Review Blak-Blakan Test Ride Suzuki GSX-R 150

16938542_10208904901482935_8730515991835358305_n.jpg

Berikut Penuturan Bro Febrian Rush  (Jogja) sesaat  setelah ‘Njajal’ Suzuki GSX-R 150, monggo silahkan di

 

Review blak-blakan dari seorang rider harian. Bukan pembalap, cuman seneng gaspol. Bukan media populer atau blogger kesohor juga.

Sekedar ingin berbagi apa yang saya rasakan.

Buat yang masih ragu untuk meminang, mungkin ini bisa membantu.

Buat yang udah kepengen, silakan juga dibaca, biar makin kebelet. Hahaha.

….

Febrian Rush ·

REVIEW : Suzuki GSX-R150

(Tulisan ini bakalan panjang dan penuh dengan kejujuran yang brutal. Silakan dishare kalau sekiranya menarik dan bermanfaat.)

Sori, ga ada foto waktu saya ngetes. Sebagai gantinya, cukuplah ini foto waktu di IMOS.

Ini adalah review dari seorang rider maniak performa, penggila kecepatan, dan (kadang) penyiksa motor.

Pertama kali saya dengar berita Suzuki mau ngeluarin sport lagi, saya skeptik. Paling cuman ulah blogger sampah pemburu klik. Ternyata makin lama, beritanya makin terkuak. Ya, Suzuki bakalan ngeluarin sport lagi. Setelah belasan tahun penikmat Suzuki dipaksa ‘makan produk warung sebelah’ yang ‘meh’.

Dari sketsa-sketsa yang bocor, spyshot yang ada dari para blogger kondang, saya cuman mencibir. What a ***** design. Lampu kayak mangkok bakso, buritan nonggeng kayak sport warung sebelah, itu pelek, pelek FU dilurusin palangnya?? Hah.

Keacuhan terus berlanjut, dan saya tidak berharap banyak. Sampai akhirnya foto-foto fisik aslinya beredar di dunia maya. ‘Hmm.. Gak sejelek yang saya kira’ pikir saya. Tapi tetap saja, dibanding EsBeer & ErMalas, busuk banget kayaknya desainnya. ‘Gimana sih Suzuki, ga bisa apa nyewa desainer yang bagus?’.

Tetapi…

Seiring waktu, semakin lama dilihat, semakin suka rasanya. Witing tresna jalaran tanpa busana, eh, i mean ‘witing tresna jalaran saka kulina’.

Dari yang hanya suka buka-buka galerinya, akhirnya saya jadikan wallpaper. Dari yang suka mandangin wallpapernya, akhirnya saya berpikir ‘wah pokoknya harus liat fisiknya langsung!’

Kesempatan datang di awal November 2016. Saya ada urusan di Jakarta, dan ketika itu pas banget dengan launching GSX series di IMOS. Okelah, saya mampir aja, sekalian ketemu teman-teman yang biasanya cuman bisa ketemu online.

Begitu lihat langsung, BLAAARRR…

OMG THIS.. THIS IS SO BEAUTIFUL. ******* AMAZING!!! CAANTIK SEKALI.

Dan aura kecantikan yang dipancarkan oleh GSX (terutama yang R. Saya gak peduli sama yang S, bukan style saya) bukanlah aura menor berlebihan, yang hanya memikat sesaat.

Tapi aura yang dipancarkan itu, pelan.. lembut.. namun memikat dan perlahan menusuk menghunjam hati yang terdalam. Seperti dicekoki feromon pelan-pelan tapi terus-menerus, dengan dosis yang semakin lama semakin tinggi.

Semakin lama dilihat, semakin memikat. Apalagi kalau sudah pernah bertemu langsung.

Dan bukan cuman saya yang merasa seperti ini.

