Sejarah Gamelan Di Acara Sekaten Yogyakarta

Gamelan Keraton di Pagongan Area Masjid Gedhe Kauman

Gamelan Keraton di Pagongan Area Masjid Gedhe Kauman

Sekaten , sepanjang sepengetahuan atau yang pernah saya dengar merupakan sebuah kata syahadatain (dua kalimat syahadat)_ karena lidah jawa susah mengucapkannya, maka jadilah sekaten.

Dalam sejarahnya dahulunya sekaten merupakan satu syiar penyiaran agama islam di tanah jawa, yang mana kerajaan Islam pertama hadir di tengah masyarakat yang belum mengenalnya. Maka dari itu di buatlah sebuah acara yang di barengkan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni di bulan ketiga atau masyarakat jawa menyebutnya mulud atau bulan Rabiul awal tahun  Hijriyah. Karena masyarakat waktu itu suka akan musik, dimana gamelan merupakan alat implementasinya, maka dimasa awal kerajaan islam fi Jawa yakni Kerajaan Demak menggunakan metode membunyikan atau menabuh gamelan di area masjid, dan menarik massa, hingga masyarakat tertarik dan sekaligus tertarik pula untuk memeluk agama Islam, yang mana bila seseorang akan masuk Islam maka wajib mengucapkan dua kalimat syahadat(syahadatain= sekaten), itulah pemahaman saya akan sejarah sekaten yang pernah saya dengar baik dari ayah saya, kakek saya, guru SD saya dan beberapa literatur yang ada.

Lalu bagaimana dengan sejarah alat implementasinya yakni gamelannya?

Berikut saya kutipkan dari tribunjogja.com sejarah gamelan di acara sekaten…

Alunan gendhing Jawa terdengar merdu dari Pagongan Selatan Masjid Gedhe Yogyakarta Senin (6/12/2016) siang, para abdi dalem keraton Yogyakarta dengan pakaian biru-biru nampak fasih memainkan langgam-langgamnya.

Gamelan yang dimainkan sendiri bukanlah gamelan sembarangan karena merupakan perangkat gamelan legendaris kreasi Sultan Agung yaitu Kanjeng Kyai Guntur Madu yang tercatat dibuat pada tahun 1566 saka atau 1643 M.

Lantunan apik yang mampu membius masyarakat yang datang melihatnya tersebut kemudian berhenti saat azan Zuhur berkumandang.

Sebagai bagian dari syiar Islam yang dijaga selama ratusan tahun maka kegiatan dihentikan selama ibadah wajib (waktu sholat) umat Islam tersebut dilaksanakan.

Selain di Pagongan Kidul di Pagongan Elor juga ada satu set gamelan legendaris lainnya yaitu Kanjeng Kyai Nogowilogo yang umurnya sedikit lebih muda.

“Kedua gamelan tersebut akan ditabuh terus-menerus selama sekitar seminggu di Pagongan Lor dan Kidul Masjid Gedhe Kauman, menandai peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW dan bentuk syiar Islam,” jelas Penghageng II Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Krido Mardowo, KRT Waseso Winoto.

Kedua set gamelan yang sehari-hari tersimpan rapi di Keraton Yogyakarta tersebut pada malam sebelumnya sudah melalui prosesi Miyos Gangsa yang juga diwarnai dengan Sebar Udhik-udhik yang dilakukan oleh rayi dalem dan putri dalem secara bersamaan di Bangsal Ponconiti Keraton Yogyakarta.

Mengenai kedua gamelan legendaris tersebut KRT Waseso Winoto mengatakan tidak bisa dipisahkan dari syiar islam di masa lampau.

Ia menambahkan antara alunan gamelan dengan syiar islam di bulan maulid terutama berkaitan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW memang sudah dipelihara dari zaman islam berkembang di Jawa melalui Kerajaan Demak Bintoro.

Prosesnya pun sama yaitu dengan membunyikan gamelan sebagai pengundang masa selama jangka waktu tertentu.

“Sayangnya waktu Demak jatuh tradisi ini sempat terhenti karena gamelan yang asli dari Demak dibawa ke Cirebon dan sekarang ada di museum nasional maka terhenti sementara di zaman (Keraton) Pajang vakum karena ada perang,” jelasnya.

