Disdukcapil Bantul Tetap Buka Meski Libur Lebaran/ Cuti Bersama

Kantor Disdukcapil Bantul

Kantor Disdukcapil Bantul

Sungguh suatu optimasi kinerja dari pemkab Bantul dalam hal ini Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul dalam melayani masyarakat. Meskipun secara resmi di hari Senin dan Selasa atau tanggal 20 dan 21 Juli merupakan hari libur/ cuti bersama. Akan tetapi Disdukcapil tetap membuka kantornya untuk melayani warga masyarakat Bantul. Berikut berita selengkapnya yang saya peroleh dari situs resmi pemkab Bantul bantulkab.go.id;

CUTI Lebaran bagi PNS (Pegawai Negeri Sipil ) ditetapkan oleh Pemerintah akan berlaku mulai 16 Juli hingga 21 Juli 2015 mendatang. Cuti tersebut dalam hal ini juga akan diberlakukan PNS jajaran Pemkab Bantul, sebagaimana PNS lainnya. Namun demikian, Kantor Disdukcapil ( Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil ), meski dua hari paska hari H lebaran masih termasuk dalam cuti lebaran, tetap akan memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Kami siap buka kantor untuk memberikan pelayanan pada masyarakat”, kata Kepala Disdukcapil Kabupaten Bantul, Ir Fenty Yusdayati MT, Selasa ( 14/7 ) di kantornya.

Menurut Fenty, PNS jajaran Kantor Disdukcapil yang dipimpinnya, selama dua hari yakni pada tanggal 20 Juli dan 21 Juli 2015 meski masih termasuk hari libur cuti bersama, selama dua hari paska hari H Lebaran 2015 akan membuka kantor untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Kami siap memberikan pelayanan optimal”, tegas Fenty lagi, sambil menambahkan bahwa upaya itu mengingat warga Bantul yang merantau banyak yang mudik di hari Lebaran tahun ini dan tidak menutup kemungkinan akan sekaligus mengurus surat-surat yang berkaitan dengan kependudukan.

Dengan demikian, pemudik tersebut tidak akan menemui kendala dalam hal mengurus surat-surat kependudukannya, karena ke Kantor Disdukcapil Kabupaten Bantul tetap memberikan pelayanan di hari cuti lebaran, meski hanya dua hari tersebut mulai pukul 07.30 hingga pukul 10.00 WIB. Sementara disisi lain, juga termasuk melayani warga Bantul yang bukan pemudik. Karena juga tidak menutup kemungkinan, warga yang bukan pemudik tersebut juga sangat memerlukan pelayanan yang mendesak. (Sus)

 

Iklan

Ow Ternyata Ada ‘Open House’ Tadi Siang di Rumah Dinas Bupati Bantul

Foto Berita 2406

Tadi sempat bertanya-tanya saat lewat didepan Rumah Dinas Bupati Bantul yang berada di desa Trirenggo atau tepat di utara lapangan, karena ada banyak mobil parkir juga truk mengangkut banyak orang, dalam perkiraan batin saya mungkin ada acara ‘Open House’ dari ibu Bupati. eee ternyata benar adanya setelah saya membuka situs resmi pemkab Bantul (bantulkab.go.id) ada beritanya,

Bupati Bantul Hj. Sri Surya Widati beserta suami Drs. HM Idham Samawi menggelar Open House di Rumah Dinasnya Trirenggo Kabupaten Bantul. Dalam acara tersebut Bapati didampingi Sekretaris Daerah, Staf Ahli Bupati, Kepala BKD, Kepala Bappeda masing- masing bersama istri. Menurut Kabag Humas Setda Kabupaten Bantul Andhy Soelystyo, SH, S.Hum acara silaturrahmi yang selalu digelar setiap tahun tersebut dikemas dalam Open House dalam rangka saling memaafkan setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan serta sebagai upaya untuk lebih mendekatkan antara Bupati dan jajarannnya kepada masyarakat kabupaten Bantul. Lebih lanjut Andhy menyampaikan bahwa Open house dilaksanakan pada hari Sabtu(18/7/2015 ) dimulai pada jam 13.00 hingga 15.00 WIB, dan bagi warga yang belum sempat , Open House masih akan diteruskan pada jam 18.30 hingga 20.30 WIB pada hari yang sama.

