Kisah Dewi Siti Hawa : ‘Solo Riding’ Jawa – Sumatra

 

Kembali saya hadirkan sebuah kisah nyata petualangan berkendara tunggal dari sosok lady’s biker/wanita. Dialah Dewi Siti Hawa, gadis asal Cirebon pemilik Yamaha Byson warna merah. Kini Dewi menceritakan Road trip-nya, solo riding-nya ke Sumatera yang belum lama ia lakukan. Berkendara sendirian tanpa teman, mengendarai motor laki melibas jalanan, berliku-berkelok, naik-turun, jalan-jalan yang belum pernah ia lalui, jalalan antar kota-antar propinsi, jalan Antar Lintas Sumatra(ALS) dan inilah kisahnya………………….

23 Desember 2015,

Dari pagi-hari saya sudah tidak sabar untuk siap-siap berangkat ride-Touring menuju Sumatra, seperti yang ada dibenak saya dan sudah saya rencanakan, saya ingin menuju ke kota pek-mpek ‘Palembang‘.. Pagi-pagi sekali saya berencana mampir ke bengkel untuk menjemput kebo kesayangan dibengkel langganan. Tapi alangkah terkejutnya ketika dikatakan sang pemilik bengkel bahwa kebo-ku masih harus tetap tinggal, karena ada spare-part yang harus diganti. Ya mungkin memang  sudah waktunya diganti, yang mana umur kebo-ku menapak usia ke-2 tahun lebih 4 bulan. “ah….”, perasaan kecewa, meninggalkan bengkel. Dengan langkah lunglai saya berangkat ngantor.

*****

Sepanjang waktu bekerja pikiranku jadi tidak tenang, terus berdoa semoga kebo-ku baik baik saja. Siang jam 12 dikabarkan keboku baru saja dibongkar dan diinfokan juga seluruh komponen kanvas beserta dudukan harus diganti. “Well, nevermind, BUT..” tapi yang membuatku cemas dan terus berdoa.. Semoga saja stock spare partnya tersedia. Maklum bengkel langgananku merupakan bengkel kecil yang kurang lengkap, tapi kelebihannya adalah mereka siap-tanggap 24 jam, setiap saat bisa diminta bantuannya. Bahkan siap menjemput jika saya mengalami trouble, diarea jangkauan mereka tentunya. Bengkel ini milik club motor CB, jadi beliau cukup ahli dibidangnya.

Pulang kantor jam 17.30, saya kembali menuju bengkel. Tapi terlihat kebo-ku masih dioperasi…hmmm… Saya sudah pasrah, jika sore ini tidak jadi’, maka cancelled alias batal-lah touring-nya. anya bisa wait and see dan mempelajari kondisinya, saya memantau dari rumah dengan memanfaatkan medsos BBM, WA, dan Line guna memantau jalannya operasi si kebo. Akhirnya Jam 19.00 saya mendapat kabar gembira. Keboku sukses menjalami operasi, dan keboku siap tempur untuk beberapa saat lagi.

Segera saya prepare-bersiap diri, packing, dan lain sebagainya untuk lanjut rencana nge-gas ke Sumatra sesegera mungkin saat keboku siap.

****

Jalur Pantura-Cirebon-Jakarta sangat aman dilewati sepanjang waktu, apalagi jika musim liburan. Jam 19.45 saya melaju tipis-tipis, kebo kesayangan melaju sangat nyaman walaupun membawa beban seberat 20 kg-lebih tapi seperti tidak berasa. O-iya perjalanan kali ini sambil mengantar barang, jadi tour kali ini bisa dibilang tour of duty lah hehehe. 1 karung isi penuh yang tingginya serata bahu berada di jok dibelakang.

