Saat aksi demonstrasi penolakan taksi online oleh komunitas supir taksi konvensional di Jogja pagi ini(Jum'at, 18/02/2017)
Saat aksi demonstrasi penolakan taksi online oleh komunitas supir taksi konvensional di Jogja pagi ini(Jum’at, 17/02/2017)

Pagi ini dikabarkan ada aksi demonstrasi menyangkut penolakan keberadan taksi online oleh komunitas supir taksi konvensional.

Belum lama ini juga sempat terjadi keributan akan indikasi kesalahpahaman antar supir taksi konvensional dan supir taksi online di stasiun Lempuyangan.

Lalu bagaimana pendapat masyarakat Jogja sendiri akan keberadaan angkutan khusus berbasis didunia maya ini? Yang pastinya ada yang pro dan kontra, ada yang stuju dan ada yang tidak setuju.

Saya lansir dari akun facebook sebuah radio Jogja yakni SwaragamaFM, yang telah secara tidak langsung mencoba jajak pendapat kepada akademia; masyarakat Jogja akan keberadaan taksi online, antara setuju dan idak setuju. Di lakukan selama 5 jam pada hari ini Jum’at (17/02/2017) , dan mencatat setidaknya 97 komentar, jika diakumulasi ada 90% komentar yang menyatakan setuju dengan adanya taksi online, 4% tidak setuju, dan 6 % menyatakan abstain(setuju tidak setuju).

Berikut salah satu komentar yang menyatakan setuju:

Antonius Aryo Widiatmoko

Setuju banget. Karena taksi online punya 2 kelebihan simple ini:

1. Harganya udah nongol duluan di apps

2. Rutenya udah jelas di apps.

 

Fakta2 ketidaknyamanan pake taksi berargo (konvensional):

 

1. masih ada yg sering ga mau pake argo khususnya dari stasiun atau jombor

 

2. Kalopun mau pake argo, kadang masih ada yang minta tambahan 5 ribu atau 10 ribu dari argo.

 

3. Di stasiun/bandara bahkan banyak sopir taksi yang kesan nya pake seragam, dan misal konsumen deal setelah didekati sampe ke mobil teryata mobilnya plat hitam dan sudah lawas (misal escudo tahun 1995an) lha ini taksi apaan?? Ini berpotensi bikin turis/wisatawan terjebak krn mengira ini taksi berargo jika diliat dari penampilan drivernya.

 

Maaf sy koment realistis ajah. Faktanya bgitu.

Ini komentar yang abstain :

Rofi Muhammad

Setuju tidak setuju…

tidaklah bijak jika mencari pihak yang salah. Kalaupun ada pihak yang harus disalahkan, maka semua akan menjadi pantas untuk disalahkan. Mengapa? Pihak taksi konvensional salah karena tidak tanggap dengan perubahan zaman. Pihak penyedia transportasi berbasis aplikasi salah juga karena tidak mengikuti peraturan yang berlaku, juga mereka tidak menyediakan harga yang berkeadilan dengan pesaing yang sudah lama ada. Pemerintah pun juga menjadi salah, karena tidak tanggap dalam melihat fenomena yang ada di masyarakat, dengan belum menyediakan peraturan yang dapat mengakomodir dan menertibkan konflik yang ada. Maka, sebenarnya solusinya tinggallah jawaban dari kesalahan semua pihak ini. Pihak taksi konvensional sudah harus lebih tanggap terhadap perkembangan teknologi, buatlah layanan yang sama dengan membuat aplikasi yang menarik. Pihak penyedia transportasi berbasis aplikasi, sebaiknya menggunakan plat kuning, juga tidak memberikan harga yang terlampau jauh dengan yang sudah ada sehingga persaingan menjadi sehat. Pemerintah, sudah selayaknya membuat peraturan, dan memastikan bahwa persaingan yang ada terjadi secara sehat dan tidak ada ‘adu modal’ yang merupakan ciri kapitalisme dan bertentangan dengan ekonomi kerakyatan. Terakhir, masyarakat akan dengan mudah memilih dengan cerdas apa yang mereka hendak gunakan…

Ini komentar yang tidak setuju :

Hendrawan

Sebenarnya taksi konvensional sekarang juga bisa online tapi sebut saja taksi konvensional.

Saya tidak setuju dgn adanya taksi online, seperti grabcar, kenapa?Apa tidak kasihan para taksi konvensional?…Taksi konvensional harus mengikuti undang2 yg dikeluarkan pemerintah, seperti taksi harus menggunakan tanda dan nomer, taksi harus memiliki pool dan infrastruktur, taksi harus tiap beberapa bulan KIR, taksi harus plat kuning….

Sekarang grabcar seperti itu tidak?….kalau grabcar mengangkut penumpang umum harusnya sesuai undang2, harus mengikuti undang2 juga termasuk menggunakan tanda, memiliki pool dan standar harga sesuai yg berlaku.

Terlepas dari setuju tidak setuju, semoga ada jalan keluar terbaik dari permasalahan ini, ini menyangkut hajat hidup orang banyak di Jogja khusus nya, mereka semua mencari makan, agar tidak terjadi saling srobot , saling berbenturan.

Semoga ini menjadi perhatian bagi , boleh jadi beberapa komentar di atas bisa dicari sari patinya, menjadi masukan bagi kebaikan angkutan khusus ini.

Sumber / selengkapnya bisa klik di swaragamaFM

Advertisements