Tampak dalam silaturahmi tersebut para pejabat dilingkungan Kabupaten Bantul dan para tokoh organisasi yang berbaur dengan masyarakat umum. Bupati Bantul mengajak kepada semua pihak untuk selalu menjaga kerukunan, kebersamaan serta peningkatan pembangunan di segala hal sehingga akan tercipta Bantul yang Projotamansari Sejahtera Demokratis dan Agamis.

Seusai bersalaman, para warga tampak menikmati hidangan yang disediakan seperti ketupat, opor ayam, sambal ati dan makanan ringan lainnya.

Diantara warga yang bersilaturahmi adalah Sudaryanto ( 76 th) yang mengajak istri dan anak serta cucunya dari dusun Klepu, Temuwuh Dlingo mengaku bahwa setiap Hari raya Idul Fitri selalu menyempatkan bertemu dengan Bupati untuk berjabat tangan. “ Nek bar badha dereng sowan bupati niku rasane dereng lega “( kalau Lebaran belum silaturahmi ketemu bupati rasanya belum puas ) kata Sudaryanto yang datang ke Rumah Dinas Bupati bersama rombongan yang menggunakan 10 kendaraan roda 4.

Di hari yang sama selain di Rumah Dinas Bupati Open House juga digelar di Rumah Wakil Bupati Bantul Drs. Sumarno, PRS dusun Sribit, Mulyodadi Bambang Lipuro Bantul mulai jam 13.00 – 15.00 WIB. (bs)

‘Update’ Berita Seputar Insiden Tolikara-Papua

Berikut update berita seputar kerusuhan yang terjadi di Tolikara-Papua menyangkut pembubaran shalat Ied dan pembakaran Masjid,

Ini Penjelasan Dirjen Bimas Kristen Terkait Kasus Tolikara

Ditjen Bimas Kristen  Kemenag dan Kanwil Papua bersama organisasi aras nasional PGI dan PGLII  sangat menyesalkan terjadinya kasus pembakaran mushalla umat Islam  yang sedang menjalankan Salat Idul Fitri oleh sejumlah oknum di Karubaga, ibu kota Tolikara, Papua, pada Jumat (17/07).

Penjelasan ini disampaikan Dirjen Bimas Kristen Oditha R Hutabarat melalui release dalam kesempatan jumpa pers di Kantor Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Jakarta, Sabtu (18/07).

Salat Idul Fitri yang digelar di Karubaga, ibu kota Tolikara, Papua, pada Jumat (17/07) pagi diwarnai kericuhan seiring adanya kasus pembakaran sejumlah oknum  ke lokasi ibadah. Akibatnya jemaah muslim yang sedang menggelar salat ketakutan dan membubarkan diri. Ditjen Bimas Kristen bersama Kanwil Kemenag Provinsi Papua terus berupaya untuk menggelar pertemuan dengan tokoh-tokoh agama di Papua guna menyelesaikan persoalan ini.

Bersamaan dengan itu, lanjut Oditha, Ditjen Bimas Kristen sudah melakukan beberapa langkah, yaitu:

Pertama, Ditjen Bimas Kristen telah berkoordinasi dengan Ketua Sinode Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) untuk menjelaskan kronologis kejadian. “Saya sudah menghubungi ketua Sinode GIDI agar bisa segera membuat surat penjelasan kronologis kejadian,” terang Dirjen Bimas Kristen Oditha R Hutabarat.

Kedua, berkoordinasi dengan pihak Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang merupakan persekutuan di mana GIDI merupakan anggotanya. Ditjen Bimas Kristen meminta agar PGLII bisa bersama-sama melakukan langkah-langkah strategis dalam menyikapi persitiwa ini, salah satunya adalah dengan memberikan penjelasan  dan penyesalan terjadinya peristiwa ini yang menciderai kehidupan bersama yang selama ini harmonis kepada umat Islam di Indonesia.

Umat Kristen sangat prihatin atas terjadinya penundaan Salat Ied dan pembakaran rumah ibadah di Tolikara, Karubaga. Apalagi kegiatan itu justru terjadi pada saat Hari Raya Idul Fitri yang merupakan hari kemenangan bagi umat Muslim. “Atas nama Pemerintah, kami mohon maaf atas peristiwa yang melukai hati umat Muslim yang adalah saudara-saudara kami sebangsa dan setanah air. Kami berharap agar masalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku,” papar Oditha.