Seperti dugaan saya, jalanan sangat ramai. Dari arah berlawanan padat sekali, libur tanggal merah 2 hari pasti banyak dimanfaatkan untuk pulang kampung atau berlibur. Sekitar jam 9 saya berhenti dimini market sebelah kiri jalan tempat biasa berhenti sejenak jika saya touring ke arah Barat begitu masuk kota Kerawang. Selesai mendinginkan mesin si kebo saya, lanjut gas lagi, jam 11 saya sudah di Kalimalang, sambil sesekali membalas ponsel menanyakan tempat untuk menyerahkan barang yang saya bawa. Masuk ke arah Cawang, saya terjebak macet yang sangat panjang, berhubung saya tidak tau alamat pasti yang dituju, maka saya menunggu panduan saja. Tiba ditempat yang diintruksikan, saya menunggu dijemput hampir 30 menit, jam sudah menunjuk jam 12.45 dini hari. Ditempat teman saya dimana saya menyerahkan barang tadi, saya ambil istirahat sekitar 30 menit.

Jam sudah diangka 2.00 dini hari ketika saya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Belum juga mulai jalan, eee…..teman-teman dari club Vega datang menjemput. Jadilah perjalanan ke Tangerang saya ditemani beramai-ramai, sampai di Cikande kami sempatkan untuk ngopi dan foto-foto. Ditengah waktu itu kebetulan ada teman yang lewat dari v02 , yang kemudian bergabung. Saya dilepas jam 3.00 dini hari untuk terus melaju menuju Pelabuhan Merak. Sepanjang perjalanan, dari arah yang sama, acap kali saya menyalip konvoi beragam bendera khas anak motor, sambil membunyikan klakson dan memberi jempol tanda menyapa.

Sesekali saya terjaring masuk barisan, sambil berupaya untuk keluar dari barisan dengan halus, saya mengelak dari barisan. Saat di lampu merah, saya menerima jabat-tangan dari teman-teman untuk berkendara bersama. Namun saya cepat berpikir, ” jika motor dengan cc sama, saya sih bisa mengimbangi, tapi jika motor dengan 250 cc, hmm saya tahu dirilah.” Sambil nyengir dalam hati, tawarannya bikin saya sedih, karena mereka pada memakai motor 250cc.. Hehehe.. Saya suka sekali dengan motor mereka, tapi jika harus mengendarainya untuk touring, saya masih pikir-pikir, saya lebih suka didalam kota saja. Untuk pergi jauh/touring saya lebih suka unit/motor yang versi naked, unit dengan fairing tidak leluasa untuk bergerak dan mudah lelah.

*****

24 Desember 2015

Di Cilegon hari mulai terang, sekitar jam 5 pagi. Teringat saat-saat dulu,  saya pernah tinggal dikota ini, flash-back rangkaian kenangan mulai mengalir melintas di kepala dan membuat saya tersenyum. Sejenak menikmati kota ini sambil terus melaju pelan-pelan, didepan sudah mulai terlihat antrian panjang kendaraan menuju pelabuhan. Beruntung sekali karena ada jalur khusus untuk masuk motor, jadi tidak perlu antri.

Eh ternyata, dugaan saya salah, begitu keluar dari pintu tiket menuju kapal, ternyata motor sudah menumpuk banyak sekali, sementara kapal belum juga merapat. Barulah jam 6 pagi saya sudah bisa mulai masuk kapal, memilih tempat dan merapihkan barang-barang, mengingat banyak cerita mengenai hal-hal yang tidak diinginkan terjadi’ dikapal. Lebih baik saya waspada dan berkemas semaksimal mungkin agar tidak mencolok. Naik ke geladak saya sempat takjub memperhatikan kapal yang jika dibandingkan dengan kapal di penyeberangan Bali maupun Lombok, di pelabuhan Merak ini kapalnya besar-besar,  terbilang besarnya kapal  berkali lipat. Berkeliling sebentar mencari tempat yang enak untuk menikmati view sepanjang perjalanan.

Ditingkat paling atas saya tertarik untuk duduk di tempat duduk lipat yang musti disewa seharga 10 ribu rupiah. Dan hanya tinggal satu yang tersisa, dan saya langsung ambil posisi duduk dengan nyaman. Baru duduk sebentar, ee… sudah di datangi anak kecil yang minta dilemparkan koin ke bawah/laut untuk kemudian dia terjun dan menggambilnya. Beberapa penumpang juga melemparkan uang dan berteriak-teriak menyemangati, yah lumayan menjadi tontonan yang menarik, sayang saya takut mengabadikan lantaran ombak yang terus datang, membuat kapal bergoyang dan tidak seimbang.

