88 Km [trip kedua] bersama Aerox 155 VVA buat nanjak-nanjak ‘more Power Full’

Trip kedua bersama Yamaha Aerox 155 VVA, masih melibas jalanan pegunungan, disamping kemarin pagi sempat di jalanan datar / rata, untuk pergi kerja. Yang sempat menorehkan top speed pada angka 110 km/jam…wow mantab bukan.

Sesuai yang saya janjikan untuk kembali me-review skutik gambot nan Montog, dan Like usually saya lewatkan jalur alternatif yang melewati tanjakan Cinomati, tanjakan yang cukup fenomenal di Bantul.
Dan kembali di Aerox terbukti kekuatan tenaga besarnya, seperti Badak .

Si badak saat si tanjakan Cinomati
Selain di tanjakan Cinomati 😁
Selfong di icon Cinomati…eee ada pak Gojek…👍

Berangkat dari Ring road selatan Bantul, kemudian belok ke kanan (masuk ke Selatan dari perempatan Giwangan) ke jl. Imogiri Timur, lalu ada perempatan kecil ambil kiri sekitar Babadan Banguntapan kemudian mengarah ke Selatan timur menuju Wonolelo meniti jl. Pleret-Dlingo, Ploso Wonolelo. Dan melibas tanjakan Cinomati tadi, yang mana disini bau hangus karet terbakar atau mungkin dari kopling kendaraan terasa menyengat syekali.

Nah, disini si Badak teruji sudah, gak ada kendala sama sekali. Gak ada, kekurangan tenaga, gak ada bunyi ‘seker’ ngoyo gitu, berasa enteng banget.  Dan saya juga biasa berhenti di titik kemiringan, yang mana jika ada kendaraan yang  tidak kuat di titik inilah kendaraan tersebut akan macet, kemudian menanjak yang tentunya dari kecepatan nol , tetap tidak masalah. Terus menanjak naik hingga perempatan ringin yang kemudian saya terus lurus menuju wilayah desa Terong kecamatan Dlingo, jalan halus berkelok menurun.

Nah disini loh pusatnya tanjakan Cinomati

Oke lanjut ke Dlingo hingga sampai pertigaan Temuwuh,  kemudian ambil kiri atau ke arah timur ini jl. Playen – Dlingo, jalan lebar tapi sedikit bumpi, banyak turunannya, melaju sedikit kencang, tapi kedua pergelangan tangan tetap siaga pada rem. Dan berkat rem yang sudah di adopsikan ABS(Antilock Brake System) ya mumpuni untuk mengatasi jika saya melebar saat ditikungan.

Saat akan masuk jembatan Getas

Dan kembali melewati jembatan Getas, kalau kemarin dari timur, sekarang dari barat. Nah selepas jembatan Getas, jalan lebar dan halus, tapi juga banyak turunanannya, yauuud deh, wuss kayak terbang gitu. Jalan lebar lurus halus sepanjang sekitar 7 km hingga sampai ketemu pertigaan Jl. Playen-Gading, , kemudian ambil kanan melewati keramaian desa Sumberejo, lalu menuju ke jl. Playen-Paliyan, nah disini nih surga nya biker, jalan lebar nan halus banyak lurus. Dikanan kiri pohon jati hingga sampai pertigaan Paliyan, terus lurus hingga ke kawasan suaka margasatwa Paliyan. Break bentar selfong lagi

Yamaha Aerox 155 VVA sedang di depan icon suaka margasatwa Paliyan

Nah selepas ini ( suaka margasatwa) saya menggila meniru gaya balap, eh tapi sempat melebar saat ditikungan..duh ngeri juga, untung gak pas ada kendaraan lawan arah, hanya sedikit agak jauh didepan dan sempat memberi kode maaf dan mereka tersenyum. sempat deg-degan tapi kemudian…ayemmm…slamet-slamet… Alhamdulillah

Yamaha Aerox 155 VVA

….kemudian mengarah ke Jl. Raya Panggang – Wonosari wilayah Saptosari…disini juga jalannnya yihuuuu….lebar halus bangettttthhh…cocok untuk nikung-nikung gitu. Tikungan tergolong tikungan panjang-panjang, asyik bianget. Hingga sampai pertigaan Panggang, saya ambil kanan ke arah jln Panggang – Dilukiskan disini jalan banyak tikungan pendek, jalan juga agak sempit, banyak menurun, tetap fokus, takut membelok melebar lagi…. akhirnya sampai wilayah Siluk, dan habis deh pesta nya.

