Sejarah Kabupaten Bantul

Petabantulkec.png

ilustrasi – wikipedia.org

Bantul merupakan sebuah nama kabupaten juga kecamatan dimana saya tinggal, untuk lebih menyanyangi sesuatu maka perlunya lebih jauh mengenal sesuatu itu. Tak terkecuali kota Bantul tercinta. untuk lebih mengenal akan Bantul, tak ada salahnya mengenal sejarah akan berdirinya kota Bantul.

Bantul memang tak bisa dilepaskan dari sejarah Yogyakarta sebagai kota perjuangan dan sejarah perjuangan Indonesia pada umumnya. Bantul menyimpan banyak kisah kepahlawanan. Antara lain, perlawanan Pangeran Mangkubumi di Ambar Ketawang dan upaya pertahanan Sultan Agung di Pleret. Perjuangan Pangeran Diponegoro di Selarong. Kisah perjuangan pioner penerbangan Indonesia yaitu Adisucipto, pesawat yang ditumpanginya jatuh ditembak Belanda di Desa Ngoto. Sebuah peristiwa yang penting dicatat adalah Perang Gerilya melawan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman (1948) yang banyak bergerak di sekitar wilayah Bantul. Wilayah ini pula yang menjadi basis, “Serangan Oemoem 1 Maret” (1949) yang dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tolok awal pembentukan wilayah Kabupaten Bantul adalah perjuangan gigih Pangeran Diponegoro melawan penjajah bermarkas di Selarong sejak tahun 1825 hingga 1830. Seusai meredam perjuangan Diponegoro, Pemeritah Hindia Belanda kemudian membentuk komisi khusus untuk menangani daerah Vortenlanden yang antara lain bertugas menangani pemerintahan daerah Mataram, Pajang, Sokawati, dan Gunung Kidul. Kontrak kasunanan Surakarta dengan Yogyakarta dilakukan baik hal pembagian wilayah maupun pembayaran ongkos perang, penyerahan pemimpin pemberontak, dan pembentukan wilayah administratif.

Tanggal 26 dan 31 Maret 1831 Pemerintah Hindia Belanda dan Sultan Yogyakarta mengadakan kontrak kerja sama tentang pembagian wilayah administratif baru dalam Kasultanan disertai penetapan jabatan kepala wilayahnya. Saat itu Kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Bantulkarang untuk kawasan selatan, Denggung untuk kawasan utara, dan Kalasan untuk kawasan timur. Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kasultanan Yogyakarta, tanggal 20 Juli 1831 atau Rabu Kliwon 10 sapar tahun Dal 1759 (Jawa) secara resmi ditetapkan pembentukan Kabupaten Bantul yang sebelumnya di kenal bernama Bantulkarang. Seorang Nayaka Kasultanan Yogyakarata bernama Raden Tumenggung Mangun Negoro kemudian dipercaya Sri Sultan Hamengkubuwono V untuk memangku jabatan sebagai Bupati Bantul.

Tanggal 20 Juli ini lah yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bantul. Selain itu tanggal 20 Juli tersebut juga memiliki nilai simbol kepahlawanan dan kekeramatan bagi masyarakat Bantul mengingat Perang Diponegoro dikobarkan tanggal 20 Juli 1825.Pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan berdasarkan pada Usamu Seirei nomor 13 sedangakan stadsgemente ordonantie dihapus. Kabupaten Memiliki hak mengelola rumah tangga sendiri (otonom).

Kemudian setelah kemerdekaan, pemerintahan ditangani oleh Komite Nasional Daerah untuk melaksanakan UU No 1 tahun 1945. Tetapi di Yogyakarta dan Surakarta undang-undang tersebut tidak diberlakukan hingga dikeluarkannya UU Pokok Pemerintah Daerah No 22 tahun 1948. dan selanjutnya mengacu UU Nomor 15 tahun 1950 yang isinya pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom di seluruh Indonesia.

sumber : bantulkab.go.id

 

Iklan

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bantul ke-184 Dengan Tasyakuran Di Bangsal Rumah Dinas Bupati

Foto Berita 2407

Bupati Bantul Hj. Sri Surya Widati saat memotong tumpeng didampingi oleh anggota Forkompimda

Jadi malu jika saya ditanya kapan hari jadi kota Bantul tercinta, pasti enggak bisa menjawabnya…xixixi..ee ternyata hari jadi kota/kabupaten Bantul adalah pada tanggal 20 Juli. Dan bertepatan dengan tahun 2015 masehi tahun ini maka kota Bantul telah memasuki usia yang ke -184.

Dalam peringatan hari jadi kota Bantul tahun ini/yang ke -184 maka diadakan acara Tasyakuran, berikut berita selengkapnya mengenai acara tasyauran dalam memperingati hari jadi kota Bantul, yang saya kutip dari situs bantulkab.go.id;

Hari Jadi ke-184 Kabupaten Bantul yang jatuh pada hari Senin 20 Juli 2015 dilaksanakan dengan sederhana di Bangsal Rumah Dinas Bupati Trirenggo Bantul. “ Peringatan diselenggarakan dengan konsep sederhana tetapi tetap bermakna”, demikian disampaikan oleh Wakil Bupati sebagai Ketua Hari Jadi ke-184 Kabupaten Bantul yang dibacakan oleh Drs. Misbakhul Munir Asisten Pemeintahan Setda Kabupaten Bantul. Lebih jauh jelaskan bahwa bermakna adalah bagi masyarakat dan bermakna bagi pemerintah dalam memajukan daerah menuju Bantul yang Projotamansari, Sejahtera, Demokratis dan Agamis dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelaksanaan tasyakuran Hari Jadi juga diwarnai dengan penyerahan penghargaan bagi desa yang telah berhasil mengurangi kemiskinan dan juga pemberian penghargaan bagi RT berprestasi di Kabupaten Bantul tahun 2015. Desa yang mendapatkan penghargaan pengentasan kemiskinan adalah Desa Srimartani , Desa Pleret, Desa Murtigading, Desa Tirtonirmolo dan Desa Caturharjo. Sedangkan RT yang mendapatkan prestasi adalah RT 05 Dukuh Imogiri, RT 04 Wonodoro Mulyodadi, RT 02 Bojong Wonolelo, RT 04 Jipangan Bangunjiwo dan RT 07 Krakitan Ringinharjo. Penghargaan diserahkan oleh Bupati Bantul Hj. Sri Surya Widati beserta uang pembinaan.

Bupati Bantul berharap peringatan ini bukan sekedar ceremonial tanpa makna tetapi dijadikan momentum untuk evaluasi dan instrospeksi. Sejak masa bhaktinya tahun 2010 hingga 2015 ada 921 prestasi yang diperolehnya melonjak dua kali lipat pada periode sebelumnya 443 prestasi. “ Hal ini janganlah kita menjadi terlena tetapi menjadi motivasi dan tambahan energi semangat , bahwa seandainya kita berusaha dan bekerja keras, pastilah dapat mencapai apa yang kita cita-citakan “ tegas bupati.

Acara yang sangat sederhana tersebut di tandai dengan pemotongan tumpeng oleh Bupati dan deserahkan kepada Ketua Panitia Hari Jadi ke 184 Kabupaten Bantul Drs.H Sumarno, PRS Wakil Bupati Bantul. Tasyakuran ini dihadiri oleh Forkompimda dan pimpinan SKPD se Kabupaten Bantul serta para pemenang dan peraih penghargaan RT berprestasi dan Desa yang berhasil mengurangi kemiskinan. (bs)