Menurut Oditha, berdasarkan informasi terakhir dari Kakanwil Provinsi Papua akan ada pertemuan  di Kanwil Agama dengan  Tokoh Agama serta FKUB Prov. Papua, Kakanmenag Kab Tolokara terkait dengan insiden tersebut Pukul 11 .00 WIT. Begitupun dengan Ketua Sinode GIDI melaporkan bahwa kira-kira pada pukul 10.30 WIT akan ada rapat koordinasi antara Ketua Sinode GIDI dengan Kapolda, Bupati, dan tokoh agama di Tolikara. Setelah itu, direncanakan aka nada pernyataan kepada publik.

Ditjen Bimas Kristen juga telah meminta kepada Ketua Sinode GIDI untuk mengkalrifikasi dan memberi penjelasan yang akurat terkait surat edaran Badan Pekerja GIDI di wilayah Tolikara tersebut yang membatasi umat menjalankan ibadahnya. Dirjen Bimas Kristen juga menyatakan bahwa Umat Kristen di manapun tidak setuju dengan surat edaran tersebut.

Kami berharap kepada aparat penegak hukum untuk benar-benar mengusut pihak-pihak yang telah melakukan tindak perusakan dan penganiayaan, dan mengusut tuntas siapa pihak-pihak dibalik kasus tersebut, serta kita mewaspadai upaya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab merusak kerukunan hidup bersama umat beragama. (ba/mkd)

 

Pernyataan Sikap PGI Menyikapi Peristiwa Tolikara

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengeluarkan pernyataan sikap terkait peristiwa kekerasan yang terjadi pada Jumat (17/07) pada saat umat Muslim sedang melaksanakan Salat Ied di Tolikara. Dalam peristiwa itu, terjadi juga pembakaran masjid dan beberapa kios milik penduduk oleh sekelompok orang, serta ada beberapa orang yang menderita luka tembak.

Akan hal ini, dalam kesempatan jumpa pers di Kantor PGI, Salemba, Sabtu (18/07), Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette T Hutabarat-Lebang, didampingi Dirjen Bimas Kristen Oditha R Hutabarat dan Ketum PGLII Pdt. Paparoni Mandang, menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Menyesalkan terjadinya peristiwa Tolikara. Peristiwa tersebut telah menodai ketenangan dan kekhusukan serta kegembiraan umat Muslim dalam merayakan Isul Fitri. Karena itu, PGI mengecam keras terjadinya pembubaran Shalat Ied dan pembakaran rumah ibadah, dalam hal ini masjid. Peristiwa ini amat memprihatinkan karena tidak mencerminkan semangat kerukunan yang terus kita tumbuh kembangkan bersama di Tanah Air yang kita cintai ini.

2. Tindakan kekerasan dalam bentuk apapun dan dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan karena melukai keutuhan kita sebagai bangsa dan tidak mencerminkan sikap mengasihi semua orang yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Terutama jika hal itu dilakukan ketika umat sedang menjalankan ibadah.

3. Indonesia adalah Negara Kesatuan berdasarkan hukum. Karena itu untuk memelihara keutuhan tersebut, tidak ada satu kelompok berdasarkan latarbelakang apapun yang dapat mengkapling satu daerah tertentu sebagai daerahnya. Setiap warga negara Indonesia apapun latarbelakangnya, mempunyai hak untuk hidup di wilayah manapun dalam negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bebas menjalankan ibadahnya.

4. Meminta agar pemerintah segera mengusut tuntas siapapun pelaku peristiwa ini dan segera melakukan tindakan sesuai dengan ketentuan hukum. PGI juga berharap agar aparat kepolisian dan keamanan bisa bertindak cepat untuk memulihkan rasa aman masyarakat Tolikara dan sekitarnya. PGI menyesalkan bahwa pemerintah termasuk aparat keamanan kurang tanggap mengantisipasi terjadinya peristiwa ini.

5. Mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan tidak terpancing oleh provokasi-provokasi yang dapat memperkeruh situasi.

6. PGI meminta kepada Pemerintah untuk mengusut akar masalah dari berbagai peristiwa konflik di Papua dan terus mengupayakan dialog dengan masyarakat Papua agar Papua damai sungguh dapat terwujud. Dalam proses ini hendaknya Pemerintah mengedepankan pendekatan sosio-kultural ketimbang hanya pendekatan keamanan.