Well, untuk performa dan akselerasi , Aerox menurut saya sangat handal. Hanya sedikit binal saja menurut saya.

Ditunjang dengan Smart Key System yakni tanpa anak kunci. Dan tanpa colokan kunci mekanik. Di motor yang lazimnya ada lubang kunci pada Aerox  diganti dengan knop.  jadi makin praktis, saat mau menghidupkan motor, membuka jok atau membuka tutup Tanki BBM, tinggal putar knop sesuai yang diinginkan. pun juga ada peringatan jikalau kita lupa belum memposisikan knop pada posisi off.

juga adanya Start & Stop System (SSS) atau di handle bar ada gambar kode huruf A balok dilingkari, untuk hemat bahan bakar dimana mesin akan mati sendiri saat motor berhenti, dan tinggal tarik tuas gas motor akan kembali hidup.

Serta Smart Motor Generator (SMG) terbukti suara nyaris tak terdengar saat mesin dihidupkan/ di starter.

Untuk desain atau bentuk saya sangat suka sekali , karena skutik ini berkesan berotot gagah, atau Montog bohay kali ya….😍

Remote kunci Yamaha Aerox 155 VVA

Oiya untuk konsumsi bahan bakar, saya sempat mengujinya sebanyak 3 kkali dengan metode full to full, jadi tanki bahan bakar diisi penuh kemudian motor dipakai untuk beberapa jarak, kemudian diisi penuh lagi lalu di kalkulasi.

Btw, sebenarnya pada panel meter(speedometer) sudah ada sih penunjuk rata-rata konsumsi bahan bakar nya yakni tertera pada angka 43. Tapi rasanya belum puas deh jika tidak mengujinya secara langsung…😁

Untuk pengukuran pertama sempat menorehkan angka 45,50 km/liter, seingat saya ini pemakaian wajar.  Dimana di angka odometer  awal tertera 12467 odometer akhir 12553, atau sejauh 86 km, denganbahan bakar Pertamax menghabiskan sebanyak 1.89 liter, jika dikalkulasikan 86:1,89= 45.50. 

Uji pertama konsumsi bahan bakar pada Yamaha Aerox 155 VVA ; 45.50 km/ liter

Pengujian kedua

Oiya sebenarnya di panel metersudah ada penunjuk perkiraan Ki induksi bahan bakar sih yang menunjukkan pada angka 43 km/liter.

Uji kedua konsumsi bahan bakar pada Yamaha Aerox 155 VVA; 

Pengujian konsumsi bahan bakar yang kedua dan ketiga dari si Badak Aerox ini saya gunakan untuk medan jalanan pegunungan yang tentunya butuh banyak tenaga dan kebetulan saya juga sering menggeber atau membetot gas, jadi tergolong rada boros hingga mencapai angka 32,03km/ liter pada pengujian kedua dan 34,57 km/liter pada pengujian ketiga.

Uji ketiga konsumsi bahan bakar pada Yamaha Aerox 155 VVA; 

Well, demikian sedikit review mengendarai motor skutik Yamaha Aerox 155 VVA, dan uji konsumsi bahan bakar nya, semoga bermanfaat…!!!

Advertisements

150 Km pertama bersama Yamaha Aerox 155 VVA, Skutik montog tenaga Badak

Akhirnya kesampaian juga njajal motor ini, yang dari kemarin-kemarin cuma liat ketika berpapasan di jalan, dan rasanya geregetan pengeeeeeeeeeeeeen banget merasakan menaikinya, merasakan sensasi diatasnya, meliuk dijalanan. Yupz seminggu ini aktivitas admin akan bersama Yamaha Aerox 155 VVA, si skutik dengan body yang montok. 

Hingga saat menulis artikel ini tercatat sudah 150 km torehan di angka odometer

Speedometer Yamaha Aerox 155 VVA 2017

Meskipun unit pinjaman dari Yamaha DDS Yogyakarta ini bukan produk ‘Fresh from oven’, karena lansiran tahun 2017 lalu, tapi tidaklah mengapa, malah akan lebih teruji.