Kotagede

Sejarah berjalan Kerajaan Mataram Islam memindahkan pusat kekuasannya di Kotagede namun kembali belum bisa menjalankan tradisi ini karena di sana masih tahap babat alas.

Bertahun kemudian saat kondisi di Kotagede sudah mulai mapan, maka atas instruksi Sultan Agung maka dibuatlah sepasang gamelan yaitu Kanjeng Kyai Guntur Sari dan Kanjeng Kyai Guntur Madu.

Seiring adanya dua gamelan tersebut maka tradisi sekaten kembali digaungkan dan tidak pernah putus meski pusat kerajaan dipindah mulai dari Pleret Kartasura hingga Surakarta hingga akhirnya terjadilah Perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi Surakarta dan Ngayogyakarta.

Perjanjian Giyanti yang krusial itu juga akhirnya menyepakati dua set gamelan kreasi Sultan Agung tersebut harus dibagi antara dua keraton.

“Karena Perjanjian Giyanti lalu (gamelan) dibagi dua, seng sepuh Guntur Sari kangge solo seng enom Guntur Madu kangge Yojo (yang tua Guntur Sari untuk Solo, yang muda Guntur Madu untuk Yogyakarta),” jelasnya.

Namun karena kalau hanya ada satu tidak lengkap maka masing-masing keraton kemudian mengcopi rancangan yang sama dimana Susuhan Pakubuwono IV dari Surakarta membuat tiruan dari Kanjeng Kyai Guntur Madu, begitu pula Sultan Hamengkubuwono membuat tiruan dari Guntur Sari.

Namun karena di keraton Yogyakarta sudah ada set gamelan yang dinamai Kanjeng Kyai Guntur Sari maka set gamelan baru replika dari Kanjeng Kyai Guntur Sari kemudian diberi nama Kanjeng Kyai Nogo Wilogo.

“Di sini dapat Guntur Madu, supaya jadi dua maka mengcopi Guntur Sari tapi kemudian disebut Nogo Wilogo karena sudah punya gamelan Guntur Sari,” jelasnya.

Terawat Baik

Hingga kini kedua set gamelan tersebut diakuinya masih terawat dengan baik dan selalu dihadirkan di Pagongan Masjid Gede Kauman Yogyakarta dalam 7 hari terakhir puncak perayaan sekaten.

Keduanya nantinya akan ditabuh bergantian dengan nada laras pelog(Pelog adalah satu dari dua skala (tangga nada) yang esensial dipakai dalam musik gamelan asli dari Bali dan Jawa di Indonesia. Skala lainnya adalah slendro. Skala pelog dapat dibuat dengan cara merangkaikan interval sempurna keempat dengan interval yang cukup lebar, sekitar 515 sampai 535 sen)[wikipedia]

Dalam penempatannya Kanjeng Kyai Guntur Madu yang usianya lebih tua diletakkan di Pagongan Kidul atau Selatan sementara Kanjeng Kyai Nogowilogo yang usianya lebih muda diletakkan di Pagongan Elor atau Utara.

“Seng kidul utowo tengene ngarso dalem ingkang sepuh Guntur Madu, seng elor Nogo Wilogo, meniko mpun paugeran prantan (yang selatan atau sebelah kanannya raja adalah yang tua Guntur Madu, yang utara Nogo Wilogo, itu sudah peraturan ketetapan dari keraton),” tambahnya.

Pemain yang memainkan kedua gamelan tersebut pun tidak sembarangan karena harus merupakan abdi dalem yang terlatih dalam memainkan gamelan.

Di zaman dulu mereka masih harus memenuhi syarat lain seperti harus berpuasa selama 40 hari agar jiwanya bersih.

Namun saat ini tradisi tersebut sudah tidak berjalan walaupun tetap saja ada syarat-syarat khusus untuk menabuh gamelan tersebut.

“Seng penting resik manahe resik lan suci awake, nek siyam saniki mpun mboten wajib (yang penting bersih pikirannya bersih dan suci badannya, kalau puasa sekarang sudah tidak diwajibkan lagi) ,” urainya.

Dan setelah tujuh hari bertugas, nantinya gamelan tersebut akan kembali dibawa pulang ke keraton melalui prosesi Kundur Gongso guna disimpan kembali dan dikeluarkan di acara sekaten tahun selanjutnya.

(tribunjogja.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s