7. Mengingat informasi yang masih simpang siur, PGI meminta kepada KOMNAS HAM untuk segera mengirim tim untuk menginvestigasi peristiwa tersebut secara objektif dan transparan.

8. PGI mendoakan semua korban dari peristiwa ini dan semoga situasi damai di Tolikara cepat pulih kembali.

PGI juga menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H kepada saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang beragama Islam, mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menolong kita! (ba/mkd)

Menag Kecam Kasus Tolikara, Harap Umat Percayakan pada Polri dan Tidak Terprovokasi

-Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengecam keras terjadinya kasus pelemparan dan perusakan lokasi ibadah umat Islam yang sedang menjalankan Salat Idul Fitri oleh sejumlah oknum di Karubaga, ibu kota Tolikara, Papua, pada Jumat (17/07).

“Selaku Menag, saya mengecam keras terjadinya kasus Tolikara yang telah mengoyak jalinan kerukunan antar umat beragama,” tegas Menag, Sabtu (18/07).

“Saya meminta kepada aparat penegak hukum untuk benar-benar mengusut pihak-pihak yang telah melakukan tindak perusakan dan penganiayaan, dan mengusut tuntas siapa pihak-pihak dibalik kasus tersebut,” tambahnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga memohon kepada umat Islam melalui para tokoh-tokohnya agar bisa menahan diri, tidak terprovokasi, dan mempercayakan sepenuhnya penyelesaian masalah ini kepada pihak kepolisian.

“Sehubungan dengan adanya ajakan jihad ke Papua terkait kasus Tolikara, saya memohon kedewasaan dan kearifan umat Islam melalui para tokoh-tokohnya untuk tidak terpancing dan terprovokasi lakukan tindak pembalasan,” terang Menag.

“Kita percayakan penuh kepada Polri yang telah bertindak cepat menangani dan mengusut kasus tersebut,” tambahnya.

Diinformasikan kericuhan salat Id di Tolikara berawal ketika imam Salat Id mengumandangkan takbir pertama, tiba-tiba sejumlah orang dari beberapa penjuru melempari jamaah yang sedang salat, sambil berteriak bubarkan.

Aparat keamanan dari kesatuan Brimob dan Yonif 756 yang melakukan pengamanan saat Idul Fitri itu kemudian mengeluarkan tembakan peringatan guna membubarkan massa yang melakukan pelemparan. Warga muslim yang salat kemudian memutuskan membubarkan diri.

Menurut Menag, semua umat beragama harus mewaspadai adanya pihak ketiga yang menjadikan sentimen agama sebagai hal untuk saling benturkan antar sesama umat beragama. “Mari bersama mewaspadai adanya oknum pihak ketiga yang ingin membenturkan sesama umat beragama dengan menggunakan sentimen agama,” ajaknya.

Ditegaskan Menag, kasus Tolikara sungguh telah mengoyak dan menghancurkan jalinan kerukunan hidup antarumat beragama, apalagi terjadi pada saat umat Islam sedang beribadah rayakan Hari Raya.

“Saya amat mengimbau tokoh-tokoh Kristen dan semua tokoh agama untuk senantiasa mengedepankan toleransi dan merawat kerukunan demi menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” pesan Menag. (mkd/mkd)

sumber : kemenag.go.id

Kumpulan Berita Rusuh Tolikara – Papua

kusnantokarasan.com – Pagi-pagi membaca berita yang tidak mengenakkan, membuat hati bersedih, melukai nilai-nilai kearifan toleransi antar umat beragama, melanggar dasar negara pancasila dan UUD 1945. Jum’at 17/07) kemarin di hari nan fitri, dimana umat Islam sedang melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri dan merayakan hari Idul Fitri 1436 H, lain hal terjadi di suatu daerah di Tolikara-Papua Irian Jaya warga muslim yang sedang melaksanakan ibadah sholat Ied diserang oleh massa’. berikut kumpulan beritanya;

Kronologi Insiden Tolikara :

Berikut Kronologi Insiden Tolikara

Sebanyak 70 rumah dan kios di Kabupaten Tolikara, Papua pagi tadi dibakar ratusan massa, yang diduga menolak perayaan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah di wilayah tersebut.

Pembakaran diawali dengan aksi pelemparan saat umat Muslim di wilayah tersebut mengumandangkan takbiran sebelum pelaksanaan salat Id 1436 Hijriah pagi tadi.