Unit sudah admin pakai untuk kegiatan harian, boncengan bersama keluarga, komuter (pulang pergi kerja), dan short trip melibas jalanan pegunungan Gunungkidul.

So, bagaimana mana performa nya?

Dengan dibekali mesin 155 CC tentunya skutik cukup terbilang mumpuni untuk jalanan, admin rasakan tenaganya cukup responsif. Bahkan merasa bertenaga besar, itu mengapa saya katakan bertenaga Badak. 

Saat saya melintas di Jl Piyungan – Patuk, tepat di Icon Gunungkidul Handayani.
Saat di jalan Imogiri- Mangunan

Saat melakukan dijalanan datar, tenaga badaknya berasa sekali, untuk zig-zag juga terbilang enteng, mudah dikendalikan saat menyalip diantara kendaraan lain. Sepertinya VVA juga berkerja sempurna, dan bahkan pagi tadi saya sempat mencapai top speed 110 kpj, seperti masih bisa lebih.

Sistem Idling nya juga bekerja sempurna, dimana saat motor berhenti, mesin motor langsung mari, begitu ingin lanjut melaju tinggal lhep eh tinggal tarik tuas handle gas langsung ngacirrrrr.

Oiya kemarin siang saya melaju dari jalan ring road selatan Bantul, kemudian ke arah Patuk Gunungkidul melalui jalan Piyungan, meliuk-liuk di jalan Patuk, kemudian break (sholat Asr  di masjid Yasmin III “Nur Al – Fattah” Gading, Playen) di pertigaan pasar Playen, lalu ambil kanan, dan sampai di jembatan Getas, berhenti sebentar ambil foto, lalu lanjut  ke Barat hingga pertigaan Temuwuh Dlingo, dilanjut ambil kanan ke arah hutan Pinus, melewati kawasan wisata Pinus Becici, llintang Sewu, Pinus Asri, Rumah Hobbit, Watu Goyang, Bukit  Bego, terus ke bawah sampai ke Imogiri dan pulang deh.

Saat di jembatan Getas
Dapat bonus view yang cakep di atas jembatan Getas

Saat melaju di jalanan pegunungan tadi , tenaga cukup besar, enteng saat ngegas ditanjakan, hanya saja  berasa ‘binal’ saja skutik Montog ini, saat di ajak cornering meliuk-liuk.

Lalu bagaimana konsumsi bahan bakar nya? Tunggu saja deh artikel selanjutnya, insyaallah hari ini gas lagi.

Part 4 (Padang – Bengkulu) : ‘Bee Story’ Single Touring Cirebon – Padang

Melanjutkan cerita Perjalanan Single Touring Bee Story Cirebon – Padang yang dilakoni oleh sosok lady biker asal kota udang_Cirebon, yakni Dewi Siti Hawa pada saat lebaran kemarin,  kali ini mengisahkan Part ke 4 Perjalanan pulang Padang menuju Bengkulu.

Inilah kisahnya….

Dewi Siti Hawa saat di Gapura kota Bengkulu

Padang – Bengkulu

Cukup menjelajah kota Padang; Bukittinggi, Payakumbuh dan Pariaman selama 3 hari penuh, kini saatnya pulang.

Hari ini jam 5 .00 pagi pagi sekali saya sudah bangun.

Jarak yang sama seperti saat pergi kembali akan saya tempuh diperjalanan pulang, kurang lebih 1500 km , rutenya Lintas-Barat Sumatera.

Sedikit info yang saya dapat , Lintas Barat didominasi hutan , perkebunan dan pantai. Konon katanyanya jalur ini terkenal indahnya…wuihh

Bee Story Cirebon Padang 2018

Secangkir kopi tanda dimulainya perjalanan. pesisir selatan , Painan dan seterusnya ..

Bensin selalu full tank, saat penunjuknya berkurang, disaat ada SPBU langsung isi full lagi, tanpa banyak interaksi dengan siapapun, sepanjang perjalanan yang saya lalui benar-benar tanpa komunikasi.

