Ndangir*, itu mengasyikkan (*salah satu istilah Jawa dalam Merawat tanaman palawija)

 

Petani sedang ‘Ndangir’ tanaman kacang

Brrrrr…..dinginnya pagi hari di bulan ini.

Saat ini akhir bulan Juni 2018 di tanah Jawa sedang masuk dalam pertengahan musim kemarau, musim kemarau dimulai dari bulan April hingga Agustus, cuaca di pagi hari terasa begitu dingin hingga menusuk tulang,, terkadang saat kita mandi disiang hari, air dari bak mandi terasa dingin banget bagainair yang tersimpan di kulkas. Biasanya ciaca dingin seperti ini puncaknya di bulan Agustus.

Secara hukum alam/ teoritis, hal ini karena bumi sedang jauh dengan matahari. Efeknya terjadi musim kemarau di daerah tropis.

Nah di musim kemarau atau musim kering, dimana air tidak banyak didaratan, biasanya, para petani menanam ragam tanaman palawija yang minim butuh banyak air. Semisal tanaman kacang, jagung, kedelai, maupun kacang hijau dan lainnya. Tanaman tersebut tidak butuh banyak air, malah tanah di bagian atas akan lebih baik jika kering. Berbanding terbalik dengan tanaman pagi yang notabene sarat akan air.

Tanaman palawija hanya butuh air sesekali saja, bahkan ada yang mengatakan setidaknya hanya butuh 1 kali disetiap minggunya, bahkan bisa 2 Minggu sekali tanaman palawija dialiri air tidaklah mengapa.

Tanaman palawija, semisal kacang tanah masa hidupnya (tumbuh hingga berbiji/ panen) sekitar 90 hari , dimasa pertumbuhan nya butuh perawatan. Salah satunya adakah dengan membersihkan gulma atau rumput maupun tanaman pengganggu disekitar tanaman palawija, juga membalik tanah agar mengurangi intensitas tumbuhnya gulma tadi, juga berfungsi memberi sense berbeda pada tanaman dengan dibaliknya tanah bagian atas tadi. Tindakan inilah (membersihkan rumput dan membalik tanah ), orang Jawa menyebutnya dengan Ndangir.

Dengan kondisi tanah yang kering maka akan sangat terasa mengasyikan sekali mengerjakannya, kaki tidak belepotan., terlebih di pagi hari udara masih segar, belum juga panas oleh sinar matahari. Rasa dingin akan terimbangi dengan gerakan ndangir tadi.

Ndangir atau bisa juga disebut dengan mencangkul-cangkul kecil diantara tanaman palawija menggunakan cangkul khusus, yang dimensi nya lebih kecil dari cangkul biasa.besarnya bisa separonya. Dengan harapan tidak merusak dan mengenai tanaman palawija yang kita tanam.

Semakin rajin petani ndangir maka semakin subur pula tanaman palawija nya, karena pertumbuhannnya tidak akan terganggu oleh rumput atau tanaman pengganggu.

 

 

Advertisements

‘Bawon’ sudah menghilang dari Sawah

Walang sangit menyerang bunga padi

Menurut pendapatku, Pekerjaan di sawah (bercocok tanam padi) adalah dimulai tatkala waktu panen tiba, (yang selanjutnya pak tani mempersiapkan persemaian, olah lahan, menanam, merawat dan menunggu panen.

Panen adalah satu hal yang paling ditunggu oleh petani padi, menikmati hasil jerih payah bergumul dengan lumpur, panas dan gatal sejak 3 bulan sebelumnya.

Nah saat panen tiba , jika petani tidak bisa memanem sendiri, maka akan di mintakan kepada orang lain unruk memanennya. Kegiatan orang lain memanenkan padi tadi disebut dengan Derep (Bahasa jawa,pengucapan -e- seperti pada kata dengan), dan upah yang didapatkan oleh orang lain dari jasa nya tersebut di sebut dengan Bawon.

