Jadwal SIM Keliling Wilayah Bantul Bulan Agustus 2015

Berikut JADWAL SIM KELILING BULAN AGUSTUS 2015

Untuk jadwal, waktu dan tempat mobil pelayanan SIM Keliling Dit Lantas Polda DIY di wilayah Bantul pada bulan Agustus 2015 adalah sebagai berikut :

NO HARI WAKTU TEMPAT
1. Sabtu, 01 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Sewon
2. Selasa, 04 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Bambanglipuro
3. Kamis, 06 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Pleret
4. Sabtu, 08 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Banguntapan
5. Selasa, 11 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Pajangan
6. Kamis, 13 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Srandakan
7. Sabtu, 15 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Kecamatan Sedayu
8. Selasa, 18 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Sanden
9. Kamis, 20 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Kretek
10. Sabtu, 22 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Piyungan
11. Selasa, 25 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Imogiri
12. Kamis, 27 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Polsek Bantul
13. Sabtu, 29 Agustus 2015 09.00 – 12.00 Wib Kecamatan Kasihan

 

Jam operasional : Pukul 09:00 – 12:00 WIB
SIM Keliling hanya untuk memperpanjang SIM A dan SIM C. Pembuatan SIM Baru dan jika masa berlakunya habis lebih dari 3 bulan  tidak bisa dilayanan SIM Keliling.

Syarat perpanjangan SIM A atau C sebagai berikut :
Foto Kopi KTP yang masih berlaku
Foto Kopi SIM lama serta SIM asli
Bukti Cek Kesehatan

Iklan

Sejarah Kabupaten Bantul

Petabantulkec.png

ilustrasi – wikipedia.org

Bantul merupakan sebuah nama kabupaten juga kecamatan dimana saya tinggal, untuk lebih menyanyangi sesuatu maka perlunya lebih jauh mengenal sesuatu itu. Tak terkecuali kota Bantul tercinta. untuk lebih mengenal akan Bantul, tak ada salahnya mengenal sejarah akan berdirinya kota Bantul.

Bantul memang tak bisa dilepaskan dari sejarah Yogyakarta sebagai kota perjuangan dan sejarah perjuangan Indonesia pada umumnya. Bantul menyimpan banyak kisah kepahlawanan. Antara lain, perlawanan Pangeran Mangkubumi di Ambar Ketawang dan upaya pertahanan Sultan Agung di Pleret. Perjuangan Pangeran Diponegoro di Selarong. Kisah perjuangan pioner penerbangan Indonesia yaitu Adisucipto, pesawat yang ditumpanginya jatuh ditembak Belanda di Desa Ngoto. Sebuah peristiwa yang penting dicatat adalah Perang Gerilya melawan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman (1948) yang banyak bergerak di sekitar wilayah Bantul. Wilayah ini pula yang menjadi basis, “Serangan Oemoem 1 Maret” (1949) yang dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Tolok awal pembentukan wilayah Kabupaten Bantul adalah perjuangan gigih Pangeran Diponegoro melawan penjajah bermarkas di Selarong sejak tahun 1825 hingga 1830. Seusai meredam perjuangan Diponegoro, Pemeritah Hindia Belanda kemudian membentuk komisi khusus untuk menangani daerah Vortenlanden yang antara lain bertugas menangani pemerintahan daerah Mataram, Pajang, Sokawati, dan Gunung Kidul. Kontrak kasunanan Surakarta dengan Yogyakarta dilakukan baik hal pembagian wilayah maupun pembayaran ongkos perang, penyerahan pemimpin pemberontak, dan pembentukan wilayah administratif.

Tanggal 26 dan 31 Maret 1831 Pemerintah Hindia Belanda dan Sultan Yogyakarta mengadakan kontrak kerja sama tentang pembagian wilayah administratif baru dalam Kasultanan disertai penetapan jabatan kepala wilayahnya. Saat itu Kasultanan Yogyakarta dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Bantulkarang untuk kawasan selatan, Denggung untuk kawasan utara, dan Kalasan untuk kawasan timur. Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kasultanan Yogyakarta, tanggal 20 Juli 1831 atau Rabu Kliwon 10 sapar tahun Dal 1759 (Jawa) secara resmi ditetapkan pembentukan Kabupaten Bantul yang sebelumnya di kenal bernama Bantulkarang. Seorang Nayaka Kasultanan Yogyakarata bernama Raden Tumenggung Mangun Negoro kemudian dipercaya Sri Sultan Hamengkubuwono V untuk memangku jabatan sebagai Bupati Bantul.

Tanggal 20 Juli ini lah yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bantul. Selain itu tanggal 20 Juli tersebut juga memiliki nilai simbol kepahlawanan dan kekeramatan bagi masyarakat Bantul mengingat Perang Diponegoro dikobarkan tanggal 20 Juli 1825.Pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan berdasarkan pada Usamu Seirei nomor 13 sedangakan stadsgemente ordonantie dihapus. Kabupaten Memiliki hak mengelola rumah tangga sendiri (otonom).

Kemudian setelah kemerdekaan, pemerintahan ditangani oleh Komite Nasional Daerah untuk melaksanakan UU No 1 tahun 1945. Tetapi di Yogyakarta dan Surakarta undang-undang tersebut tidak diberlakukan hingga dikeluarkannya UU Pokok Pemerintah Daerah No 22 tahun 1948. dan selanjutnya mengacu UU Nomor 15 tahun 1950 yang isinya pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom di seluruh Indonesia.

sumber : bantulkab.go.id