Jikapun perlu bertanya, saya bertanya kepada ibu-ibu yang sedang berkebun atau remaja tanggung yang sendirian sedang beraktivitas, bukan yang motor-motoran atau nongkrong di jalan.

Dibeberapa rambu  petunjuk arah, tidak tersebut kata Bengkulu melainkan nama kota terdekat, yang jika tidak membaca petunjuk arah sebelumnya, baik di peta atau GPS, akan susah mengikuti , mau tidak mau cara satu satunya adalah bertanya.

Memasuki Gerbang Gapura propinsi Bengkulu, disambut kota Mukomuko , jalanya sangat panjang namun juga sangat apik, senuah propinsi yang cantik menurutku, baik itu aspalnya, bandaranya, perkebunan-karetnya dan sawit-nya.

Jalanan sepi ditunjang dengan cuaca yang sangat cerah , di beberapa kota kecil sempat menjumpai benerapa hajatan pernikahan, Hmmmm bulan baik untuk mengikat janji, tidak jauh berbeda dengan dipulau Jawa.

Daaan terlihat banyak pasangan memadu-kasih di sepanjang rute ini….

***

Semakin dekat ke Bengkulu kota, semakin indah saja pemandangan. Perjalanan pulang hari pertama , dan saya menginap disini, di Bengkulu kota.

Bee Story taman monumen bung Hatta Bukittinggi

***

Hari ke-3 : Jambi – Padang ‘Bee Story Cirebon – Padang 3500 km 12-20 Juni 2018, paragraf Akhir ngeri lagi

Lebaran hari pertama (15/06) di Jambi

Saya bangun pagi sekali dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan berikutnya, tersisa kurang-lebih 600 km lagi.

Kali ini tidak ada yang memberi warning atau wanti-wanti (pesan peringatan) apapun,  hingga beberapa kali saya sempat berhenti untuk mengabadikan beberapa moment perjalanan.

Masih dengan pemandangan yang sama yakni, hutan sawit, sungai Batanghari, dan rumah rumah penduduk(pemukiman).

Saya bahkan sempat berhenti di minimarket favorit ( alfam*rt) untuk menikmati ice cream kesukaan dan duduk manis melepas lelah di sebuah SPBU.

Baru dikasih tau ditempat saya rest itu, ternyata merupakan jalur rawan (setelah sampai di Padang.)

Di Muara Bunga saya berhenti ditempat sahabat Byonic Muara Bungo, untuk beramah-tamah sejenak, yang kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

 

Memasuki Sumatera Barat

Ada yang tidak biasa di sini, di gapura selamat datang disambut dengan sebuah kota yang lumayan padat dan rama, tapi tidak terlihat minimarket favorite saya satupun. Ternyata minimarket dengan layanan 24 jam tersebut memang dilarang di daerah ini.

***

Hari mulai senja, namun perjalanan masih separuh lagi. Sijinjun, Sawah lunto, Solok Baru, & Padang masih sekitar 5 jam lagi.

Dihari ke-3 ini tubuh sudah mulai payah, benar-benar penat,  tidak seperti hari sebelumnya, dan godaan yang terberat adalah rasa kantuk. Angin sepoy, trek lurus dan perut kenyang membuatku kurang terjaga dan agak malas untuk ngebut.

 

Sampai di Solok hari sudah malam

Rupa-rupanya tubuh mulai manja, setelah beramah tamah dengan teman-teman di Solok, badan sudah mulai KO, karena kekenyangan dan kantuk yang super dasyat, tubuh tidak bisa dipaksa ridding lagi, padahal tinggal 1 jam saja menuju kota Padang.

Akhirnya dijemput teman-teman dari Padang yan khawatir bilamana saya lanjutkan ridding sendiri bilamana akan melewati sebuah rute jalan dengan sisi sisinya ada bangunan  dan kelokan juga tanjakan tajam yang dirasa sangat berbahaya bagi pengendara yang masih  awam dan belum kenal sitkon yang ada. Dan di tanjakan itu sering terjadi lakalantas

Sambil menunggu pick up, sembari bercengkrama di Tugu Ayam, icon kota Solok.

Setelah jemputan sampai dan ridding lagi hingga jam 01.00 dini hari, baru sampailah saya di Padang.

