_ducati-2016-livery-01.middle

 

 

Ducati GP16

 

Awal era empat-tak di tahun 2002 menjadi titik balik bergabungnya kembali Ducati ke kancah Kejuaraan Dunia MotoGP, dan memulai sebuah dinasti.

Saat berlangsung GP Italia tahun 2002, Ducati memperkenalkan mesin prototype MotoGP nya, dari pusat pabrik-nya di Bologna dilakukanlah perubahan dari mesin suksesnya di WorldSBK menjadi prototype balap MotoGP untuk menjemput  kemenangan-kemenangan dan hasil teratas di puncak Kejuaraan.

 

2003

Troy Bayliss, sosok yang telah sukses besar membawa Ducati di ajang WorldSBK, dan Loris Capirossi seorang pembalap berpengalaman tinggi di waktu itu yang mana menjadi pembalap pabrikan pertama bagi team Ducati untuk petualangan baru-nya di atas motor GP3. GP3 yang utamanya di beri label dengan kode 90° V-Twin dengan katub desmodromic, yang mana kedua-nya masih ada di mesin Ducati MotoGP hingga sekarang.

Kesuksesanpun segera diraih oleh Ducati bersama Capirossi yang berhasil menduduki posisi ketiga di GP Jepang, sedang motor meraih posisi pertama di Kejuaraan Dunia. Capirossi meraih kemenangan sensasional di GP Catalan tahun itu juga.

Antara Capirossi dan Bayliss, Ducati tegaskan kemenangan dengan meraih posisi pole dua kali, sembilan podium, dan menang di tahun pertama bersama kedua-nya masuk di enam besar.

 

2004

Bayliss dan Capirossi keduanya tetap di team pabrikan ini, tapi mesin GP4 terbukti lebih sulit dan Ducati hanya mengumpulkan dua podium selama setahun. Loris Capirossi mengakhiri musim hanya di posisi kesembilan dan Troy Bayliss ke-14 dengan DNF.

 

2005

Carlos Checa datang mengambil alih posisi Bayliss di 2005, Ducati juga mengganti ban dengan Bridgestone selama semusim. Bridgestone dan Ducati saling bekerja sama mencari setingan terbaik untuk mesin dan ban.

Capirossi sekali lagi menjadi pembalap yang memimpin dengan tiga pole, dua juara dan dua podium, disamping itu Checa juga memetik kemenangan pada ketiganya.

 

2006

GP6 yang dibanggakan dengan peningkatan aerodinamis dan mesin yang bertambah baik, ini memberi kesempatan bagi Capirossi hingga akhirnya mampu memimpin balapan diawal tahun. Sebuah Musim dimana Ducati menerima salah langkah dikala si pembalap baru ysng baru saja teken kontrak ‘Sete Gibernau’ dan Capirossi terlibat saling bersenggolan di tikungan pertama, menyebabkan keduanya melewatkan seri berikutnya yang jelas merugikan mereka. Namun ada Sebuah titik terang tersorot datang di Valencia dikala Troy Bayliss menggantikan posisi Gibernau yang sedang sakit, dengan meraih kemenangan di atas Capirossi. Dan Capirossi mengakhiri musim di urutan ketiga dan Ducati mengukuhkan sebagai Pemegang Kejuaraan.

 

2007

Di tahun 2007 Casey Stoner bergabung ke Ducati berdampingan dengan Loris Capirossi, mesin GP7 mereka dirubah guna memenuhi aturan pembatasan kubikasi mesin pada 800cc. Filippo Preziosi bertanggung-jawab terhadap Ducati Corse yang dituntut bekerja keras dibelakang layar untuk mengembangkan motor selama hampir setahun. Di Qatar sebuah kombinasi apik antara Ducati dan Stoner terbuktikan menjadi ‘yang tak terhentikan’, pembalap asal Australia ini punya gaya balap yang berbeda dan Ducati punya kecepatan hebat yang mampu menjadi yang pertama dari 23 kemenangan untuk keduanya. Stoner meraih sepuluh kemenangan di musim 2007, dan terakhir hingga dipenghujung musim naik podium sebanyak empat kali, ini untuk menegaskan prestasi yang gemilang bagi Ducati sejauh ini dan  yang pertama bagi mereka di Kejuaraan Dunia MotoGP.

 

2008

Loris Capirossi meninggalkan team pabrikan Ducati di tahun 2008, diganti oleh Marco Melandri yang berjuang hampir selama setahun penuh, namun hanya sekali masuk di lima besar. Sayangnya Stoner menang enam kali dan meraih 280 point di akhir musim yang belum merasa puas bagi sang Australian dalam mempertahankan gelarnya, juga Ducati masih tetap dalam perburuannya.

