Cerita Dewi Siti Hawa : ‘Solo Riding’ Jawa-Bali-Lombok

Seperti yang sudah saya utarakan pada artikel sebelumnya bahwa akan ada kisah-kisah menarik dari perjalanan berkendara sendirian/ single touring dari sosok gadis bernama Dewi Siti Hawa , benar-benar ga percaya kalo enggak kita baca, lo harus baca man…

Dan untuk yang pertama kita angkat Solo Riding Jawa-Bali-Lombok” dan berikut kisahnya………………………..

Rabu, 15 Juli  pukul 17:30WIB aku mulai melaju pelan keluar dari kota tercinta Cirebon, gas tipis-tipis , rest point pertama adalah kota Solo(Surakarta), pikiran langsung tertuju kesana, dimana seorang teman telah menunggu disana. Namun ternyata sitkon  tidak seperti yang aku perkirakan, arus mudik begitu ramai, bahkan bisa dikatakan  padat merayap. Dibeberapa titik sepanjang Pantura arus lalu lintas tersendat, sempat terjebak macet tidak bisa bergerak. Sepanjang jarak Cirebon-Pekalongan baru kali ini aku ditempuh begitu lama yakni selama 4 jam, hampir dua kali lipat dari biasanya yang cukup 2,5 jam saja.
Tiba di Pekalongan aku punya tempat untuk ngopi favorit yaitu ‘sat pekalongan’ disamping kiri jalan dekat Pasar Batik, teman teman dikota juga sangat tau kebiasan saya itu dan biasanya tanpa diminta ada saja yang sudah menunggu, dan begitu juga kali ini di kota Manggis ini. Diluar dugaan ternyata si teman sudah menyiapkan makan malam dirumahnya, sebagai tamu jelas tidak kuasa untuk aku menolak, dalam hati hanya bisa berujar.. “Hadeww bisa berabe nih malam-malam makan, duuh touring kali ini body pasti bakalan  membengkak..”

Begitu tiba dirumah teman saya di Pekalongan ini, juga telah banyak teman-teman lain yang sudah menunggu dan,… dan tentunya telah tersaji hidangan yang menggugah selera, terlalu sulit untuk menolak, tak kuasa menahan program diet…… seketika terlena dan lupa…twing-twing…dengan lahap menyantap hidangan yang tersaji didepan mata….”Hehehe rejeki jangan ditolak, ga’ baik”

Usai santap makan malam, bercengkrama dan menuntaskan rindu dengan teman-teman, lalu saya ijin undur diri berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, dengan berat hati mereka melepasku, sebenarnya waktu itu hampir jam 12 malam dan mata juga sudah mulai menggantuk(mungkin juga karena efek abis makan ).
Tapi aku harus tetap ‘ngegas’ sesuai jadwal. Pantura selarut itu kupikir jalanan sudah lenggang, tapi teryata tidak ubahnya sewaktu sore tadi, suasana masih ramai, bahkan semakin ramai.. “Syukurlah”, ucapku dalam hati karena usai kota Batang adalah Alas Roban. Aku biasa lewat hutan ini (yang imejnya  rada gimana gitu) di waktu dini hari, pun tetap ramai jadi dirasa cukup aman.

Alas Roban terlewati  lalu keluar dari kota Kendal jalanan mulai lenggang, tapi lagi-lagi rasa kantuk datang mendera dan semakin menjadi, sambil menahan rasa kantuk  masuklah aku bersama si kebo merah ke kota Semarang yang mana jalanan sudah mulai sepi. “Hoahmmm…” tidak kuasa lagi menahan rasa kantuk, si kebo’ kesayangan ‘ku hela untuk menepi, ku  pinggirkan dari jalan dan ku parkir di depan swalayan 24 jam-Indomaret kota Bawen , disini ada posko yang juga telah penuh dengan teman-teman pemudik, hampir 2 jam tertidur disini….z z z z z…pulas..