Bawon ini berupa ata berujud gabah basah dengan perhitungan skala perbandingan ataupun persentase, yang perhitungannya bisa berbeda dari setiap daerah, standarnya 1:8, 1 untuk penderep , 8 untuk petani.

Iya meskipun daerah kami bukan terpencil maupun terisolir, bahkan sebenarnya dekat dengan perkotaan,  namun pengerjaan pertanian masih 75% dikerjakan secara manual konvensional, dikerjakan oleh tenaga manusia. Seperti pada pengerjaan saat panen,  maupun saat tanam.

Dengan begitu seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman, para pen-derep atau sumber daya manusia untuk ke sawah banyak berkurang, ada yang sudah lanjut usia dan sudah meninggal, sedangkan regenerasinya pun tidak ada. Jadi dengan begitu lambat laun_semakin hari semakin ke sini, kami sangat kesulitan untuk mencari pen-derep.

Bahkan kami mengandalkan jasa penderep dari luar daerah, dalam satu dekade ini, itupun sekarang sudah tidak ada lagi, kami merasa was-was , bilamana sudah tidak ada lagi orang yang mau memanen, sedangkan Modernitas semisal alat memanen belum menjamah wilayah kami.

Lalu kenapa tidak dikerjakan sendiri?

Meskipun kami petani gurem (punya lahan milik sendiri yang tidaklah begitu luas) yang juga mengerjakan lahan milik orang lain istilahnya ‘maro’, tapi kebiasaan kami memang lah selalu menananm maupun memanen ya dikerjakan oleh orang lain.

 

Dan kini ada metode pengupahan baru untuk memanen padi, yang awal nya kami memberi upah  dengan bawon (gabah basah)_ kini para pen-derep meminta upah uang/ duit, bukan dengan gabah. Otomatis kami harus mengeluarkan budget sebelumnya. Dengan perhitungan Rp 4.000,- untuk 1 lobang(10m²). Sebagai pembanding untuk biaya olah tanah memakai traktor mesin biayanya Rp 2.000,- / lobang. Semuanya dikerjakan dengan sistem borongan.

 

Kalau dikalkulasi, dengan biaya panen sebesar itu, boleh dibilang bisa pas-pasan, apalagi kalau cuma ‘maro’….

 

 

Solusi Cekal Hama Wereng Batang Coklat pada Tanaman Padi

Tanaman padi muda yang memerah terserang WBC

Kurun waktu satu dekade ini , (saya masih ingat almarhum bapak juga sudah mengalami hal ini) yang mana tanaman padi muda(kisaran umur 2 minggu) batang tanaman terserang suatu wabah, yakni batang berubah warna coklat kemerahan. Saat itu hingga sampai menemukan tulisan di bawah, belum yakin juga jika itu merupakan invasi sebuah insect/ serangga/ wereng, saya menganggap hanya kesalahan pengaturan air saja, atau kelebihan air(bacek) dan juga kondisi tanah/ lahan yang tidak bisa di buang airnya. Namun begitu di lahan yang lain yang sering saya genangi, tanaman padi tidak terserang wabah ini. Inilah yang membuat kami bingung. Jadi wabah ini bukan disebabkan  karena bacek, karena lahan yang tidak terserang wabah ini kondisi tanah memang berbeda,  lebih akas, atau tidak begitu banyak mengandung berlumpur/ anah lembek.

Sepertinya yang sudah pernah saya tuliskan sebelumnya bahwa, serangan penyakit ini menyerang tanaman padi muda yang menyebabkan batang dan daun menjadi berwarna coklat. Serangan wabah  ini cepat sekali menyebar ke seluruh tanaman dalam satu lahan.

Well dari pada bingung kita ikuti saja apa kata dari ahli pertanian bahwa wabah ini disebut dengan Wereng Batang Coklat (WBC).

Lalu bagaimana solusi guna mencegah dan menangkal (cekal) wabah ini ?