Saat kapal mulai bertolak saya berkenalan dengan penumpang kiri dan kanan saya yang ternyata anak-motor dari Cikarang dan kami pun saling bercerita lalu berfoto bersama.

2 jam perjalanan menyeberangi selat Sunda ini, saya berniat untuk sejenak memejamkan mata, sambil menikmati pulau-pulau dan langit yang begitu cantiknya, saya berharap segera mengantuk , apalagi penumpang yang lain juga sudah mulai terdengar mendengkur. Akan tetapi tiba-tiba ada seorang anak kecil perempuan sekitar umur 5-6 tahun, mengambil minuman penumpang disebelah saya yang sedang tidur, kemudian saya perhatikan, anak kecil tersebut bersandar dikursi yang diduduki penumpang sebelah saya tersebut, lalu semakin merapat manja lalu pelan-pelan tangannya mulai memainkan baju yang dikenakan penumpang tersebut, tiba-tiba saya tersadar, di balik kaos yang dimainkannya, ternyata ada ponsel yang diletakan begitu saja oleh pemiliknya, segera saya bangunkan penumpang tersebut tapi tidak juga terbangun dan membuat saya bingung. Akhirnya saya spontan mengambil ponsel tersebut dan saya pegang. Agak lama juga keadaan sedikit menegangkan itu, sampai si anak kecil perempuan tersebut akhirnya pergi. Kejadian itu membuat saya terjaga sepanjang perjalanan, hingga kapal mulai merapat ke pelabuhan Bakauheni, si penumpang disebelah saya pun saya bangunkan lalu saya ceritakan apa yang terjadi , kemudian dia mengiyakan jika memang benar begitulah adanya cerita yang beredar. Kamipun berpisah karena tujuan pun tidak sama.

******

Sampai di menara Sigar, teman-teman sudah menjemput dan mengajak untuk berfoto dulu di icon pulau ini. Sementara jam sudah menunjuk angka 9 pagi. Jarak dari Bakauheni ke Bandar Lampung sekitar 2 jam perjalanan.

Jam 11 siang Sampailah di kota Gajah-Lampung, bertemu teman teman dan berkumpul , bertukar cerita adalah bagian paling mengesankan disetiap perjalanan. Keakraban terjalin hingga senja menjelang. Selama di kota ini saya jalan-jalan putar-putar kota hingga malam.

******

25 Desember 2015

Karena sitkon tidak memungkinkan yakni turun hujan terus menerus, juga karena akses menuju kesana rawan (rawan disini saya maksudkan banyaknya pembalakan atau aksi pembegalan, juga banyaknya kejadian mistis) sekalipun di siang hari, maka saya memutuskan untuk menunda pergi ke Palembang.

Yang mana rencana awal saya mau di estapet dari Bandar Lampung ke Bandar Jaya, lalu ke Waykanan, terus Batu Raja, dan baru ke Palembang. Tapi teman yang dari Waykanan dalam perjalanan ke Bandar Jaya sempat dikejar begal dan bisa lolos karena si begal itu ditabrak dari arah berlawanan.

Untuk menghilangkan rasa kecewa, maka saya putuskan menghabiskan waktu dengan menggunjungi tempat-tempat wisata sekitar Bandar Lampung saja. Ada kejadian menegangkan Ketika di pantai Klara, sempat ada yang berusaha menjambret ,ketika saya sedang berjalan usai foto-foto, tiba-tiba ada dua orang berboncengan mengendarai motor jenis matic berusaha merampas ponsel yang saya pegang, untungnya yang terbawa oleh kedua orang tersebut hanya kabel power-banknya saja. Duh ngeri…

Tapi Lampung merupakan kota yang begitu cantik dengan banyak tempat dan tujuan wisata.

Dihari yang sama jam 23.00 saya bertolak dari Lampung menuju Jakarta. Begitulah cerita perjalanan saya kali ini Tapi tidak membuat saya kapok untuk dilain kesempatan datang lagi.

Berikut beberapa moment di Lampung yang berhasil saya abadikan :

…….

 

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Dewi Siti Hawa : ‘Solo Riding’ Jawa – Sumatra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s