……..dan…Whattts…

Jam sudah menunjuk pukul 3 pagi…
“waduh” ada perasaan bersalah, ini pastinya membuat temanku menunggu’ di Surakarta. Bergagaslah aku ajak kebo-ku berlari sedikit kencang.. Jalanan sepanjang Bawen sampai Solo tidak pernah sepi .. Memasuki Salatiga,…brrrr….hiii… dingiiinn banget, hingga dinginnya menembus jaket rangkap yang ku kenakan, nyaris tembus kulit.
Jam 4.30 pagi, hari 1
aku sudah masuk kota Kartasura... lalu menjumpai temanku yang berdiri menyambut sambil tertawa membuka sapa..riang sekali…Namun kusambut senyum kantuk.. ‘Ya sudah tidak apa, wong namanya ngantuk koq, jangan dipaksa,’gumanku, dan aku hanya menjawab dengan mengangguk, syukurlah temanku tidak marah..mungkin juga tau akan raut muka kurang tidurku.
Jam 5.30 pagi, hari 1
sampailah dirumah temanku .. Rasa kantuk yang belum tuntas kembali datang menyeruak tatkala melihat kasur yang terlihat begitu empuk yang memang telah disiapkan untuk ku, terlihat amat menggoda, sampai-sampai temanku yang menawarkan sarapan kuabaikan dan langsung roboh dikasur tidur pulas dibawah selimut.
 Jam sudah diangka 9.00pagi, hari 1
ketika aku membuka mata.. “huffh..” sedikit menyesal karena seharusnya sesuai planing jam 7 pagi aku sudah lanjut menuju Sidoarjo, “tapi tak apalah Solo – Sidoarjo khan sekitar 5 jam .. masih bisa santai..santai..”,ujarku dalam hati untuk menenangkan dan menghibur diri.
Usai mandi, temanku sudah menyiapkan hidangan , sambil makan kami berbincang asyik hingga tidak terasa waktu begitu cepat berlalu rupanya.
Jam 12 siang, hari 1
aku dilepas dari Solo menuju Ngawi .. Niatku akan gas-pool untuk mengejar waktu,  namun aku juga menyempatkan diri untuk  berfoto-foto di tugu perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur, dan sempat berkenalan dengan para pemudik yang juga sedang mengambil foto. Sekitar 15 menit mengabadikan diri di tugu perbatasan tersebut, lalu saya melanjutkan perjalanan.
Baru melaju sekitar 30 menit melewati hutan Mantingan di Traffic light kota Ngawi, rupanya seorang teman telah menunggu duduk dengan manisnya, teman dari Club Beat yang tak bisa kutolak untuk mengajak sekedar minum teh , jadilah di Ngawi bertemu dengan beberapa teman lain dan berbincang cukup lama.
Jam 2:30 siang, hari 1
saya dilepas menuju Nganjuk.. Sedikit menyesal menyusup dibalik hati , maksud hati ingin mampir di wisata Budha Tidur di Mojokerto namun harus ditangguhkan. “Tapi tak apalah masih banyak waktu…” Dalam senyum saya menarik gas agak kencang , melewati Nganjuk-Jombang hari mulai gelap ketika sampai di Mojokerto. “Asyik” menikmati senja yang begitu cantik tanpa sadar aku kehilangan arah, seharusnya dipersimpangan sebelumnya ambil Kanan, buang banyak waktu jika aku harus putar arah meskipun jika mengikuti jalan akan menjadi lebih jauh dan berputar-putar. Sedikit khawatir aku bertanya pada pengendara disebelah saat berhenti dilampu merah, beruntung pengendara itu begitu baik menawarkan diri untuk mengantar ke tempat tujuan , dengan rasa tidak enak buru-buru aku menolak menginggat jarak dari tempat ini ketempat yang aku tuju memakan waktu sekitar 1 jam. Akan tetapi pengendara itu tidak berkeberatan sama sekali dan meminta aku mengekor dibelakangnya……
Tiba di alun-alun Sidoarjo pengendara itu menemaniku sampai teman-temanku datang . Sambil mengucap banyak terimakasih kami saling bertukar nomor telepon, berharap jalinanan persahabatan tetap terjaga. Dialun-alun Sidoarjo bersama teman-teman menikmati malam , lagi-lagi tak bisa menolak untuk menghabiskan hidangan. “Busyet sudah mati-matian mempertahankan berat badan, kini menyerah dan mulai pasrah saja,…. mulai menikmati liburan.”

 Usai makan , teman-teman mengajakku ke Tretes(wisata pegunungan Pasuruan), hingga jam 12 malam kami saling bertukar cerita , diselimuti dingin nya Tretes, aku terlelap dengan balutan hati senang.

