Di 2018 : 123 titik sudah tercapai BBM Satu Harga, luar biasa

 

BBM satu harga adalah kebijakan menyeragamkan harga jual resmi BBM sebesar Rp 6.450 per liter premium dan Rp 5.150 per liter solar di beberapa daerah pelosok Indonesia. Kebijakan ini mengikuti pencabutan subsidi BBM dan pemberian penugasan kepada Pertamina untuk menyalurkan BBM ke daerah terpencil melalui pembangunan SPBU di tempat tersebut dan mengatur penyalurannya secara rutin baik melalui darat, laut, maupun udara (Wikipedia) .

Daerah terpencil disini dimaksudkan daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) di wilayah Indonesia. 

Program ini merupakan program 3 tahun (2017-2019), sebelum nya(sebelum tahun 2017) harga BBM di daerah 3T tersebut tentunya jauh lebih besar/ mahal dari harga standar, mulai dari 7ribu bahkan hingga mencapai 100ribu(di Papua).

Berikut informasi selengkapnya mengenai keberhasilan PT Pertamina dalam mewujudkan program pemerintah BBM Satu Harga di tahun 2018 ini, …

Sepanjang tahun 2018, PT Pertamina (Persero) berhasil melampaui target pencapaian operasional BBM Satu Harga. Dari target 67 titik , Pertamina telah mengoperasikan 69 titik BBM Satu Harga pada daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) di wilayah Indonesia. Dengan capaian ini, sejak mendapat tugas BBM Satu Harga pada tahun 2017, total sudah 123 titik BBM Satu Harga yang sudah berhasil dibangun Pertamina.(31/12)

Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito menyatakan apresiasinya kepada seluruh pihak khususnya tim pelaksana BBM Satu Harga yang telah bekerja keras dan mendedikasikan pengabdiannya untuk mewujudkan pemerataan energi di daerah 3T di seluruh wilayah Indonesia.

“Meskipun tahun 2018 target yang ditetapkan lebih banyak dibanding tahun 2017, dengan sinergi dan komitmen yang tinggi dari semua pihak, alhamdulillah, justru pencapainnya melebihi target,” ujar Adiatma.

Operasional BBM Satu Harga, lanjut Adiatma, tersebar di seluruh wilayah 3T mulai dari Pulau Sumatera, Jawa – Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua. Titik BBM Satu Harga terbanyak berada di Papua sebanyak 28 titik, disusul Kalimantan (27 titik), Sumatera (24 titik), Nusa Tenggara (15 titik), Sulawesi (14 titik), Maluku (11 titik) dan Jawa – Bali (4 titik).

Pertamina menyalurkan BBM Satu Harga melalui berbagai moda transportasi baik mobil tangki, kapal laut, sampan hingga pesawat Air Tracktor khusus pengangkut BBM.

“Prinsipnya, kami berupaya untuk menyalurkan BBM ke daerah 3T secara kontinyu. Itulah komitmen Pertamina sebagai perwujudan BUMN hadir untuk negeri, sehingga saudara-saudara kita di seluru pelosok tanah air bisa merasakan BBM dengan harga yang sama dengan daerah lain,” tegas Adiatma.

BBM Satu Harga telah mendorong aktivitas perekonomian di daerah 3T, karena masyarakat semakin mudah mendapatkan akses BBM. Harga BBM di tiap pulau yang sebelumnya tinggi bekisat Rp 7.000 hingga Rp 100.000 per liter kini jauh menurun menjadi Rp 6.450 (premium) dan Rp 5.150 (solar).

Harga BBM di Pulau Sumatera dan Kalimantan sebelumnya berada di kisaran Rp 8.000 hingga Rp 40.000 per liter, di Maluku antara Rp 8.000 hingga Rp 17.000, Sulawesi antara Rp 8.000 hingga Rp 25.000, Nusa Tenggara antara Rp 8.000 hingga 9.500 serta tertinggi Papua antara Rp 15 ribu – Rp 100.000.

“BBM Satu Harga telah mendorong efisiensi biaya transportasi, harga barang-barang juga menurun sehingga pertumbuhan ekonomi di wilayah semakin menggeliat, karena BBM adalah energi bagi pergerakan ekonomi masyarakat,” imbuh Adiatma.

Berdasarkan Kep. Dirjen Migas No.09.K/10/DJM.O/2017 tanggal 23 Januari 2017, tentang Lokasi Tertentu Untuk Pendistribusian JBT & JBKP, Pertamina ditargetkan mendirikan lembaga penyalur BBM Satu Harga di 150 titik selama 3 tahun dari 2017– 2019. Pada 2017 ditargetkan 54 lokasi, 2018 sebanyak 67 lokasi dan 29 lokasi pada 2019.