Di IMOS, seperti di gambar, saya hanya menduduki motor diam. Tapi dari diamnya sebuah motorpun, dia bisa ‘berbicara’. Dari posturnya, dari ‘aroma’nya, dari sudut setangnya, dari tampilan kokpitnya, dari klik balik tuas rem depan saat ditekan, dari pantulan suspensi depan dan belakang saat ‘dienjot-enjot’.

Tepat di momen itu juga, saya merasa ‘ini motor SPESIAL!’

Gak perlu koar-koar DNA balap, malah sangat berasa kalau ini adalah motor race-bred. Keturunan balap.

Dari mana saya tau?

Seperti di foto, salah satu pose favorit saya saat menduduki sebuah motor sport adalah pose tuck-in. Menunduk full, berlindung di balik fairing dan windshield.

And it feels SOOO natural… Terasa sangat alami sekali, nyaman. Seolah sang mini Gixxer membisikkan ke saya ‘hey.. aku dilahirkan untuk digaspol..’

Sayangnya saat itu saya hanya menduduki motor diam. Tapi saya sudah yakin 99% kalau motor ini ENAK. 1% yang tersisa, adalah pembuktiannya.

Akhirnya kemarin, 22 Februari 2017, kesempatan yang lama saya tunggu, datang juga. Kesempatan untuk test ride. Merasakan sendiri sensasi sang mini Gixxer.

Berlokasi di kantor Adira Jogja pusat, Jl. H.O.S. Cokroaminoto, saya akhirnya bisa membuktikan ‘bisikan-bisikan’ yang saya terima hampir 3 bulan lalu, dari Gixxer-Gixxer yang terdiam.

Saya berusaha datang pagi dengan teman saya yang montok, yang seperti saya bilang di atas, sebenarnya penyuka Suzuki, tapi dia lelah menanti, akhirnya terpaksa mengkonsumsi ErMalas. Ya mungkin adanya itu. Atau EsBeer. Tapi terlalu kecil untuk badannya.

OK let’s cut the bulls***.

Setelah berulang kali menonton banyak video tentang banyak video tentang pengoperasian keyless system di GSX-R150, saya sudah (merasa) paham. Tapi apa yang saya rasakan adalah, sensasinya sangat menyenangkan sekali. Seakan-akan kamu gak perlu cabut-colok kunci dan kuncinya terus-terusan kepasang di situ. Well, i mean, that’s quite literally. LOL. Itu cukup harfiah. Karena, kuncinya GSX-R150 memang selalu ‘kepasang di situ’. Dan kita tinggal ngantongin remotenya aja.

Setelah sedikit briefing dari KaCab Grup Indo Jaya Gejayan (yang tampak sabar dan antusias berulang kali menjelaskan hal yang sama ke orang yang berbeda), tanpa ba-bi-bu, saya ambil rute memutar sebentar di dalam kantor Adira, lalu langsung keluar ke jalan raya.

Gass to the Poll.

Buat orang Jogja, maksudnya, buat orang Jogja yang suka ngebut, pasti paham gimana nikmatnya jalan H.O.S. Cokroaminoto. Dari arah utara kita bisa gasspoll sepuasnya (dengan tetap waspada tentunya, karena di timur jalan ada SPBU), yang lalu ditutup dengan fast corner ke kiri (atau ke kanan, kalau dari arah selatan).

And that’s what i did. Dan itulah yang saya lakukan.

Keluar kantor Adira, langsung saya oper gigi di sekitar 11-12.000 RPM. BETTT BETTT BETTT WOOOHOOOOO.. Ternyata feeling saya dulu kini 100% tepat!

Mesinnya eenaaakkk sekali. Khas overbore DOHC Suzuki. RPM cepet naiknya.

Saat mendekati SPBU, saya mengerem sedikit, menghindari kendaraan yang keluar dari SPBU dan mau nyeberang. Atau seenggaknya saya pikir saya cuman ngerem sedikit.