Koordinator Petugas Pengendali Organisme Tanaman Pengganggu (PPOPT) Kabupaten Bantul, Widodo mengatakan bahwa serangan WBC sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya yang dilakukan oleh petani antara lain yaitu dosis penggunaan pupuk kimia yang masih tinggi, jarak tanam yang rapat, air yang senantiasa tergenang, serta kurangnya pupuk organik.

Dengan adanya serangan WBC ini, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan, Pulung Haryadi menghimbau kepada seluruh petani di Kabupaten Bantul waspada terhadap serangan WBC dan merekomendasikan untuk :

  1. Selalu melakukan pengamatan populasi WBC sekurang-kurangnya 1 kali dalam seminggu
  2. Pengelolaan air dengan sistem irigasi berselang untuk menekan perkembangan WBC
  3. Dianjurkan pengendalian dengan agensia hayati (Beauvaria bassiana) karena aman terhadap musuh alami dan agensia hayati bisa berkembang sendiri jika keadaan ekologi mendukung

 

Widodo selaku PPOPT menganjurkan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mengatasi serangan WBC antara lain :

  • Penanaman refugia (tanaman bunga-bungaan) di pematang tanah
  • Penggunaan dosis pupuk organik yang tinggi 20-40 ton/ha
  • Pembajakan lahan sesegera mungkin setelah panen
  • Memperbaiki sifat kimia tanah dengan kapur pertanian/ dolomit pada saat pengolahan tanah dengan dosis 5 kuintal/Ha.
  • Penerapan metode SRI (Penggunaan bibit muda, iwir, jarak tanam jarang, jajar legowo, pengairan berselang, pembuatan parit/patusan di tepi pematang dan tengah petakan lahan, pupuk kimia secara berimbang dan pengamatan OPT secara rutin).  Sumber : bantulkab.go.id

Itulah yamg meski kita lakukan guna mengatasi hama ini, semoga bermanfaat.

Mlecuti, Mrekatak, Temungkul : Istilah Jawa Urutan Padi berbuah

Walang sangit menyerang bunga padi

Di Jawa (Yogyakarta) memang banyak sekali istilah untuk menyatakan suatu hal , semisal dalam pertanian contohnya pada saat padi berbuah. Setelah padi berumur 2 bulan atau ⅔ umurnya atau setelah perawatan padi selesai yakni selesai di gosrok, padi mulai hidup berkembang, terlihat menghijau, batangnya mekar tumbuh tinggi dan mekar. Sesaat kemudian tanaman padi akan mulai berbunga, sebatang demi sebatang mulai tumbuh bunga, sedikit menjulang dari yang lainnya inilah yang disebut dengan Mlecuti. Istilah mlecuti menurut opini saya berasal dari kata ‘pecut’ yakni sebuah sarana atau alat untuk menghalau ternak. Batang-batang padi yang berbunga dan sedikit tinggi dan melengkung yang mirip pecut inilah maka orang Jawa menyebutnya ‘Mlecuti‘.

Selanjutnya seluruh tanaman padi akan serempak berbunga, ini yang disebut dengan ‘Mrekatak‘. Entah apa yang diartikan dari kata ini. Kalo saya berasumsi pada mekarnya bunga padi yang bersamaan atau serempak. 

Lalu jika semua tanaman padi yang berbunga tadi akan berisi, awalnya jika bulir padi muda yang berwarna hijau tadi jika dipencet maka akan keluar berupa seperti cairan warna putih susu. Dan lama kelamaan seiring berlalunya waktu akan mengeras, dan berbeban, maka mulailah batang padi bagian atas/biji akan merunduk, inilah yang disebut dengan ‘Temungkul‘.

Nah itulah 3 istilah bahasa Jawa dalam penamaan tanaman padi pada saat berbunga dan berbulir.

