Ilustrasi Skip Challenge – foto : okezone

Akhir-akhir ini sedang ramai diberitakan dan menyebar di funa maya media sosial yakni sebuah aksi yang bisa dibilang ‘iseng yang kebablasan’, “Skip Challenge” namanya. Jika melihat video yang beredar ini banyak  dilakukan oleh anak-anak pelajar setingkat SLTP & SLTA.

Lalu apa kah “Skip Challenge”?

Skip Challenge adalah sebuah sebutan tindakan yang menekan/ memberi tekanan dengan kedua tangan pada  dada seseorang dengan keras selama beberapa saat(menit) hingga seseorang tersebut berkurang pernapasannya atau menghentikan otot dada bergerak, sehingga asupan oksigen minim di otak.

Melihat fenomena yang beredar, yang sangat membahayakan dan meresahkan ini , dr Eni Gustina, MPH, Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, angkat bicara…

Skip challenge nyatanya sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan hipoksia, kejang, pingsan, kerusakan otak, bahkan kematian. Saat melakukan passout challenge (atau skip challenge) mereka meniru kondisi kekurangan napas. Itu menghentikan otot dada bergerak, sehingga oksigen minim di otak.

 

Meski kesadaran bisa kembali, namun ada risiko lain dari skip challenge, yakni terjatuh atau cedera setelah siuman dari pingsan. Di samping itu, jika otak kekurangan oksigen lebih dari tiga menit maka bisa mengakibatkan kerusakan, bila lebih dari 5 menit akibatnya jauh lebih fatal.

“Padahal jika otak kita dalam waktu 8 detik saja  tidak mendapatkan oksigen, bisa terjadi kerusakan pada sel-sel otaknya,” jelas dr Eni.

 

Dan ini tanda-tanda jika seseorang/ anak telah sempat kena perlakuan skip challenge ;

 

Memar atau ada bekas tekanan

Periksalah di area leher atau dada anak, bila terdapt luka memar atau bekas seperti ditekan,  Anda perlu bertanya. Selain itu, memar pada bagian kaki, kepala, atau bagian lainnya bisa timbul akibat mereka jatuh pingsan sebagai efek sementara permainan Skip Challenge.

 

Pusing kepala

Biasanya anak mengeluhkan sakit kepala sepanjang hari setelah ia melakukan permainan Skip Challenge. Sakit kepala terjadi pada area depan dan bisa menjalar pada indera penglihatan mereka.

 

Mata merah

Selain timbul tanda-tanda di atas, mata merah juga timbul seusai anak menguji diri mereka dengan permainan Skip Challenge. Mata anak cenderung terlihat satu dan lemah, disertai dengan rasa pusing.

 

Disorientasi

Karena permainan ini memiliki dampak pada otak akibat pasokan oksigen menurun, anak -anak mengalami kebingungan sesaat saat diajak bicara. Akumulasi dampak ini dapat berakibat masalah orientasi spasial.

 

Sumber : krjogja.com

Advertisements