Intake Kamijoro

Belanda, yang sempat menjajah negara kita selama 3,5 abad atau 350 tahun. Meninggalkan beberapa bangunan bernilai sejarah diberbagai wilayah, hingga ke wilayah distrik, baik berupa gedung maupun non gedung.

Seperti di Kecamatan Pajangan, yang mana terdapat sebuah bangunan pintu air atau warga sekitar menyebutnya Ngantru, atau juga bahasa Inggris nya intake, ataupun kita menyebutnya dam. Yangmana intake ini  mengambil air sungai kemudian dibuat parit sebagai penerus aliran air atau yang biasa disebut dengan kanal. Dan kanal mengarah ke mana saja yang diinginkan guna kebutuhan  pengairan(irigasi) baik perkebunan maupun pertanian.

Menurut salah satu dari dua prasasti yang ada disana, yang dinamakan intake Kamijoro tersebut, menyebutkan peletakan batu pertama pada 28 Februari 1924, (selesai pada tahun 1939). Tertanda Raja Yogyakarta, Sri Sultan H. B VIII (kedelapan) dan Gubernur Belanda di Yogyakarta P.W. Jonquiere.

Dua Prasasti yang ada di intake Kamijoro
Prasasti yang bertuliskan tentang peletakan batu pertama intake Kamijoro

Sempat beberapa kali saya mendatanginya, selalu menarik untuk sekedar mengamati. Bahkan sayapun pernah menyusuri aliran kanal ini hingga sampai jalan Srandakan atau  sekitar 10 km dari intake tadi, sedang panjang total saluran air ini kurang lebih 69Km dengan jumlah total 105 titik pintu air yang melewati 4 kecamatan di Bantul bagian Barat Daya.

Menariknya intake Kamijoro ini tidak ada bendungannya, hanya memanfaatkan bentuk alur sungai yang pas menikung atau meliuk, (jadi secara sendirinya arus bisa deras masuk) dan membuatkannya pintu air, serta membuat parit atau kanal atau saluran air sepajang 64 km tadi kearah tenggara dan mampu mencukupi kebutuhan irigasi untuk wilayah 4 kecamatan di Bantul diataranya; Pandak, Sanden, Kretek dan Srandakan.

Fungsi utama dari intake ini jelas untuk keperluan pengairan pertanian/ irigasi. Ibaratnya sedikit mengambil air dari sungai/ kali Progo. Sungai Progo mempunyai debit air yang sangat besar, karena sungai ini merupakan indukan/ bermuaranya dari setidaknya 15 sungai yang ada. Sungai progo yang berhulu dari Gunung Sundoro Wonosobo mengalir ke arah Timur_ Selatan (Tenggara) menujun Yogyakarta hingga bermuara ke laut Selatan (samudera Hindia) tepat di sebelah barat pantai Pandansimo Srandakan Bantul.

Begitu juga dengan kanal ini , berhulu/ dari intake Kamijoro ini yang awal-awal saluran, alur nya meliuk mengikuti alur sungai Progo, kemudian mengarah ke Tenggara.

Intake Kamijoro sepertinya menjadi bangunan pintu air/ dam yang tertua dan pertama dalam pemanfaatan aliran sungai Progo, yangmana kemudian ada bendungan Ancol di daerah Bligo Kalibawang Kulonprogo yang menjadi hulu dari Selokan Mataram, di bangun pada masa kependudukan Jepang sekitar taun 1942-1945.

Lalu ada Bendungan Sapon yang berada di selatan dari intake Kamijoro  yang masuk wilayah Lendah Kulonprogo, untuk irigasi di tiga kecamatan di Kulonprogo, merupakan bangunan baru, yang di bangun tahun 2005 hingga 2008.

***

Kembali ke intake Kamijoro, di titik ini pada tahun 2008 di sah kan oleh pemerintah Provinsi DI. Yogyakarta sebagai kawasan cagar budaya Non Gedung oleh Gubernur DI Yogyakarta pada tanggal 12 November 2008, seperti yang tertera pada prasasti yang ada disana.

Prasasti penghargaan warisan budaya oleh Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan HB X 12 November 2008

Sedangkan pemerintah daerah/ kabupaten menjadikan nya sebagai obyek wisata mini atau sebua taman dengan dibagun ulang ditirik intae inu. Pun Juga dengan pemerintah desa setempat yag menjadikannya dengan sebutan Taman Belanda ,  meskipun menurut saya tempat tersebut agak sedikit kurang tepat jika dijadikan tempat wisata/ taman, khusus nya untuk balita maupun anak-anak, meskipun juga sudah diantisipasi dengan pembuatan pagar. 

Taman Belanda intake Kamijoro

Sedikit mencermati intake Kamijoro, yang mana terdapat 4 pintu air, lalu saluran kontrol dan saluran air / kanal yang dititik awal berada dibawah permukaan tanah. Terdapat pula pompa yang sudah tidak difungsikan atau sudah rusak (yang dicat merah itu) yang menimbulkan tanya bagi saya, dengan apa kira-kira daya penggeraknya pada saat itu? Listrik ? Sepertinya belum, atau bahan bakar lain , uap atau minyak solar? Hmmm masih perlu penelusuran yang mendalam.

Saluran pengontrol air dam intake Kamijoro
Bekas mesin pompa di intake Kamijoro
Bekas dudukan pompa penyedot pasir di intake Kamijoro
Pintu air Intake Kamijoro dilihat dari seberang sungai

Kabarnya pompa tersebut digunakan untuk menyedot pasir yang ikut terbawa ke saluran / bak kontrol.

***

Saat ini (mulai 2016-2018) sedang ada pembangunan proyek  besar di dekat intake ini (arah hulu), kabarnya direncanakan untuk optimalisasi intake ini atau rehabilitasi dengan membuat bendungan,  yang kabarnya menggunakan dana sekitar 217 milyar. Jadi kemungkinan besar akan seperti bendungan Sapon, Yang kemungkinan ada jalan penghubung diatas bendungan. Dan dengan adanya bendungan debit air pastinya lebih banyak dari yang sekarang, otimatis kebutuhan irigasi saat musim kemarau akan tercukupi.

Pembangunan bendungan Kamijoro

Oiya letak geografis Intake Kamijoro  berada di wilayah dusun Plambongan, desa Triwidadi Pajangan, Bantul, atau tepat berada di pinggir  Jl. Sedayu- Gesikan (6,3 km dari pertigaan Jodog Pandak), atau Jl. Argorejo, 8,7 km dari perempatan Sedayu(Jl. Wates) dan  atau bisa dilihat peta/ google map.

Disini view nya sangat indah, dengan meghada ke Barat Daya, maka saat matahari terbenam akan berkesan lebih syahdu. Dan juga disini bayak dijasikan spot  bagi para pemancing.

Dipinggir intake banyak yang mancing
Nih para pemacing di sungai Progo seberang intake Kamijoro sebelum dibangun bendungan baru

Jika anda kebetulan lewat atau penasaran silahkan mengunjunginya, jika mengajak balita dan anak-anak mohon lebih dijaga dan diawasi ya…!!!!

Taman Belanda Plambongan intake Kamijoro

 

Advertisements