Dan masih banyak lagi yang lainnya yakni:

Galengan = gundukan tanah sebagai pembatas sawah(pematang) guludan lemah pinangka watesing sawah

Nembok   = menghimpun pematang dengan lumpur

Nyukoni  = mencangkul sudut-sudut sawah yang tidak terjangkau oleh mesin pengolah tanah

Ngurit   = menebar benih gabah yang sudah berkecambah

Ndhaut   = mencabut benih padi dari persemaian

Mbanjar  = membagi benih dsn telah diuntai ke lahan yang sudah sisp ditanami

Blak     = bilah bambu yang diberi tanda/ digores berjarak untuk pedoman jarak tanam(wajarnya 25-30cm)

Matun    = membersihkan rumput diantara tanaman padi

Gmadhung = tanaman padi terlihat menghijau

Mlecuti  = tanaman padi mulai berbunga satu-dua

Mrekatak = tanaman padi sudah berbunga/ berbulir

Tumungkul= padi mulai merunduk berisi

Ndangak  = ujung tanaman padi yang mendongok tanda padi tidak berisi

Gembrang = bulir padi yang habis dimakan burung pipit atau ayam

Wiwit    = upacara tradisi memetik padi

Ani-ani  = memetik padi dengan alat tradisional tangan

Derep    = buruh memanen padi

Bawon    = upah memetik/memanen padi

Ngiles   = merontokkan bulir padi dengan digilas pakai kaki

 

 

Jenis lahan

Sawah sorodan  = sawah yang dialiri air secara terus-menerus

Sawah tadhahan = Sawah  yang hanya mengandalkan curah hujan (sawah tadah hujan)

Pategalan      = lahan yang ditanami palawija, maupun umbi-umbian

Pakebonan      = tamah/ lahan yang ads disekeliling rumah, yang ditanami umbi-umbian, buah-buahan

Pekarangan     = lahan sekitar rumah yang di tanami tanaman yang berumur pendek, semisal sayuran, atau bunga-bungaan(tanaman hias)

Pagagan        = sawah yang ditanami padi  gaga diawal musim penghujan

Babadan        = lahan yang masih berwujud hutan dan harus di tebang dulu pepohonannya.

Talun          = lahan di pegunungan

Pagajih        = lahan/ sawah di pinggir sungai atau waduk

 

 

Hasil panen

Pala kesimpar  = tanaman yang berjenis menjalar, buahnya diatas/ menempel tanah, contoh: semangka, bligo, waluh, mentimun, jipang, dsb

 

Pala kependhen = tanaman yang buahnya didalam tanah, semisal : singkong dan umbi-umbian dsb

 

Palawija       = tanaman di sawah selain padi, semisal : jagung, kacang, kedelai, dsb

 

Pala kirna     = tanaman yang punya umur panjang (tanaman keras)  : nangka, mangga, kelapa,  duren, dsb

 

Pala gumantung = tanaman yang buahnya menggantung : pisang, pepaya, dsb

 

Sumber pustaka : http://jawadw.blogspot.co.id/2014/01/olah-tetanen.html?m=1

Hama Baru Pada Tanaman Padi Muda

Lahan sawah  ditumbuhi lumut hijau yang dimakan sekawanan  burung pipit yang merusak tanaman padi yang masih muda.

3 atau 4 masa tanam padi terakhir ini, rupanya ada hama baru yang menyerang tanaman padi muda(sekitar umur 0 hingga 1 hingga 1 bulan) yakni burung pipit menginjak tanaman padi yag masih muda dan belum kuat untuk di jadikan tumpuan hinggapnya sekawanan burung pipit yang mencoba memakan lumut-hijau disekitar tanaman padi muda.

Lumut hijau entah datangnya dari mana, tau-tau ada dilahan sawah, dan semakin banyak berkembang. Mungkin bibit awal lumut-hijau tersebut dari sungai yang masuk ke lahan sawah. Ini terjadi saat lahan sawah selesai di olah(dibajak) dan saat akan ditanam padi.