Penolakan ini, sehubungan dengan seminar tingkat Internasional yang berlangsung di Kabupaten Tolikara pada 13 – 19 Juli 205. Berikut isi selebaran yang menolak perayaan idul Fitri di wilayah tersebut.

“Badan pekerja wilayah Toli memberitahukan bahwa, pada tanggal 13 – 19 Juli 2015, ada kegiatan seminar dan KKR pemuda GIDI tingkat internasional. Sehubungan dengan keguatan tersebut, kami dari pimpinan GIDI wilayah Toli membatalkan dan menunda semua kegiatan yang bersifat mengundang umat besar, dan tingkat jamaat lokal, klasis dan dari yayasan atau lembaga-lembaga lain.

Oleh karena itu, kami (GIDI) memberitahukan bahwa : acara membuka Lebaran tanggal 17 Juli 2015, kami tidak mengizinkan dilakukan di wilayah Kabupaten Tolikara (Karubaga). Boleh merayakan Hari Raya di luar Kabupaten Tolikara / Wamena atau Jayapura. Dilarang kaum Muslim memakai pakaian jilbab”

Namun, umat Islam tetap menjalankan perayaan Hari Raya Idul Fitri, sehingga massa mengamuk, melempari musola yang dijadikan sebagai tempat shalat Id. Massa kemudian menyerang sambil berteriak, bubarkan dan bubarkan.

Massa semakin brutal dan membakar musola serta rumah dan kios milik warga Muslim di wilayah tersebut. Aparat keamanan pun akhirnya mengeluarkan tembakan peringatan untuk menghentikan aksi brutal massa.

“Sampai saat ini, kami masih mendalami apakah insiden pagi tadi disebabkan oleh surat edaran larangan perayaan Idul Fitri oleh panitia KKR pemuda Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), atau ada faktor lain, sehingga warga marah dan melakukan pembakaran,” ujar Kabid Humas Polda Papua, Kombes Polisi Patrige, Jumat (17/07/2015).

Kemenag Desak Sinode GIDI Minta Maaf

Direktur Jenderal Bimas Kristen Oditha R Hutabarat mendesak agar Sinode GIDI meminta maaf kepada umat Islam terkait peristiwa di Tolikara, Papua, saat salat Ied, Jumat (17/07/2015) pagi. Dirjen Bimas Kristen telah mengambil beberapa langkah terkait peristiwa di Tolikara, Papua.

Pertama, menghubungi Ketua Sinode GIDI agar bisa segera membuat surat penjelasan kronologis kejadian sekaligus pernyataan permohonan maaf kepada umat Islam Indonesia terkait dengan peristiwa tersebut.

Oditha mengungkapkan Ketua Sinode akan membuat surat tersebut dan mengirimkannya via email. Kedua, menghubungi Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang merupakan persekutuan di mana GIDI merupakan anggotanya, agar bisa bersama-sama melakukan langkah-langkah strategis dalam menyikapi persitiwa ini.

Sabtu 18 Juli besok, Dirjen Bimas Kristen bersama PGI akan mengadakan konferensi pers di Kantor PGI untuk memberikan penjelasan sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam.

Oditha menegaskan bahwa Umat Kristen di Indonesia sangat prihatin atas terjadinya penundaan sholat Ied dan pembakaran rumah ibadah di Tolikara. Justru terjadi pada saat hari raya Idul Fitri yg merupakan hari kemenangan bagi umat muslim.

“Atas nama pemerintah kami mohon maaf atas peristiwa yg melukai hati umat muslim yang adalah saudara-saudara kami sebangsa dan setanah air. Kami berharap agar masalah ini dpt diselesaikan sesuai dg peraturan perundangan yg berlaku,” tutupnya.

Wali Gereja Desak Investigasi Rusuh Tolikara

Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menilai ada ‘faktor x’ di belakang aksi pembakaran masjid yang terjadi di Kaburaga, Kabupaten Tolikara, Papua, sekira pukul 07.00 WIT hari ini. Menurut pihak KWI, untuk mengungkap kasus tersebut, semestinya segera dibentuk tim khusus yang akan melakukan investigasi.

“Ada faktor x atau faktor lain di balik kejadian itu. Makanya, perlu dibentuk tim khusus investigasi sesegera mungkin,” ujar Sekretaris Konferensi Wali Gereja Indonesia, Romo Benny Susetyo, Jumat (17/07/2015).