Adapun 69 titik BBM Satu Harga yang sudah beroperasi pada tahun 2018 adalah sebagai berikut:

  1. Seimenggaris, Nunukan (9 Maret)
  2. Kec. Liang, Banggai Kep. (9 Maret)
  3. Banggai Tengah, Banggai Laut (16 April)
  4. Wawoni Barat, Kep. Konawe (11 Juni)
  5. Tagulandang, Kep. Sitaro (29 Juni)
  6. Distrik Prime, Lanny Jaya (6 April)
  7. Distrik Fayit, Asmat (2 Juli)
  8. Gido, Nias (26 Juli)
  9. Kep. Sula, Maluku Utara (31 Juli)
  10. Miangas, Kab. Kep. Talaud (30 Juli)
  11. Belantikan Raya, Lamandau (3 Agustus)
  12. Sungai Boh, Malinau (7 Agustus)
  13. Tolinggula, Gorontalo (27 Agustus)
  14. Wamena, Jayawijaya (27 AGustus)
  15. Sabu, Sabu Raijua (29 Agustus)
  16. Bintuni, Teluk Bintuni (30 Agustus)
  17. Katingan Kuala, Katingan Hulu (30 Agustus)
  18. Musi Banyuasin, Lalan (30 Agustus)
  19. Borong, Manggarai Timur (30 Agustus)
  20. Bokondini, Tolikara (30 Agustus)
  21. Essang, Kab. Kep. Talaud (4 September)
  22. Nanusa, Kab. Kep. Talaud (4 September)
  23. Bawolato, Kab. Nias (7 September)
  24. Sengah Temila, Landak (15 September)
  25. Moyohulu, Sumbawa (18 September)
  26. Wera, Bima (18 September)
  27. Praya Barat Daya, Lombok Tengah (18 September)
  28. Pototano, Sumbawa Barat (18 September)
  29. Labuan Badas, Sumbawa (18 September)
  30. Suoh, Lampung (20 September)
  31. Sokan, Melawi (20 September)
  32. Biatan, Berau (23 September)
  33. Loksado, Hulu Sungai Selatan ( 24 September)
  34. Kamipang, Katingan ( 16 September)
  35. Amanuban Selatan, Timor Tengah (26 September)
  36. Krayan Selatan, Nunukan (26 September)
  37. Satarmese, Manggarai (26 September)
  38. Ende Selatan, Ende (26 September)
  39. Lumbis, Nunukan (26 September)
  40. Ketungau Hulu, Sintang (26 September)
  41. Nibung, Musi Rawas Utara (26 September)
  42. Distrik Siret, Asmat (26 September)
  43. Daha Barat, Hulu Sungai Selatan (26 September)
  44. Tel. Merantai, Pelalawan (28 September)
  45. Sigi, Kulawi (28 September)
  46. Air Buaya, Buru (28 September)
  47. Teweh Timur, Gunung Purei (28 September)
  48. Gunung Purei, Barito Utara (29 September)
  49. Ibu Selatan, Halmahera Barat (30 September)
  50. Maba Selatan, Halmahera Timur (30 September)
  51. Aru Utara, Kep. Aru (30 September)
  52. Aifat, Maybrat (30 Spetember)
  53. Rikit Gaib, Gayo Lues ( 1 Oktober)
  54. Terangun, Gayo Lues ( 1 Oktober)
  55. Misool, Raja Ampat (2 Oktober)
  56. Hibala, Nias Utara (27 Oktober)
  57. Siberut Utara, Kep. Mentawai (27 Oktober)
  58. Sipora Selatan, Kep. Mentawai (27 Oktober)
  59. Kayan Selatan, Malinau (30 Oktober)
  60. Bolakme, Jayawijaya (31 Oktober)
  61. Pulau Banyak, Aceh Singkil (31 Oktober)
  62. Sitoli Ori, Nias Utara (5 November)
  63. Abenaho, Yalimo (27 November)
  64. Sangir Batanghari, Solok Selatan (30 November)
  65. Pulau Aru, Kep. Aru (30 November)
  66. Sangir Balai Janggo, Solok Selatan (30 November)
  67. Lunyuk, Sumbawa (1 Desember)
  68. Wermaktian, Maluku (13 Desember)
  69. Maybrat, Papua Barat (29 Desember)

“Tahun depan, insya Allah target BBM Satu Harga juga akan kita capai dengan baik, semoga juga bisa kembali melebih target,” pungkas Adiatma.

Sumber: pertamina.com

Ilustrasi SPBU Pertamina

Advertisements

BBM Satu Harga, maksud nya apa ya?

BBM satu harga _ source : Tirto.id

Bila ada yang masih atau belum tau tentang maksud dan tujuan BBM(Bahan Bakar Minyak) satu harga, yuuuk mari kita simak beberapa kutipan yang berhasil penulis kumpulkan berikut ini…

Teori hukum Satu harga menjelaskan tentang hubungan antara nilai tukar atau kurs dengan barang atau komoditi. Menurut hukum ini, komoditas yang sama akan memiliki harga yang sama, meskipun dijual ditempat yang berbeda.(ardra.biz)

Menurut gambar di atas, sejarah  BBM Satu Harga dimulai pada tahun 2016, yang diresmikan oleh bapak Presiden Joko Widodo di Papua. Landasan hukum dari BBM Satu Harga adalah Perpres No. 191/2014, serta Permen ESDM No. 39/2016. Di tahun 2017 lalu, Pertamina merealisasikan program ini di 30 titik ( masih kurang 16 titik dari target). Di 2019 mendatang, Pertamina harus merealisasikan program BBM Satu Harga ini di 150 titik.