Karena ditowel sedikit, udah ngerem banyak. Pakemmm banget. Rem depannya ueeennaaakkkk bangettttt!!! Sampai hari ini pun saya masih syok gimana perangkat rem depan yang tampak biasa aja seperti rem di motor kebanyakan, bisa seenak itu. Tekanannya, jarak mainnya, tekanan balik tuasnya, kepakemannya.. OUTSTANDING.

Saya yang biasa ugal-ugalan pun, gak merasa butuh untuk diupgrade sektor rem depan itu. It is ABSOLUTELY AMAZING. Kecuali kamu berak duit dan mau begaya, silakan lah diganti Brembo RCS pus kaliper empat pistonnya.

Lanjut ke selatan dikit, sampai sebelum lampu merah, saya putar balik lagi ke utara. Dan di utara lampu merah ini, ada rel kereta. Rel yang sangat menyebalkan sekali, karena persambungan dengan aspalnya sangat tidak mulus. Ancur bos.

Dan ini judulnya test ride gaspol, ngapain saya ngerem ngelewatin rel ini?

Buat yang biasa riding sama saya, pasti tau kalo saya gak pernah ngerem kalo ngelewatin polisi tidur atau rintangan. Ngapain? Wasting time. Buang waktu. Mending di-bunny hop aja motornya, dilompatin rintangannya.

Dan AJAIBNYA, suspensi GSX-R150 yang kerasa ‘agak keras’ bagi kebanyakan orang awam, memberi kenyamanan yang cukup saat saya ajak main kasar melintasi rel. ‘Hey, this is not as hard as i think it would be’, tentang karakter sokbrekernya.

Lanjuuuttt gasspoll ke utara. Saya habiskan operan di hampir redline di setiap giginya, lalu di tikungan cepat ke kanan, langsung saya geser pantat keluar, badan atas menjorok keluar dari garis tengah bodi motor, bersiap memasuki tikungan.

WUUUSSSS…!!!

Tikungan cepat ke kanan itu berhasil saya libas dengan mulus, cepat, dan anteng. AMAT. SANGAT. ANTENG. Saat akan keluar tikungan sempat mata ini melirik spidometer ‘oh 100 Km/H..’ dan PAS di tengah tikungan, saya baru nyadar kalau BAN DEPAN KURANG TEKANAN ANGIN.

F***!

Dengan tekanan angin kurang dan ban seadanya (bawaan pabrik) plus sokbreker teleskopik kerempeng (31 mm) dan swing arm kurus gitu, BISA SEANTENG ITU!??

Semua hanya perkataan dalam batin saya saat bersamaan saya gasspoll balik ke Adira, sambil ketawa-tawa bagai orang gila, bergidik dan bergedek, terpesona dengan apa yang baru saja terjadi.

UN-F*****G-BELIEVABLE.

Saya lalu melambatkan laju, memasuki kantor Adira. Lalu memarkirkan sang mini Gixxer, dan beranjak dari motor dengan keadaan sumringah.

SANGAT PUAS.

Oke, mungkin motor ini ada beberapa ‘kekurangan’nya seperti setang terlalu nunduk (hellooowww.. segitu nunduk? berarti kamu perlu lebih banyak jajalin motor sport tipe lain yang lebih variatif), jok belakang tinggi jadi ga nyaman buat boncengan (beli motor sport mikirin pembonceng? kayaknya kamu salah pilih genre bro), buntut belakang yang terlalu nungging (bagi sebagian orang. bisa diakalin dengan modif linkage sokbrekernya), dan ga ada standar tengahnya (dude. seriously??).

Tapi semua itu tidak penting.

Apa yang penting ialah ini adalah motor sport, cukup dinikmati sendiri, dengan segala sensasinya. To hell with passenger. Copot aja itu footstep belakang, ganti jok pake single seat.

And just ride it with anger.

[10/10]


 

Advertisements

5 thoughts on “Review Blak-Blakan Test Ride Suzuki GSX-R 150

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s