Romo Benny menjelaskan, jika ditelaah lebih dalam, selama ini tidak pernah ada konflik antar warga yang disebabkan masalah agama.

“Berdasarkan sejarah, tidak ada itu kerusuhan di Papua yang didasari persoalan agama. Apalagi sampai ada pembakaran tempat ibadah,” kata Romo Benny.

Ia menambahkan, tidak adanya konflik yang didasari masalah agama karena masyarakat Papua sangat memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal. “Local wisdom mereka sangat kuat,” ungkap Romo Benny.

Hal itu, lanjut Romo Benny, tercermin dari seringnya dilakukan diskusi atau kegiatan yang menyertakan warga dari berbagai agama. “Di sana itu sering diadakan diskusi lintas agama. Saya sering ke sana dan berdiskusi dengan para pemuka agama serta tokoh adat setempat,” kata dia.

Seperti diketahui sebelumnya, sejumlah massa melakukan penyerangan kepada warga yang tengah salat Id di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua sekira pukul 07.00 WIT hari ini. Tidak berhenti sampai di situ, massa tersebut juga membakar masjid dan sejumlah rumah yang berada dekatnya.

Alim Ulama Kutuk Pembakaran Masjid

Presidium Aliansi Alim Ulama Indonesia (AAUI) langsung bersikap terkait insiden pembakaran Masjid di Talikora Papua, apalagi saat dipakai Salat Idul Fitri. AAUI mendesak agar masalah ini segera diselesaikan.

Berikut ini pernyataan lengkap AAUI yang diterima Redaksi KRjogja.com:

PERNYATAAN SIKAP PRESIDIUM AAUI ATAS INSIDEN TOLIKARA PAPUA

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Kami Presidium Aliansi Alim Ulama Indonesia (AAUI), bersikap tegas mengenai Insiden Tolikara Papua:

1. Sangat menyesalkan yang sedalam-dalamnya dengan terjadinya Insiden Tolikara, yang meretakkan kerukunan Umat Beragama di Indonesia.
2. Mengutuk keras kelompok penyerang yang telah melanggar hukum dan prinsip-prinsip toleransi di negeri ini. Apalagi dengan semakin besarnya toleransi yang diberikan oleh kaum muslimin.
3. Mendesak aparat keamanan (Polri) segera menangkap para pelakunya dan memproses mereka secara hukum dengan secepat-cepatnya.
4. Menghimbau para tokoh muslim agar menenangkan dan mengontrol umat dan anggotanya untuk tidak melakukan tindakan pembalasan.
5. Mendesak majelis agama dan para tokoh kristen agar serius mendidik umatnya untuk menghargai hukum dan  toleransi yang diberikan oleh kaum muslimin yang mana mereka mayoritas mutlak di negeri ini.
6. Menghimbau semua pihak agar mewaspadai pihak-pihak tertentu yang bermain, mengadu domba antar umat beragama dan menjadikan sentimen agama sebagai komoditas politik, yang akan merusak stabilitas nasional.
7. Meminta Dewan Gereja Indonesia memanggil pengurus GIDI, minta pertanggung jawaban atas suratnya, memberi sangsi tegas terhadap oknum pengurus GIDI dan menyerahkan mereka ke pihak yang berwajib.
8. Menghimbau kepada tokoh-tokoh Islam, Kristen dan agama-agama lain, agar mengedepankan kerukunan antar umat beragama dan menjaga toleransi beragama, dalam rangka untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang beradab dan berkemanusiaan.

Demikian Pernyataan Sikap kami, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Mohon pesan ini disebarkan, untuk menjaga perdamaian dan kerukunan dalam beragama.

Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh.

Jakarta, 17 Juli 2015, Pukul 19:00 WIB.