Kendala BBM Satu Harga :

  • Lokasi titik berada di daerah Terpencil, Terluar dan Terdepan (3T) yang sulit dicapai
  • Ada pengecer yang memborong BBM di penyalur BBM Satu Harga untuk dijual kembali

 

Wilayah Indonesia terdiri lebih dari 1.700 pulau, dipisahkan atau dipersatukan laut. Dengan demikian membuat banyak daerah terpencil, terutama perbatasan dengan negara lain, seperti Kalimantan Utara dan Maluku bagian Utara. Belum lagi wilayah timur Indonesia yang berupa pegunungan lembah seperti di Papua.

Bukan rahasia, selama ini harga berbagai komoditas di wilayah Timur Indonesia, terutama Papua tidak masuk akal. Di kota Yahukimo, bensin bisa dibeli dengan harga normal, paling lama hanya sepekan. Ketika persediaan di APMS (Agen Penyalur Minyak dan Solar) ada.

Bila persediaan habis, harga di pengecer bisa gila-gilaan. Harga bensin di Wamena misalnya bisa mencapai Rp70 ribu ter liter, bahkan di pelosok Kabupaten Puncak sampai Rp100 ribu. Begitu pun dengan harga komoditas lain. Harga per sak semen misalnya, bisa mencapai Rp800 ribu, bahkan lebih dari Rp1 juta di Puncak Jaya. (Beritagar.id)

Betapa pun, katanya, ia masih bisa memaklumi kenaikan harga BBM di tingkat pengecer selama masih berada dalam batas kewajaran.

“Di luar pom bensin harganya naik sedikit wajar karena ada yang mengambil keuntungan. Tapi kalau harganya (premium) kemudian menjadi Rp25.000 per liter, itu tidak wajar. Harganya ada yang Rp40.000 itu juga tidak wajar karena belinya hanya Rp6.450 per liter. Itu yang menjadi catatan saya,” ujar Presiden sekaligus menutup sambutan saat meresmikan kebijakan BBM satu harga.(bbc.com)

 

BBM Satu Harga, Upaya Pertamina Wujudkan Ekonomi Pancasila

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina menerapkan ekonomi Pancasila dalam program kerjanya. Salah satunya melalui program BBM Satu Harga yang merupakan implementasi dari sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Utama Pertamina Massa Manik saat menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional bertajuk ‘Ekonomi Pancasila di Era Jokowi : Konsep, Tantangan dan Implementasi’ di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Sebagai salah satu unsur dalam pilar perekonomian Indonesia yang berpedoman pada Pancasila, Massa mengakui, Pertamina tidak hanya sebatas mengejar keuntungan bisnis, namun juga berorientasi pada pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat secara keseluruhan berdasar pada nilai moral kemanusiaan.

“Pertamina itu akta perusahaan adalah korporasi dan penugasan. Jadi kalau ditugaskan, harus dijalankan. Memang kami harus menjalankan penugasan. Salah satu programnya, tahun lalu kami bisa mencapai target BBM satu harga 54 titik dan tahun ini 67 titik. Total targetnya 150 titik,” terang Massa Manik.

Dalam kesempatan itu, Massa juga menjelaskan tentang berbagai tantangan yang harus dihadapi Pertamina. Karena itu, ia mengharapkan dukungan dari seluruh pihak agar Pertamina dapat mewujudkan ekonomi Pancasila sehingga mampu mencapai ketahanan energi di tahun 2030. “Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam melaksanakan penugasan demi keadilan sosial, demi mencapai ketahanan energi, sesuai dengan kebijakan pembangunan pemerintahan Presiden Joko Widodo,” pungkas Massa.

Sementara itu, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latief menyatakan di masa Pemerintahan Presiden Jowo Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), ekonnomi Pancasila tercerminkan dalam salah satu butir Nawa Cita sebagai program utama pemerintah. Yaitu, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Sejatinya, ekonomi Pancasila sendiri telah lama digagas oleh Prof. Emil Salim dan Prof. Mubyarto.*SEPTIAN (pertamina.com)

Ini nih bukti dari BBM Satu Harga yang penulis kutip dari pertamina.com :

BBM Satu Harga

Di dalam foto diatas, yang merupakan Daftar harga terbaru BBK TMT 1 Juli 2018, dari Sabang (Nangroe Aceh Darussalam) 7.800 hingga Merauke (Papua Barat) 8.000. Harga Pertalite hampir sama, tidak jauh berbeda, selisih dibawah seribu rupiah.

Ini yang dimaksud dengan BBM Satu Harga, begitu pula dengan harga BBM lainnya, mulai dari Premium hingga Minyak Tanah, baik subsidi maupun non-subsidi, harga hampir sama.

 

Well, demikian sedikit mengenai BBM Satu Harga, semoga bermanfaat