Candi Jawi -Obyek Wisata Tretes-Pasuruan

Candi Jawi -Obyek Wiata Tretes- Pasuruan

landscape Obyek Wisata Tretes-Pasuruan

 
Jam 9 pagi, hari 2
usai sarapan saya dilepas diperbatasan Pasuruan menuju Probolinggo, melewati kota Probolinggo sempat istirahat sejenak di mini market untuk minum air dingin karena siang itu matahari begitu terik, hauuss. Sambil duduk diposko yang disediakan saya sembunyi-sembunyi untuk minum menggingat saat itu masih hari terakhir puasa. Didepan saya beberapa langkah juga duduk seorang laki-laki yang sedang menunggu istrinya. Dia melihat kearah saya yang langsung saya sambut dengan anggukan dan sedikit senyuman, tapi dibalas dengan tatapan yang tidak bersahabat oleh bapak tersebut. Nyengir kecut dengan tatapan terebut dan rasa tidak nyaman dengan suasana tadi, membuat saya ingin buru-buru  segera beranjak, dan “gubrakkk..” tidak hati-hati helm yang saya pegang terlepas dan jatuh. Membuat suasana semakin tegang, beberapa mata tertuju ke saya, tidak menunggu lama lalu tanpa basa basi saya langsung ambil ancang-ancang tancap gass sebisanya…wush…
Ahhh…..Lega rasanya memasuki kota Kraksan, sebentar lagi Paiton, lalu Situbondo kemudian Banyuwangi.

Di Situbondo aku sempatkan singgah disebuah rest area yang kemudian menjadi daftar tempat rest favoritku saat touring tepatnya Rest Area Utama Raya Banyu Glugur Situbondo disini sangat lengkap selain Rest area, coffee shop, restaurant, mushola, supermarket, hotel, spbu, dan toilet. Toilet-nya pun tersedia vip, bisa mandi air panas saat badan pegal-pegal.

Saat di Rest Area Situbondo

Jarak SidoarjoKetapang sekitar 6 jam. Sambil menikmati kota listrik-Paiton bilamana jika kebetulan kita melewatinya saat malam hari, maka akan terlihat indah sekali. Eitt tapi lupakan saja ya, jangan pernah lewat dimalam hari disini, jangankan malam, siang saja sepi. Didepan sana sesudah Banyuwangi ada Taman Nasional Hutan Baluran sepanjang 30 kilometer. Baru sesudah itu sampai di Pelabuhan Ketapang.

 Sepanjang Banyuwangi banyak sekali tempat wisata , kapal-kapal nelayan, hutan bakau tak kalah indahnya. Jika sempat dan ada waktu ke Banyuwangi masuklah ke Taman Nasional Hutan Baluran, dan objek wisata Pasir Putih, juga luangkan waktu untuk berfoto diwisata Watu Dodol

Monumen Patung Puteri-Banyuwangi

 ………………bersambung……………………………………………..
 
 catatan Dewi :
  • Sebenarnya dihari terakhir ramadhan ini saya ingin tetap menjalankan ibadah puasa seperti biasa, akan tetapi semua schedule diluar dugaan mau tidak mau saya harus memilih. Alasan kenapa saya ‘riding’ dihari yang semestinya saya rayakan bersama keluarga adalah saya adalah seorang karyawan yang sebagian besar waktunya terikat dengan jam kerja. Akan tetapi kebebasan berfikir membuat saya mengubah keterbatasan menjadi kesempatan. Bukan kah setiap hari saya berkumpul dengan keluarga? jika saya tidak melakukannya sekarang mungkin nanti keadaannya sudah berbeda
  • Prinsip saya : “lakukan yang saat ini saya bisa”, jika tidak dilakukan sekarang? Kapan lagi?

 

Advertisements

3 thoughts on “Cerita Dewi Siti Hawa : ‘Solo Riding’ Jawa-Bali-Lombok

  1. Mantap touringnya sis, jd inget mudik kmaren dr bekasi-banyuwangi. Solo mudik bekasi-banyuwangi dg vixion tua 08. Yg paling menjengkelkan macet horor di brebes, hampir menguras seluruh tenaga. Dpt libur cuma 2 minggu, jd mau g mau mudik di kampung cuma 1minggu. Sebelumnya selalu ada barengan entah kawan/sodara. Berhubung g mau diajak sodara naik roda4, akhirnya tetep pulang dg vixi tua. Alhamdulillah sampe banyuwangi dg selamat. Dan yg terpenting bisa berjumpa dg si mak. Alhamdulillah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s