Bekas Stasiun Kereta api yang sekarang di gunakan sebagai Terminal Palbapang.

Beberapa hari terakhir media massa Jogja mengabarkan sebuah issue yangmana akan dihidupkan kembali jalur kereta api (kami menyebutnya Sepur) Jogja – Palbapang. Senada isu dihidupkan kembali jalur kereta api Jogja – Semarang.

Tapi apakah kabar ini akan benar terealisasi ? mengingat pembangunan daerah Bantul (jalan Bantul) yang saat ini sedang direnovasi dan padatnya penduduk di kota Yogyakarta, serta banyaknya persimpangan besar seperti perempatan ringroad Dongkelan) ??

Well,  terlepas dari rumor/ isu/ gosip diatas, akan lebih mengasyikka bila kita mengenang kembali akan jalur/rel kereta api yang dulunya mengiringi jalan Bantul dan berada di samping sungai buatan (sungai Winongo kecil).

fashback ke tahun 1980 dimana sewaktu saya kecil, saya masih melihat sisa jalur (rel kereta api) ini, yang mulai berkarat  juga di stasiun Palbapang dengan beberapa lajur rel yang juga  sudah mulai berkarat, disekitarnya tumbuh ilalang,  disana kami bermain, maupun main sepak bola. Dan jalur rel tersebut disepanjang jalan Bantul lambat laun rel tertimbun maupun ditimbun dan terkena pelebaran jalan. Bahkan rel yang berada di sekitar stasiun Palbapang dikabarkan ‘di curi’.

Jalur Jogja – Palbapang merupakan jalur kereta api dari stasiun Tugu Yogyakarta kearah selatan hingga stasiun Palbapang. Jalur ini beriringan dengan jalan Bantul dan juga sungai Winongo kecil. Urutannnya dari barat, sungai Winongo kecil lalu rel dan timur nya jalan Bantul.

Pada jaman dahulu, dimasa pendudukan Belanda sekitar akhir tahun 19800_an ada Sepur atau  kereta api dengan jalur Palbapang – Jogja(stasiun Tugu) tersebut hingga berakhir (perkiraan saya) sekitar tahun 1973 saat dimana kakak tertua ku (lahir 1971) berumur balita yang menurut simbok pernah diajak naik kereta api yang berbahan bakar: kayu/ batu bara tersebut.

Sedang di Palbapang ada atau merupakan stasiun tujuan akhir kereta api jalur paling selatan di daerah Yogyakarta. (Menurut literatur, juga dulunya ada jalur kebarat hingga Kulon progo, yakni jalur Yogyakarta – Sewugalur. Melewati Palbapang, Srandakan menyeberang sungai Progo hingga sampai daerah Sewugalur_Wates yang kabarnya dulu ada pabrik gula disana, namun katanya semasa pendudukan Jepang atau kisaran tahun 1943 rel lajur Palbapng ke arah barat dicopot dan dipindah ke Sumatera)

Dulunya di Palbapang terdapat stasiun besar, disana ada serangkaian tempat  perawatan untuk lokomotif juga, dan ada perumahan untuk para pejabat perkereta apian PJKA zaman dulu, (dan PT KAI untuk saat ini). Ada 3 lajur rel yag sewaktu saya kecil dimanfaatkan oleh warga sekitar, dengan kreatif-nya mereka membuat kereta dayung dan sempat dilombakan dan masuk tivi pula sekitar tahun 1984an.

Rute atau jalur Palbapang – Jogjakarta yang hanya sepanjang sekitar 15 km namun terdapat banyak stasiun kecil nya, setidaknya ada 5 stasiun kecil yang ada diantara Stasiun Tugu dan Palbapang,  diantara nya : Stasiun; Ngabean (NBN), Dongkelan (DKN), Winongo (WGO), Cepit (JIT), dan Bantul (PBL). Boleh dibilang dalam jarak 2-3 km ada stasiun_nya entah apa ya alasannnya.

Rutenya dari titik Stasiun Palbapang, ke arah  timur sekitar 200 meter lalu belok ki kiri atau ke arah utara sebelah barat jalan timur sungai , hingga daerah gose lalu menyerong ketimur jalan dan ada stasiun Bantul disana, terus sampai perempatan Klodran dan kembali menyerong ke Barat terus hingga sampai Cepit, yang afa Stasiun nya dan terus ke utara sampai Winongo dan menyeberangi sungai Winongo lalu utaranya ada stasiun Winongo. Ada lajur ke barat konon untuk akses pengankutan tebu dari PG Madukismo, Terus keutara sampai Dongkelan dan terus keutara lagi melewati barat pojok beteng kulon hingga sampai ke Ngabean, nah sampai sini saya sudah tidak mengetahui jalurnya lagi hingga sampai stasiun Tugu.

 Sampai saat ini dibeberapa titik di jalan Bantul, rel kereta api masih terlihat menonjol dibarat jalan Bantul, seperti di daerah Kweni (utara Winongo maupun, Dukuh(utara Dongkelan)/

Untuk lebih akurat, kita telusuri sejarah yang di kumpulkan oleh wikipedia…

Jalur kereta api Yogyakarta–Palbapang adalah jalur kereta api yang pernah dioperasikan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) Daerah Operasi VI Yogyakarta yang menghubungkan Stasiun Tugu Yogyakarta dengan Stasiun Palbapang. Jalur ini dahulu dilintasi oleh kereta api uap berbahan bakar batu bara yang difungsikan sebagai feeder atau pengumpan, karena menghubungkan Stasiun Palbapang dengan Stasiun Tugu Yogyakarta.

 

Sejarah

Jalur ini adalah bagian dari segmen jalur kereta api Yogyakarta-Sewugalur. Jalur ini pertama kali mulai dioperasikan pada tahun 1895 dan untuk lintas Srandakan-Sewugalur, dioperasikan pada tahun 1915, berdasarkan pengajuan konsesi perusahaan swasta pengelola pabrik gula di Kabupaten Bantul sebagaimana disebut dalam Gouvernement Besluit No. 9 Tahun 1893, mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1912–1919.

Pada tahun 1943, Jepang membongkar jalur kereta api untuk segmen Palbapang-Sewugalur untuk keperluan membangun jalur kereta api romusha.

Karena kalah bersaing dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum, PJKA akhirnya menutup jalur ini pada tahun 1973. Meskipun begitu, angkutan tetes tebu dari Pabrik Gula Madukismo masih dijalankan hingga dekade 1980-an.

 

Stasiun yang ada di jalur ini :

Stasiun Yogyakarta (YK)

Stasiun Ngabean (NBN)

Stasiun Dongkelan (DKN)

Stasiun Winongo (WGO)

Stasiun Cepit (JIT)

Stasiun Bantul (PBL)

Stasiun Palbapang (PLP)

 

Advertisements