun sama seperti di bus standar (mungkin ini untuk kelas biasa/ekonomi kali ya).

Seperti halnya moda angkutan lain, setiap baris ada jendelanya , tapi dipesawat bentuknya oval dan kecil terdiri dari dua lapis kaca, jadi bisa melihat luar. Jika ingin menikmati atau mengetahui keadaan diluar pesawat saat di udara, pilihan duduk dipinggir adalah yang terbaik. Tapi saat keberangkatan ini saya dapat di pinggir dalam, jadi yaa tidak bisa begitu melihat suasana luar. Dan sempat diajak tukar tempat duduk oleh mbak-mbak, dan menjadi posisi di tengah. satu baris, mbaknya, saya lalu bapak di pinggir dekat jendela.

***

Saatnya lepas-landas/ take-off, namun sebelumnya pilot menyapa serta memberi sedikit keterangan akan penerbangan dengan dua bahasa(Indonesia & Inggris), dilanjutkan dengan demonstrasi pramugari memperagakan beragam keselamatan penumpang mulai dari pemakaian seat bealt/ sabuk pengaman hingga peragaan memakai pelampung dan masker udara.

Siap-siap take-off, deru mesin semakin kencang seiring melajunya pesawat Air bus 320-200 , laju semakin kencang dan…dan….wuuush….pesawat melesat meninggalkan bandara Adisutjipto. Seiring melesatnya pesawat naik meninggalkan bumi, begitu juga badan kita serasa dihempas kebelakang, seperti diayun seperti saat naik ayunan  , ada sedikit gaya gravitasi terasa dibadan. Dan pesawat terus naik dan naik  bahkan berasa menukik, yaa seperti kendaraan darat saat melewati jalan tanjakan,  saat naik ditanjakan. Menukik dan menukik terus hingga pada ketinggian yang di inginkan/ditentukan.

Oiya berhubung saya berada di posisi kanan , selepas bandara saya melirik lewat jendela, saya sempat melihat jalanan Jl solo, juga sepintas melihat Transmart, namun karena saya berada di kursi tengah , sedangkan sebelah kanan yakni bapaknya tadi juga tidak kenal dan tidak berkenalan maupun bertegur sapa,  jadi saya juga kurang begitu leluasa mengamati keadaan luar melalui jendela pesawat.

 

Selanjutnya terlihat gunung Merapi-Merbabu, dan dibarengi dengan seluet langit kuning jingga diufuk Timur, indah sekali, karena saatnya sunrise atau matahari terbit….panorama diatas awan sungguh indah sekali, diufuk timur masih jelas seluet kuning kejinggaan, sedang sisi utara , berderet gunung berselimut kabut….’Sumbing, Sundoro, Slamet, seakan menyapa ku….

Gunung Merapi

***

Setelah pesawat sudah  berada di posisi datar, pesawat seakan berhenti, hanya awan yang berlalu…pelan-pelan….Oh begini toh rasanya naik pesawat….yaa seperti naik bus hanya saja lebih terasa tanpa guncangan, mungkin karena cuaca cerah kali yaa…hanya sesekali terdengar buangan gas dari sisi belakang.

Perjalanan masih cukup lama, baru dapat 10 menit, masih tersisa 50 menit, hmmm lagi mau ngapain ya,  saya amati penumpang lainnya pada tidur, ada yang baca-baca majalah. Sda yang lalu-lalang sepertinya ke toilet, oiya kita juga bisa memesan makanan, makan berat, maupun makan ringan, bayar tapi dan lebih mahal tentunya.

Oiya lama perjalanan udara/ dengan pesawat komersil Jogja-Jakarta atau Adisutjipto-Halim Perdana Kusuma adalah 60 menit atau 1 jam, tadi sempat sudah dijelaskan oleh pilot, juga sudah ada dalam e-tiket. Ini berarti 10 kali lipat lebih cepat dari perjalanan darat menggunakan bus/ mobil, sedang jarak Jogja – Jakarta sekitar 500 km.