2009

GP9 terlihat mengenakan sasis fiber-karbon, Ducati melangkah jauh dari frame ‘kuno’ trellis yang terbuat dari baja. Di atas kertas sasis yang dibuat dari fiber-karbon disinyalir terbukti mendekati ketahanan yang tak terbatas seperti paduan dari fiber-karbon yang mudah dikendalikan dan lentur dan tidak kaku, oleh karena itu mudah dirubah sesuai yang di inginkan. Nicky Hayden pindah ke team pabrikan ini berdampingan dengan Stoner, dan lagi-lagi pembalap asal Australia sukses meraih empat kemenangan dan empat podium selama semusim, tapi sayangnya diakhir musim dia jatuh sakit yang menyebabkannya melewatkan tiga seri tersisa dan melepas perebutan gelar juara.

 

2010

Tahun 2010 Hayden dan Stoner masih tetap bersama team. Mesin GP10 telah direvisi paket aerodinamis nya dan mesin yang lebih bisa diandalkan yang mestinya sesuai pada aturan yang berlaku didalam jumlah pembatasan dari mesin yang digunakan. Sekali lagi hanyalah Stoner satu-satunya pembalap yang mampu juara diatas Ducati, dari awal motor hingga pengembangan menjadi sebuah mesin hanya Casey Stoner-lah yang sanggup mengendalikan mengendarainya dengan gaya radikalnya.

 

2011

Valentino Rossi dan Nicky Hayden dipasangkan untuk musim 2011, Ducati meneruskan dengan desain sasis fiber-karbon nya. Itu ternyata menjadi tahun yang begitu sulit bagi perusahaan asal Italia ini bersamadengan para tiap pembalap nya hanya mampu meraih podium tunggal dan lainnya hingga diakhir tahun hanya masuk lima besar. Sebuah musim yang memperlihatkan GP11 mengalami banyak perubahan selama setahun sembari para pembalap mencari untuk kemajuan.

 

2012

Perubahan aturan lagi di perkenalkan di musim 2012, kelas MotoGP kubikasi mesin ditambah menjadi 1000cc. Untuk pertama kalinya sejak proyek MotoGP dimulai, Ducati mengenalkan sebuah sasis ‘konvensional’ dari alumunium twin spare dalam permintaan untuk peningkatan rebahan. Valentino Rossi mendapatkan finish terbaik kedua di Misano dan Le Mans. Tapi lagi-lagi keluar dari lima besar di akhir tahun.

 

2013

Tahun 2013 Andrea Dovizioso bergabung di team pabrikan ini berdampingan dengan Nicky Hayden keduanya gagal finish naik podium sebagai mana mereka ada diurutan delapan dan sembilan dikedudukan akhir.  Ini menandakan sebuah masa tergelap bagi Ducati di Kejuaraan Dunia MotoGP, dan dibawalah insinyur terkenal Luigi Dall’Igna menjadi General Manager yang baru di Ducati Corse untuk merubah keberuntungan mereka.

 

2014

GP 14 dan GP 14.2 adalah motor pertama atas pengaruh Dall’Igna, walaupun masih tidak lebih dari evolusi dari pada revolusi. Andrea Dovizioso mendapat musim yang kuat dengan meraih dua podium, sebuah pole di Jepang dan beberapa finish di lima besar, menandakan bahwa Ducati telah bekerja menuju arah kembali ke papan atas. Beragam masalah teknis dan luka-luka tahun 2014 menjadi tahun yang sulit bagi pembalap pabrikan baru Carl Crutchlow yang mengakhiri musim hanya dengan sekali naik podium.

 

2015

Untuk pertama kali dalam sejarah MotoGP bagi mereka, team pabrikan Ducati menjadikan semuanya serba Italia, yakni dengan bergabungnya Andrea Iannone bersanding dengan Andrea Dovizioso. Pasangan yang mengendarai GP15, sebuah desain ulang Dall’Igna, yang masih bangga dengan mesin 90° V-Twin dan katup desmodromic-nya. Suatu yang hampir tidak dapat dipercaya dimana diawal tahun terlihat Dovizioso meraih tiga kemenangan berturut-turut dengan finish di posisi ke dua. Andrea Iannone juga membuktikan bahwa Ducati mampu meraih kemenangan setelah seri Phillips Island yang mempesona. Tahun 2015 juga menjadi tahun dipakainya kembali winglets setelah sebelumnya terlihat dipakai pertama kalinya pada tahun 2010, sebuah penanaman penahan berat dengan beberapa susunan untuk beragam sirkuit.

 

2016

Ducati terus melanjutkan untuk mencari kemenangan mereka sejak kemenangan pertama di tahun 2010, tapi jika sebuah  kecenderungan masih berlangsung di tahun ini, maka mereka bisa melakukannya di atas lintasan.

 

Sumber: http://www.motogp.com

Advertisements