Biasanya saat lahan sawah siap ditanam padi , sembaei mwnunggu ditanam maka lahan yang berjud diisi dengan air(digenangi) agar lahan tidak cepat mengeras. Nah selama masa menunggu(selama kurang dari 3 hari) tadi, ternyata tumbuhlah lumut-hijau, seiring dengan adanya banyak genangan air tersebut maka semakin banyaklah lumut-hijau. Hingga padi ditanam lumut-hijau masih tumbuh dan malah semakin berkembang.

Anehnya burung pipit ternyata ‘doyan’ memakan lumut-hijau, dan yang bikin jengkel dan merugikan petani adalah burug pipit tersebut tidak sendirian, malah mengajak kawan-kawannya hingga sekawanan dan bergerombolan burung…kalo sendiri sih ga masalsh hehe….

Dengan ‘doyan’nya burung-burung pipit tadi memakan lumut-hijau yang dengan santainya mereka hinggap didahan tanaman padi muda. Yang tentunya belum kuat, jadilah tanaman padi ‘lusah-lusah’ berantakan. Tanaman padi muda batangnya layu dan menempel ke tanah di injak-injak segerombolan burung pipit tadi. Ini pastinya merugikan petani.

Belum ada solusi jitu untuk mengatasi hal ini, kami hanya berusaha mengeringkan lahan untuk menghambat tumbuhnya lumut-hijau tadi, pernah juga kami menyebarkan kapur guna mematikan lumut-hijau namun ternyata tidak efektif menghilangkan lumut-hijau. Dan masih tetap efektif dengan mengeringkan lahan, atau tidak menggenangi lahan dengan air. Tapi ya ada efeknya juga dengan hal ysng ni yakni, gulma atau rumput pengganggu akan tumbuh subur.

Itulah hama atau masalah baru yang mesti dihadapi oleh petani sekitar . disamping masih ada hama nyata semisal, keong emas yang masih terbukti memakan tumbuhan padi muda. Yang sebelumnya ada belalang hijau, namun kini sudah tidak ada belalang hijau nya.

***

Tanaman padi muda yang memerah

Selanjutnya ada masalah lain(hama) lagi yang mesti dihadapi oleh petani pada tanaman padi muda. Masih sewaktu dengan yang diatas yakni padi umur 0 hingga 1 bulan bahkan lebih, hama ini menyerang tanaman padi ang menyebabkan tanaman memerah.

Masih dalam misteri(kebingungan) kami, apa penyebabnya. Apakah karena seringnya lahan tergenangi, apakah lahan yang sudah terkontaminasi atau air nya. Hama ini jelas akan menghambat tumbuh-kembang tanaman padi, bahkan ada yang mati.

Dengan adanya masalah tanaman yang menerah ini otomatis tanaman padi akan ‘katrak’ atau terhambat pertumbuhannya, yang mana nantinya akan menambah lama masa panen, yang mundur hingga sekitar 1 minggu.

Ada yang mengatakan kalau hama ini disebabkan oleh bibit padi tertentu, ada juga yang mengatakan karena kebanyakan tergenang air. Duh jadi bingung…🙅

Kembali lagi solusinya kami, mencoba mengatasinya dengan mengeringkan lahan, hingga membuat parit-parit kecil di antara barisan tanaman padi guna membuang air, hingga lahan  benar-benar mengering. Namun hal ini juga tidak dilakukan waktu yang lama. Takutnya tanaman akan mati kekeringan atau  juga gulma akan tumbuh subur.

“Air menjadi solusi bagi petani, meskipun terkadang menghadapi simalakama, banyak air tumbuhan ada hama lumut-hijau dan tumbuhan menerah, sedikit air gulma akan tumbuh subur. Tapi inilah lika-liku seni nya bertani, ‘bermain’ dengan air”

***

Seiring masa pertumbuhan tanaman padi, sekitar usia 2 bulan hama tanaman yang memerah mulai menghilang dengan sendirinya, tanaman pun mulai menghijau dan siap untuk berbunga.