***

Dan…Menikmati negeri diatas awan dibalik pesawat Citilink Air Bus 320 – 200, horizontal mata  melihat gugusan awan-awan putih berjajar dan berlapis, berlatar belakang birunya cinta langit, sedang nun jauh dibawah sana, hamparan bumi terpampang tempat bertenggernya pulau Jawa, juga laut Jawa di sebelah utara. Melihat kecil-kecil bangunan, rumah-rumah yang hanya terlihat atapnya, jalan-jalan, sungai, pegunungan, seiring pesawat melewati gumpalan-gumpalan awan putih, membayangkan awan yang di naiki ‘Sun Go Kong'(si kera sakti…😁)

~~☁☁

Sejurus kemudian memasuki wilayah udara Jawa Barat, namun langit nya tidak secerah wilayah sebelumnya, awan kelabu, jadi teringat cerita orang yang naik pernah naik pesawat disaat melewati awan hitam atau cuaca mendung, maka duduknya akan terasa bergetar dan bergoyang-goyang. Dan benar adanya, saat melewati gumpalan awan hitam, pesawat bergetar, seperti saat bus melewati jalan tidak rata.

10 menit menjelang landing/pendaratan, ada pengumuman dan permintaan maaf dari pilot yang menjelaskan bahwa akan ada delay/ keterlambatan pendaratan karena di Bandara Halim PK sedang ada persiapan tinggal-landas / take-off rombongan kepresidenan, jadi akan ada delay selama 20 menit.

Jadi selama itu pesawat mutar-mutar diatas perairan udara Halim Perdana Kusuma. …

***

Setelah 20 menit berlalu, kembali pilot mengumumkan para penumpang untuk siap-siap mendarat, seperti halnya saat lepas-landas, penumpang diwajibkan untuk mengenakan sabuk pengaman. Ada sedikit tegang nih, terbayang saat melihat di film-film, pesawat mulai menukik ke bawah dan terus menukik serta berkurangnya laju pesawat, dan pesawat mendarat dengan lembut…Alhamdulillah touchdown/ sampailah di Jakarta bandar udara Halim Perdana Kusuma(HPK).

Bandar udara Halim Perdana Kusuma Jakarta

*****

 

****~**

Singkat cerita, setelah agenda’ di kota Karawang selesai, sehari setelah nya,  kami kembali terbang menggunakan maskapai pesawat yang sama karena tiket telah dipesan untuk pergi dan pulang, Minggu (16/7/2017), seperti halnya saat berangkat, saat kembali melalui bandara HPK, juga mengalami ceck-in yang sama seperti di bandara Adisutjipto, pemeriksaan dua kali, boarding pass, dan menunggu saat terbang, kode flight : QG 100, boarding  time 10:50_ gate 6, seat : 5F_class: Y.

Dan saat terbang balik pukul 11:20, sampai Jogja 12:35, dan benar sesuai jadwal, teringat pengalaman kemarin, saya mempersispkan  kamera DSLR untuk mengabadikan melalui jendela oval, dan setelah naik ke badan pesawat, Alhamdulillah nomor  kursinya berada di paling pinggir/dekat jendela, dan termasuk deretan depan.

Saat lepas-landas terasa lembut, lebih lembut dari saat berangkat kemarin. Kembali merasakan sensasi negeri diatas awan, birunya langit, awan-awan putih, panorama laut samudera Hindia, karena posisi saya berada di kanan/ jadi melihat selatan, sepertinya jalur penerbangan pesawat berada di atas jalur selatan, terlihat garis pantai selatan, begitu masuk perairan Jawa tengah, kembali melihat daratan dari ketinggian, jalan-jalan, bangunan ,rumah-rumah, deretan pantai, yang deburan ombaknya terlihat diam. Memasuki wilayah Yogyakarta, terlihat waduk sermo, dan pesawat mulai sedikit membelok ke utara, terlihat sungai progo, jembatan bantar, pertamina , kampus Unwama, masuk kota jogja, melihat ring road barat, dan alun-alun utara serta keraton Jogja, ring road timur seiring mulai turunnya pesawat, dan terlihat jelas pengunjung museum dirgantara, mereka terlihat melihat pesawat kami. Dan beberapa detik kemudian pesawat mendarat dengan sempurna, penerbangan balik lancar dan tanpa delay, tiba di bandara Adisutjipto pukul 12:35.

*#*

Padat nya rumah penduduk, terlihat dari ketinggian/ dalam pesawat(Jawa Barat)

 

Ini menarik, entah pembangunan apa, tapi masih di wilayah Jawa Barat

Awan putih seperti tunggangan Sun Go Kong bukan…..😁😀

Waduk Sermo

Jembatan Bantar

Malioboro, Alun-alun utara, dan keraton Yogyakarta