Titik tanjakan tertinggi Cinomati

Akhirnya Minggu(3/9) kemarin kesampaian juga melewati dan stay sebentar di sebuah spot tanjakan ‘killer’ (bisa dibaca maut) namun bukan menyababkan hilangnya nyawa orang (semoga tidak) tapi menyebabkan matinya mesin kendaraan, karena tidak kuat menanjak.

Mungkin dari namanya saja sudah terbaca dan terdengar ngeri atau keramat kali yach…Cinomati, jika dipisah khan ada satu unsur kata ‘mati’. (Jalur Cinomati merupakan ruas jalan Pleret-Pathuk, masuk wilayah desa Wonolelo, Pleret, Bantul, jalur ini bisa dikatakan merupakan jalan alternatif dari Jogja ke Gunungkidul.)

Jalur tanjakan Cinomati

Well lepas dari itu, saya coba sedikit mengamati disana, dengan keterbatasan intelektual saya tentunya. Sekedar mengamati saja, dan ternyata benar adanya, banyak kendaraan(motor atau mobil) mogok, tidak kuat menanjak. Perkiraan saya panjang tanjakan ini sekitar 100 meter, seperti layaknya jalanan di daerah pegunungan, menajak lalu belok kekiri dan masih menanjak lagi.

Titik spot tanjakan Cinomati
Titik spot tanjakan Cinomati

Di spot atau titik inilah gaya dorong kebawah(gravitasi) sangat besar sekali, atau di ujung tikungan tepat pak polisi berdiri (lihat gambar diatas.). Nah disekitar itu saya sempat berdiri, badan terasa tertarik kebawah atau akan terhempas kebawah. Disinilah menurut salah seorang warga desa Wonolelo yang sering jaga disana, mobil ‘habis’ disitu, bahkan ada merk mobil tertentu yang sering tidak kuat menanjak, ya di situ.”

 

Masih menurut warga tadi, sebenarnya jalan ini sudah lama digunakan(diaspal,) sekitar tahun 2006, tapi baru ‘booming’ sekarang saja saat lebaran kemarin(1438H).

Awalnya inisiatif warga desa Wonolelo (yang tergabung dalam aksi sukarelawan,) yang merupakan desa terdekat yang menjadi sukarelawan siaga di titik tersebut guna membantu siapa saja yang lewat, sekiranya tidak kuat menanjak maka akan dibantu didorong hingga ke titik aman. Lalu seiring berjalannnya waktu, tim dari SAR DIY, Polsek Pleret, BPDB Bantul, RTC, mulai siaga dititik tanjakan Cinomati tersebut. dan dibantu sukarelawan dari manaupun yang datang silih berganti turut serta siaga, stay dan siap mendorong.

Untuk koordinasi di titik tersebut hingga saat ini, masih bersifat spontanitas, pihak-pihak terkait (hanya) masih bersifat memfasilitasi saja, semisal pihak kepolisian setempat dalam hal ini Polisi Sektor(Polsek) Pleret menempatkan beberapa personilnya di sana, juga beberapa badan, seperti SAR DIY, BPDB Bantul juga menempatkan beberapa personilnya, dikabarkan satu ambulance juga telah disiagakan.

Kedepannnya akan di koordinasi lebih terarah lagi guna mencari solusi dari tanjakan Cinomati ini. Awal nya akan dibangun posko permanen, karena saat baru terpasang sebuah tenda bantuan (lupa dari SAR atau BPDB Bantul…)

Tenda darurat di tanjakan Cinomati

Dikabarkan pula kapolres bahkan kapolda DIY juga pernah meninjau tanjakan ini.

yapz semoga kedepannnya akan ada solusi tepat untuk tanjakan ini, karena menurut saya tidak mungkin khan selamanya mengandalkan tenaga sukarelawan untuk mendorong kendaraan (kabarnya 5 kali dorong tenaga sudah habis), meskipun para sukarelawan senang melakukannnya dan ikhlas tentunya.

Sempat ngobrol ringan dengan korlap dari SAR DIY, yang semalam (malam minggu( siaga hingga jam 9 malam, saya juga meyakinkan,” apa tidak gelap pak disini?”

Ternyata PLN memfasilitasi dengan menyambungkan daya dan memasang lampu penerangan sementara. Penyambungan daya yang bisa digunakan untuk mengisi ulang daya batre handphone atau gadget lainnya.

Lampu penerangan sementara di tanjakan

Oke demikian sedikit ulasan mengenai jalur Cinomati yang sedang booming, disamping juga jalur alternatif ini memang banyak disukai guna memangkas jarak bila dari Jogja ingin ke Gunungkidul, terlebih jalur ini juga akan menuju obyek-obyek wisata yang berada di wilayah Bantul sisi timur, seperti puncak becici, pengger, hutan pinus, dan obwis baru lainnnya yang banyak bermunculan saat ini.

 

 

 

Advertisements