Ngeh saya ketika baca beberapa pesan dari smartphone banyak sekali yang mendoakan keselamatan bagi saya.

Dan ketika saya kabari saya sudah di Sumatera Barat, 90 % pesan tertulis berucap syukur, tertulis juga kata “aman,kalauu sudah di Sumatera Barat”.

Disini saya bergidik dan terasa ngeri serta mengucap syukur berulang ulang.

Hari ke-2 : (Palembang – Jambi) Bee Story Cirebon – Padang 2018, pada alinea ke-5 rada sedikit ngeri

Melanjutkan kisah single touring dari sosok lady biker asal kota Cirebon, Dewi Siti Hawa bersama ‘bee’ tunggangannya Yamaha Byson, dihari ke dua nya dalam ‘Bee Story Cirebon – Padang 3500 km 12-20 Juni 2018’, yuuuk kita ikuti kisahnya, dalam alinea atau paragraf ke -5 ada cerita sedikit rada ngerih atau menakutkan….

Jembatan icon kota Jambi

Hari 2 Lintas Timur Sumatra (Kamis, 14 Juni 2018)

Pagi  ini aku mengantuk sekali , padahal sudah kenyang tidur dari jam 3 dini hari tadi.
Biasanya 2 jam saja cukuplah menyegarkan mata, tapi entah kenapa kali ini mata tak juga mau terbuka, jadilah separuh-hatiku berkata full-in aja sampai saat check-out jam 12.00 nanti.

***

Start pukul 13.00 WIB, dilepas Byonic Palembang menuju Jambi. Untuk jarak dibawah 300 km aku tidak terlalu khawatir, perkiraan akan masuk Jambi sekitar pada gelap hari , minimal 5 jam atau yaa maksmal 6 jam saja dengan medan yang sudah mulai familiar di tanah Sumatra ini.

Kota Pangkalan Balai, masih ramai oleh penduduk disini. Aku pun sempat mampir ke sebuah mini market karena rasa haus yang menyerang tiba-tiba.
Mataku menatap keatas, mendung yang mulai menutup langit, menggelantung, perkiraanku sih kota Jambi tinggal didepan saja.

Dan benar saja, memasuki hutan sawit di Sungai Lilin.
Yaa mau berkata apa lagi tetap harus gas sore ini agar mengejar schedule, karena sudah molor gegara ada insiden rusuh di Lampung kemarin hari.

Langit tak sabar menahan air, dan hujan mulai turun, titik-titik air mulai berjatuhan menerpa helm, jaket, celana dan bee, namun  karena takut dan cemas kehabisan waktu, maka ku biarkan basah saja , sungkan untuk membongkar bundel tas dan enggan untuk memakai jas hujan, mengingat pesan-pesan dan wanti-wanti dari semua teman,  biarlah kuyup, basah semua badan.

***

Melewati hutan sawit di kanan dan kiri yang paaaanjang, dikala senja, hanya ada satu dua kendaraan yang lewat dan berpapasan.

Hanya ada sebuah truk dan satu satunya bus menemani/ searah. Sesekali dari arah berlawanan ada mobi- mobil konvoy berpapasan.

Hari menjelang gelap saat melihat rambu menunjuk kota Jambi masih 44 km lagi.
Sepi mulai datang, “ini hari terakhir puasa pasti semua sedang persiapan berbuka,” pikirku.

Jalan mulai berkelok kelok, sebentar pemukiman/ rumah sebentar hutan.
Tapi aku tidak takut sama sekali.

Karena saat takut mulai datang, seberkas cahaya kendaraan lain dari depan membuatku tersenyum dan hasrat ingin segera tiba di Jambi membuatku bersemangat.

 

Akhirnya tibalah di kota Jambi.

Dewi Siti Hawa saat si Kota Jambi

Tiba di Jambi sempatkan berfoto di gapura, kemudian menunggu di sebuah minimarket, untuk segera bergabung dengan rekan-rekan Byonic Jambi. Check-in di hotel, kemudian keluar lagi untuk jalan-jalan bersama rekan Byonic Jambi menikmati malam di kota jambi.

Bee Story saat diidepan Universitas Jambi

Dewi Siti Hawa saat di Jambi

Bee Story Cirebon – Padang 2018