Atas nama Presidium Aliansi Alim Ulama Indonesia (AAUI)
1. KH. Shohibul Faroji Azmatkhan. (Ketua Presidium)
2. Habib Muhsin Alattas.
3. KH. A. Cholil Ridwan
4. KH. Tengku Zulkarnain
5. Dr. Amirsyah Tambunan.
6. Dr. M.Zaitun Rasmin, Lc, MA
7. KH. Bakhtiar Nasir, Lc.MM
8. KH. Fahmi Salim, MA
9. Ust. Iin Sholihin
10. Dr. H. Manajer Nasution
11. Ust. Mifta Huda, S.Pd.I, MESy
12. H. Mochammad Yunus, M.Pd.I
13. Drs. H. Natsir Zubaidi
14. Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, SH.MH
15. Drs. H. Zainal Arifin Husain
16. Dr. Rahmat Abdurrahman, Lc.MA
17. Ust. Nur Hamim, S.Ag
18. KH. Ainul Yaqin
19. Dr. H. Muhammad Anda Hakim, SH
20. Brigjend Pol (Purn). KH. Anton Tabah
21. Dr. dr. H. Taufik Pasiak, MA
22. KH. Muhammad Faiz Syukran Makmun
23. KH. Auzai Mahfuzh
24. KH. Ahmad Shobri Lubis
25. KH. Buya Yahya
26. KH. Nur Bahruddin
27. Hj. Fahira Fahmi Idris, SE, MH
28. H. Muhammad Lutfi Hakim, SH, MH
29. Brigjend Pol (Purn) Dr. H. Supriyadi, SE.SH.MH
30. Drs. H. Nasrullah, ME
31. H. Abdullah Qamaruddin, Lc
32. Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc, M.Pd.I
33. KH. Nur Muhammad Iskandar, SQ

Dan akhirnya ,

Pagi Nanti Kemenag dan PGI Jelaskan Rusuh Tolikara

Kementerian Agama dan Pesekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) akan menggelar jumpa pers. Mereka akan memberikan keterangan perihal kejadian pembakaran rumah Ibadah di Tolikara,Papua.

“Besok jumpa pers jam 9 di PGI,” jelas Dirjen Bimas Kristen Othida R Hutabarat, Jumat (17/07/2015).

Othida menjelaskan, dirinya telah melakukan beberapa langkah terkait rusuh pembakaran rumah Ibadah di Tolikara, Papua, saat ibadah salat Ied, Jumat pagi tadi. Dia sudah menghubungi Ketua Sinode GIDI (Gereja Injili di Indonesia). Komunikasi kurang berlangsung lancar, karena lokasi Tolikara yang merupakan pedalaman Papua.

Tapi, dalam komunikasi tersebut, dia telah menyampaikan bahwa surat yang dikeluarkan Sinode GIDI Tolikara yang berujung pada pembakaran rumah ibadah tidak dapat dibenarkan, dengan alasan apapun.

Dia pun meminta Ketua Sinode GIDI untuk membuat kronologis peristiwa tersebut, mengapa bisa terjadi. “Dia akan kirim via email malam ini,” ujarnya. Agar, pihak Kemenag dapat mengetahui secara lengkap mengenai apa yang terjadi.

Setelah didapat kronologis peristiwa, pihak Kemenag akan menggelar jumpa pers bersama PGI, menyikapi peristiwa tersebut. Dalam kesempatan itu, Othida mengakui bahwa Sinode GIDI terdaftar di Kementerian Agama. Tapi, dalam website PGI mereka tidak terdaftar.

Sinode GIDI terdaftar sebagai anggota PGLII (Persekutuan Gereja dan Lembaga Injil Indonesia). Dalam daftar nama anggota PGLII 2011-2015, GIDI terdaftar dengan nomor induk 45/PII/Grj/1995 dengan nama Ketua Umum Pendeta Ferdinan Ayomi dan Sekretaris Umum Animban Alibi.

 

sumber : krjogja.com

Agenda JOGJa Pagi Ini (Sabtu 18 Juli 2015) : Garebeg Syawal

Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta

Hari ini Sabtu 18 Juli 2015 ada agenda menarik dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan digelarnya acara adat  Garebek/ Grebeg/ pawai. Sebuah acara yang menandakan berakhirnya bulan Ramadahan/puasa/pasa, dan sebagai tanda awal bulan syawal/sawal.

Upacara ini diselenggarakan rutin tiap tahunnya untuk merayakan selesainya masa puasa umat Islam.

Garebeg Syawal akan mengarak gunungan hasil bumi mulai dari Pagelaran Keraton – Alun-alun Utara – Masjid Gedhe. Prosesi upacara ini akan berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB.

so, bagi anda warga Jogja atau bagi anda yang sedang berada di wilayah Jogja  monggo silahkan berduyun-duyun ke sekitar Keraton Yogyakarta yach…selamat menyaksikan !!!